"Revenge and forgiveness are different things. Don't blame anyone"
__Ananda Gaby Fredella__
***
"Ada hari di mana kalian harus hidup tanpa gue ..." Raut berpikirnya membuat yang melihat merasakan seberapa kesepiannya Nanda. "Gue rasa ... kalian nggak mungkin kesepian. Karena kalian punya segalanya."
Kemudian perasaan sesak menderanya, meminta untuk dikeluarkan lewat air mata deras dan pekik kesakitan. Namun, tidak ada yang mengijinkan Nanda bersuara. Karena Rensa berkata, "Pergi."
Dan tidak ada yang menyanggahnya. "Makasih untuk setiap waktu yang kalian kasih." Maka dari itu Nanda sungguh pergi.
"Nanda kangen Bunda."
***
Nanda pergi, tiga minggu ini ia tidak singgah di rumahnya atau rumah Ayah lagi.
Si Fredella satu ini bahkan nyaris tidak ingin meninggalkan jejak diri. Buktinya, ponsel ia letakkan di rumah. Tidak ingin digangu saat sedang meditasi.
Ya, setelah mendengar kalimat yang mempertanyakan apakah ia masih waras, Nanda mulai merenungi diri. Ia gelisah lagi, bahkan merasa terintimidasi dengan tidak adanya suara.
Mimpi sederhana yang menggambarkan Nanda di dalam ruangan gelap seorang diri selalu kembali. Sederhana yang sangat buruk, bahkan ia sampai memekik karena mimpi itu setiap hari.
Sayangnya lagi, ketika ia membuka mata, ia masih seorang diri. Tidak ada yang menemani bahkan hanya untuk sekedar menyadarkannya dari sebuah mimpi.
Maka dari itu, gadis dengan nama tengah Gaby berada di sini. Di sebuah rumah milik seorang perempuan baik hati yang mau merawatnya.
Dia adalah seorang psikiater, yang bahkan hanya dua kali Nanda temui, menawarkan diri untuk menemani yang langsung Nanda terima tanpa pikir panjang karena ia sungguh butuh teman.
Beruntung adalah, wanita bernama Siseh Juliantari itu adalah ibu kandung Aditya Braham, yang ternyata sudah berpisah dengan suaminya beberapa tahun lalu.
Kalian tahu seberapa indah rumah ini? Nanda bisa merasakan kasih sayang Bunda lagi. Saat makan malam ada yang menyiapkan, diselipi guyonan dari Adit yang menggelitik.
"Temen-temen lo nyariin, Nan." Adit yang memulai pembicaraan saat suapan sarapan pertama hingga dalam mulutnya.
Nanda hanya tersenyum, sekali lagi seakan semuanya baik-baik saja.
"Katanya mantan lo mau tunangan sama temen sekelas lo." Adit bahkan tersedak karena Nanda membanting sendok di tangannya dengan wajah sangar.
"Adit, berangkat sekolah." Siseh dengan suara lembut milik Bunda yang mengingatkan anaknya untuk tidak melanjutkan perbincangan.
Aditya Abraham secepat kilat mencium pipi ibunya, ia melambaikan tangan kepada Nanda dengan senyum tiga jarinya. "Lo mau nggak jadi pacar gue?" Hampir setiap saat Adit katakan kalau ada kesempatan. Namun, seperti biasa Nanda hanya tersenyum.
"Nanda, Ibu mau bicara sama kamu setelah makan, ya." Siseh mengusap kepala si Fredella.
Nanda hanya mengangguk, sekali lagi dengan senyum ketika tangannya bergetar karena emosi.
Seperti itulah semuanya mendadak hening sampai Nanda mengikuti Siseh ke ruang kerjanya yang beraroma terapi.
"Berapa hari Nanda di sini?" Siseh mengeluarkan buku gambar dari lacinya.
"Hampir satu bulan, Bu." Nanda takut diusir, jangan sekarang. Atau ia akan merasa sendirian.
"Apa sudah cukup waktu yang kamu terima untuk menenangkan diri?" Siseh menatap Nanda yang sekarang malah membuang muka.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Novela JuvenilBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
