"Saat lo nggak terima dengan hukumannya, tapi lo seneng hadiahnya, itu nggak adil, Aldebara."
__Ananda Gaby Fredella__
***
Bara mengangguk, ia tahu tidak ada yang gratis di dunia ini.
"Gue yang lebih indah adalah hukuman, lo jangan seneng. Gue gini bukan karena mau, Al." Gadis Fredella itu menggeleng untuk menegaskan.
"Gue dihukum untuk selalu inget lo. Okay, gue terima."
***
Karena Ananda Gaby Fredella sudah berjanji akan menjadi gadis jahat untuk pacarnya. Maka dari itu, pagi ini ia berada di ruang Bimbingan Konseling, mungkin.
Bu Nanik yang sedang menuliskan sesuatu di buku tebalnya, catatan dosa yang tempo hari sengaja Nanda tumpahkan tinta. Hari ini, guru satu itu menulisnya sendiri, takut Nanda melakukan seni lagi.
"Kenapa kamu melakukan itu?"
Untuk dua minggu setelah perubahannya saja, Nanda sudah berulang kali mendengar pertanyaan ini, hingga bosan merayapi relung hatinya, ternyata jadi nakal sedikit membosankan atau Bu Nanik yang kurang fariasi?
"Bukan salah saya, mereka yang berantem, Bu." Ada lima kali jawaban ini dalam seminggu Bu Nanik dengar, itu sudah pasti, karena Nanda menghitungnya dengan benar.
"Penyebab mereka berantem itu kamu, Nanda." Lihat, awal masuk ruangan ini, guru itu bahkan menatapnya tidak kenal, sekarang malah sudah hapal sangat.
"Saya bahkan nggak tahu mereka berantem, Bu." Nanda bahkan sempat terkejut kali ini, ia tidak merencanakan apa-apa, tetap dipanggil ke ruangan ini.
Guru satu itu menghela napas, ia bingung harus berbicara apa. "Nanda, saya peringatkan kamu, kamu mungkin selamat dari dikeluarkan, tetapi tidak dengan tinggal kelas."
"Saya nggak tahu apa-apa, Bu. Kali ini saya beneran nggak tahu."
"Keluar, saya selesai dengan kamu."
Nanda tersenyum saat melewati mading, di sana ada fotonya, beserta keterangan reputasi terburuk bulan ini. Ia terkenal sekarang.
Saat masuk ke kelas tepat beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi—well, pagi-pagi sudah masuk ruang Bimbingan Konseling—pemandangan yang indah terlihat.
Melatih hati untuk semakin kuat, dengan maraton penuh alarm kebakaran.
Aldebara Geril W Adelheid, di sampingnya melekat bagai perangko seorang gadis yang Nanda tidak ijinkan Author untuk mengucapkan namanya saat ini.
Aldebara membukakan botol minum untuk cewek itu, saat Nanda berjalan ke mejanya. Lirikan mata mereka terpaku beberapa saat hingga—entah apa yang membuat—cewek di samping Bara tersedak, Bara mengalihkan perhatiannya, mengusap pundak cewek itu hingga Nanda memutar bola mata indahnya serampangan.
'Kamu udah makan', kira-kira demikian kalimat yang terukir di bibir Bara untuk Nanda tanpa suara.
Nanda menarik napas seketika, ia memalingkan wajah, menolak percaya saat ini bahwa Bara masih peduli padanya, meski nyatanya Nanda tahu bahwa peduli Bara untuknya tidak pernah berkurang.
Mendadak, Fredella satu ini berdiri di atas bangkunya.
"Yang berani bolos pelajaran PKN, gue traktir di kantin, sekarang." Apa yang merasukinya?
Saat semua bersorak menuju kantin, gadis cantik dengan bulu mata super lentik itu berjalan berlawan arah.
Seseorang menarik tangan kanannya, hingga Nanda hampir terjerembap dalam pelukan si Miliknya.
"Berhenti buat masalah, Nanda." Karena cepat atau lambat, keluarganya akan tahu kelakuan buruk Nanda. Bara hanya takut mereka gagal dapat restu.
"Mantan, nggak berhak ngatur hidup gue."
"Kita nggak pernah putus."
"Setidaknya itu yang orang tahu, Al."
Ia berlalu begitu saja setelah mendorong Bara hingga mundur beberapa langkah.
Ia mengetuk pintu sebuah ruangan yang baru beberapa menit lalu ia tinggalkan. Saat Bu Nanik dengan kacamata tebalnya, beserta kerutan di keningnya menatap Nanda, gadis itu tersenyum lebar sekali.
"Ada apa?"
"Saya bikin masalah, Bu. Saya penyebab teman-teman kelas saya bolos pelajaran PKN." Cantik sekali, bahkan Nanik tidak percaya Nanda bisa senakal itu.
"Jangan bercanda, kalian memang jam kosong, Pak Munajab tidak hadir hari ini." Kembali ia tekuni komputer di hadapannya. "Bukannya tadi Pak Munajab bilangnya sama kamu? Sebenarnya, apa tujuan kamu?"
Agar dihukum! Melayang, kalimat yang Nanda ingin ucapkan tertelan saat mulutnya tersumpal tangan kokoh Bara.
"Dia iseng, Bu. Permisi."
Kemudian, setelah cowok itu menarik Nanda keluar dari ruang BK, ia memanggul gadisnya seenak jidat. Sangat beruntung koridor ruang Bimbingan Konseling jarang dilewati, nyaris angker andai saja Bu Nanik tidak lebih seram dari makhluk halus.
Hingga saat di koridor sepi Nanda diturunkan, ia terengah, kepala dan perutnya terasa berputar.
Bara menopang Nanda yang berusaha mendelik ke arahnya, lucunya dengan mata tidak fokus.
"Apa-apaan!"
"Gue rasa semalem, kita baik-baik aja."
"Kita emang baik-baik aja. Kan lo terima hukuman dari gue." Ananda Gaby Fredella menyeringai kemudian. "Asik ya, Al. Gue jadian sama cowok lain lo nggak bisa marah, lho."
"Itu keterlaluan, Nanda." Bara mengerutkan kening tidak suka.
Namun, Bara kembali tertegun saat Nanda memberinya hadiah seperti tempo hari. Layaknya waktu itu, Bara mematung. Hanya bola matanya yang berani bergerak.
"Saat lo nggak terima dengan hukumannya, tapi lo seneng hadiahnya, itu nggak adil, Aldebara."
***
Nanda yang menyeringai tadi di sekolah, tiba di rumah. Dengan degup memburu ia membanting tas ke lantai kamarnya.
"Kamu! Kamu!! Kamu!!!" Lalu lalang ingatan soal Bara yang selalu lembut memanggil cewek penyakitan itu.
"Lo bahkan cuma sekali ngomong gitu ke gue!!!" Setelah itu, ia pukul berulang kali samsak di hadapannya.
"Lo! Bahkan! Nggak pernah! Gandeng gue!!!" Samsak itu bisa saja hancur jika Nanda seorang Ninja modelan Naruto yang punya jutsu tertentu.
"Bahkan! Jalan! Di samping gue! Lo nggak pernah!!!" Bagaimana Kalau Nanda adalah salah satu bagian Negara Api yang siap menyerang? Bisa hilang ketentraman dunia.
"BANGKE!!!" Besok, suara Nanda pasti serak-serak basah, nyaris hilang. Sudah kapital masih ada tanda seru tiga. Bisa dibayangkan seberapa kerasnya?
Maaf, Author tidak berani melanjutkan kalimat receh saat Nanda marah. Karena tatapannya super duper seperti laser, hingga saya percaya ia sebenarnya Mutan X-Men yang hilang.
***
Sorry for typo, maaf ngecewain, maaf lama update.
Terima kasih atas segala bentuk dukungan yang kalian berikan kepada Laju19
Jangan lupa vote, commnet, and follow akun
Instagram: laju19someone
Wattpad: laju19
Revisi/Rasa Bener-bener baru/12-22-2019/06:47
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTERO (Completed)
Teen FictionBest cover @prlstuvwxyz. Ini cerita lama rasa baru, alurnya sama tapi ada bedanya. Baca berita noh untuk tahu kelengkapannya. "Woi!" Nanda berusaha mengejar langkah lebar cowok tinggi yang sudah jauh melangkah di hadapannya. Tidak ada tanda-tanda c...
