Qonita saat ini tengah berdiri didepan gerbang rumah mewah.
Dan tentu rumah itu adalah kediaman orang tua Aisyah.
Tampak tidak ada orang disana. Bahkan gerbangnyapun terbuka sangat lebar dan pos keamanannya terlihat kosong.
Apa tidak ada orang?
"Pak satpamnya mana ya kak? biasanya selalu ada disana."
Tunjuk Aisyah.
"Kita masuk aja kak."
Tambahnya lagi.
Qonita mengangguk mengiyakan Aisyah. Mereka melangkah melewati pintu gerbang yang tidak dijaga.
Qonita dan Aisyah berdiri didepan pintu rumah. Sama seperti gerbang tadi, pintu rumah Aisyahpun terbuka lebar. Apa benar-benar tidak ada orang.?
"Assalamualaikum."
Suara Aisyah terdengar lucu ditelinga Qonita saat mengucapkan salam. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Aisyah bahkan mengulang salam sampai lima kali.
Selang beberapa menit, datang seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.
"Non Aisyah!"
Pekik wanita itu lalu berlari memeluk Aisyah dan menangis kencang.
"Bibi kenapa nangis?"
Tanya Aisyah polos lalu menghapus air mata wanita yang telah berumur itu.
Wanita yang biasa dipanggil Bi Inah itu masih tetap menangis. Ia sama sekali tidak menghiraukan posisinya yang terduduk dilantai.
"Non pergi kemana aja? Bapak khawatir nyariin non Aisyah."
Ucap Bi Inah setelah tenang dari tangisnya.
"Maafkan Aisyah Bi."
Ucap gadis kecil itu dengan wajah menyesal.
Bi Inah mengangguk cepat lalu mengusap sisa air matanya.
"Iya Non, bibi telpon bapak dulu ya.
Bapak lagi nyariin non Aisyah, bapak khawatir banget gara-gara non tiba-tiba ngilang dari rumah."
Aisyah mengangguk patuh, jelas sekali ia sangat menyesal atas perbuatannya. Walau ia masih sangat kecil.
Wanita tua itu melangkah pergi meninggalkan mereka. Ia menelpon ayah Aisyah dan mengabarkan jika gadis kecil itu telah kembali.
"Bapak bentar lagi pulang non, non Aisyah makan dulu ya? Bibi siapin makanan dulu."
"Makasih ya mbak udah nganterin non Aisyah pulang. Bibi permisi dulu mau nyiapin makanan untuk mbak dan non Aisyah." Tambah Bi Inah.
"Tidak usah, saya akan langsung pulang..."
"Kakak makan dulu sama Aisyah, Aisyah lapal."
Gadis kecil itu mengelus perutnya yang mulai keroncongan. Karena sejak tadi pagi ia belum makan apapun karena marah pada ayahnya.
"Baiklah."
Aisyah menarik tangan Qonita menuju ruang makan. Disana sudah ada Bi Inah yang tengah menyiapkan makanan untuk mereka.
"Ayo makan mbak, nggak usah sungkan."
Qonita mengangguk menjawab ucapan wanita tua itu. Ia duduk di salah satu kursi yang ada disana. Jika Qonita biasanya saat makan selalu di isi dengan keheningan, berbeda sekali saat ini. Tidak hanya dentingan garpu dan sendok yang terdengar. Ocehan Aisyahpun memenuhi ruangan makan besar itu.
Qonita tersenyum mendengar cerita Aisyah. Gadis kecil cadel itu sangat lucu dimatanya, mengingatkan ia dengan sahabatnya yang sangat suka berbicara, Zahra.
Qonita tersenyum lemah, ia sangat merindukan sahabat cerewetnya itu.
"Duh, non. Kalau makan jangan sambil bicara nanti dimarah bapak loh!"
Tegur Bi Inah.
KAMU SEDANG MEMBACA
CAHAYA
SpiritualApakah aku bisa kembali? Akankah ada yang bisa mengembalikan semuanya seperti semula? ~Alqonita Fatin~ Serahkan semua padaNya ~.....~
