30

136 23 1
                                        

Qonita berjalan cepat di lorong rumah sakit. Di sana sudah sangat ramai seperti biasanya. Gadis itu melangkah menuju ruang Fatimah dengan seragam sekolah yang masih melekat ditubuhnya. Kedua sudut bibirnya terangkat keatas dengan sesuatu yang indah ditangannya.

Berbicara tentang sekolah. Semua teman sekelasnya termasuk guru dikejutkan dengan kedatangan Qonita yang kembali setelah menghilang lebih dari dua bulan. Bukan hanya kedatangannya ke sekolah yang menjadi sorotan banyak orang tapi yang lebih menghebohkan adalah Qonita yang merubah penampilannya. Gadis itu memutuskan untuk berhijab.

Banyak yang menanyakan kemana saja ia selama ini. Namun, Qonita hanya membalasnya dengan tersenyum.

Orang-orang mengatakan jika perubahan Qonita sangat signifikan. Tapi jika dilihat dari keseharian Qonita, gaya berbusana gadis itu tergolong tidak terbuka. Baju lengan panjang dan rok sampai mata kaki selalu  digunakannya saat di sekolah. Meskipun gadis itu tidak menggunakan jerudung.

Saat di luarpun Qonita berusaha sesopan mungkin. Walaupun pakaian yang digunakannya bukanlah pakaian untuk seorang muslimah.

Banyak yang memuji Qonita saat ia menggunakan hijab. Terlebih ia sudah mau berbicara dengan teman lainnya. Tidak hanya berbicara, terkadang Qonita juga bergurau dan tertawa lepas saat melihat tingkah lucu teman sekelasnya. Rasanya sungguh menyenangkan.

Meskipun banyak yang mendukungnya tapi masih ada saja yang berkomentar pedas karena penampilannya saat ini.

Jelek.
Lebih bagus yang dulu.
Iih, kok tampilannya cupu banget.
Haha, kayak ibu-ibu kajian.
Cari sensasi kali.

Banyak yang berbisik tidak suka dibelakangnya. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang tidak mengenal Qonita dekat. Mereka hanya tau Qonita itu anak orang kaya yang dingin dan cuek dulunya. Namun, sekarang sudah berubah tapi tetap saja menjadi sorotan banyak orang.

Qonita hanya diam. Tidak ingin menanggapi. Baginya tidak akan ada manfaatnya jika ia mendengarkan perkataan orang lain.

Tidak apa-apa buruk dimata manusia, asal baik di mata Allah. Karena Allah lah sebaik-baiknya penilai. Lagi pula keluarga dan sahabatnya sangat mendukung keputusaan yang ia ambil. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Qonita bahagia.

Dan berbicara tentang wanita kedua yang sangat Qonita sayangi. Sudah dua minggu lebih Fatimah terbaring di ranjang rumah sakit. Keadaannya masih tidak stabil karena wanita itu sempat kejang dan kritis. Namun, Fatimah berhasil melawan maut malam itu.

Qonita membuka handle pintu. Di tangannya ia menggenggam sebuket bunga tulip yang sangat cantik untuk Fatimah. Wanita itu sangat menyukai bunga tulip berwarna putih.

Qonita melangkah menuju Fatimah. Ia meletakkan buket bunga itu di meja dekat ranjang lalu mengambil posisi duduk di kursi yang ada di sebelahnya.

Senyum Qonita mengembang melihat wajah tenang Fatimah.

"Assalamualaikum Umma."
Qonita berbisik tepat ditelinga Fatimah.

Untuk kesekian kalinya dalam beberapa minggu ini kata umma (ibu) selalu Qonita ucapkan. Panggilan yang selalu ditunggu-tunggu Fatimah sejak tujuh tahun terakhir ini.

Qonita sangat menyukai panggilan itu (Umma). Mengingatkannya akan sesuatu. Awalnya Qonita ingin memanggil Fatimah dengan sebutan Mama. Namun urung dilakukannya.

Qonita  memutuskan untuk memanggil Fatimah dengan sebutan 'Umma' saja. Karena suatu sore menjelang dirinya menjenguk Fatimah seperti biasa Qonita membaca sebuah buku. Buku itu menceritakan tentang kisah seorang gadis mualaf yang sangat mencintai ummanya.

CAHAYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang