03 || she betted, she lost, she cute

5.4K 557 15
                                        

0 3

s h e    b e t t e d ,   s h e   l o s t ,
s h e   c u t e

she is delightfully chaotic; a beautiful mess. loving her is a splendid adventure

✿ㅡ✿

SM's practice room
rebellion phase, 2014


KEPALA JONGIN TERPUTAR ke arahku tepat sedetik setelah suara pintu dibanting terbuka menggema di udara. Kami sudah memiliki janji untuk bertemu di ruang latihan SM, jadi aku tahu kalau bukan kehadirankulah yang mengejutkannya, melainkan penampilanku sekarang. Hanya dengan hoodie abu-abu yang cukup besar untuk menutupi celana pendek yang kukenakan, kepalaku terbungkus rapat dibawah tudungnya.

Sebelum ia sadar bahwa ada sesuatu yang aneh, aku buru-buru menyeberangi ruangan dan melemparkan diriku ke dalam pelukannya.

"I freaking lost a bet to Sulli! I swear to God I wouldn't have done such stupid hair style if I didn't!" Meskipun aku tahu bahwa suaraku akan teredam oleh jaket denimnya, aku tetap membela diri, takut ia akan salah paham dan ketakutan setelah melihat rambutku.

"Um, it's nice to finally see youㅡafter two weeksㅡtoo, baby." Ia terkekeh, tapi tetap memelukku balik. "Kalian taruhan atas apa?"

"Ugh, some stupid random things that I now absolutely regretted." Aku menggeram.

Dadanya bergetar saat sebuah suara tawa terdengar. "Baiklah, sekarang hair style apa yang sedang kau bicarakan?"

Bisa kurasakan ia berusaha menarik diri untuk melihatku, tapi aku tidak membiarkan genggamanku pada pinggangnya mengendur bahkan sedikitpun.

"Soojung, talk to me, or at least let me see."

Aku menempelkan keningku di dadanya, mengambil kesempatan untuk menghirup aromanya dalam-dalam sekalian menjadikannya sebagai penyemangat diri. "Berjanjilah padaku kau tidak akan panik! Meskipun itu sangat normal jika kau panik, tapi, aku sudah cukup panik, Jongin, pokoknya jangan buat aku tambah panik lagi, oke? Lagipula ini hanya untuk sebulan."

Kini napasnya menerpa puncak kepalaku saat ia terkekeh lagi. "Everything's gonna be just fine, baby, now let me take a peak to my favorite girl."

Aku mengambil satu langkah ke belakang, kepala menunduk, kedua tangan menarik tali hoodieku seketat mungkin; takut helai rambutku bakal keluar dari sana.

"Jung Soojung?"

Senyumannya menyambutku saat akhirnya aku mendongak. Mengambil satu napas terakhir, aku menarik kepala hoodieku ke belakang dan rambut merah menyala berjatuh tak beraturan di kedua bahuku. Untuk beberapa alasan yang aneh aku tidak bisa mengalihkan tatapanku dari wajahnya.

Dunia tiba-tiba terasa melambat dan aku bisa melihat saat kedua matanya semakin melebar seiring dengan waktu yang berlalu. Bibirnya terpisah saat suara terkesiap lolos dari sana, membuat nyaliku ciut.

Aku baru saja hendak lari ngibrit keluar dari gedung ini saat tiba-tiba suara tawa Jongin terdengar. Salah satu tangannya kemudian terangkat untuk menutupi suara yang sayangnya sudah keluar.

"Yah!" Pukulanku mendarat ke bahunya. "What are you laughing at, you jerk!"

"No, no, no, baby, no," Ia menangkap tanganku dengan mudah, tapi buru-buru aku menarik diri dan berdiri sejauh mungkin darinya. Aku sedang berusaha menarik tudung hoodieku keatas lagi saat tiba-tiba ia menahan tanganku dan membawanya ke dadanya. "Kau mau dengar pendapatku?"

"Tentang rambutku?"

Ia memutar bola matanya, "Tidak, tentang fakta bahwa kau sedang memakai hoodie favoritku sekarang. Tentu, Jung-ah, tentang rambutmu, apalagi?"

Aku menunduk malu.

Suara geraman lolos dari dalam tenggorokannya. "Bisakah kau berhenti melakukan itu?"

Masih dilanda oleh rasa panik, aku buru-buru mendongak dan menemukan kedua matanya sedang menatapku dalam cara yang paling aneh. "Apa?"

"Terlihat imut dan seksi disaat yang sama? Aku bisa jatuh cinta berkali-kali padamu jika begini caranya."

Tatapan dan kata-katanya terlalu banyak untukku cerna, aku kewalahan. Kedua pipiku yang tiba-tiba membara setiap kali ia berada di sekitar bisa mengeluarkan api betulan jika ia terus-menerus memujiku seperti itu.

Maka dengan sisa tenaga yang kumiliki, kupukul bahunya sekali lagi.

"Tidak, serius, maksudku, meskipun ini akan terdengar gila, tapi kurasa aku menyukainya."

Aku yakin aku bisa melihat pantulan sinar seterang matahari di kedua bola matanya sesaat setelah ia mengatakan itu, seolah-olah suasana hatiku yang terang benderang bisa kasat di mata manusia.

"Sungguh?"

"Kau bercanda?" Suara jeritan lolos dari tenggorokanku saat Jongin mengangkat dan memutar tubuhku di udara. "Love, love, love, love, love, love it!" Ia mencicit.

Kurasa aku nyengir terlalu lebar hingga pegal rasanya. Mengembalikan tubuhku ke bumi, ia mundur beberapa langkah sembari menarik ponselnya keluar dari dalam saku celananya.

"Sekarang berdirilah disana dan berpose untukku."

Aku tertawa garing. "Oh, jangan harap."

Menahan ponselnya menghadapku, ia mengintip melalui bulu matanya dan merengek. "Ayolah, aku butuh wallpaper baru. Black-haired Soojung sudah basi."

Refleks, aku mengangkat kedua tanganku ke pipi untuk memastikan bahwa pipiku tidak mengeluarkan api sungguhan. Itu gila betapa naturalnya ia dalam membuatku tersipu.

Aku menyisir rambut baruku ke belakang, berusaha menunjukkan bahwa kata-katanya sama sekali tidak mempengaruhiku dengan berdiri tegak. "Tidak."

"Oh, tentu saja," ia menyela. Aku menatapnya yang kini sedang sibuk mengutak-atik sesuatu di layar ponselnya dan berjalan mendekat, kemudian menggeleng-geleng saat menemukan apa yang ada disana. "Aku lupa kalau kau tidak perlu berpose untuk terlihat cantik di depan kamera."

Ia menyodorkan layar ponselnya ke depan wajahku dengan bangga, dan seorang wanita berambut merah terang dengan hoodie yang terlalu besar bagi tubuh mungilnya menyambutku sambil tersenyum malu. Dan berani sumpah, meskipun kini kami sedang berdiri di bawah remang-remang, aku bisa melihat bagaimana darah mengalir di balik kedua pipinya.

"Red-haired and flustered Soojung," Jongin menarik ponselnya dan menatap layarnya sekali lagi, matanya berbinar-binar oleh rasa takjub. "Told you the color red looks good on you."[]

24 hoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang