13 || continuous affection

3K 260 7
                                        

1 3

c o n t i n u o u s   a f f e c t i o n

the ideal friendship is to feel as one while remaining two

✿ㅡ✿

soojung's apartment
early 2015

"SOOJUNG," AKU MENDONGAKKAN kepala, hanya untuk menemukan Jongin sedang melipat kedua tangannya di atas meja, tubuh condong ke depan, ekspresi tak terbaca.

Aku merasa bersalah karna harus mengabaikannya seperti ini padahal kami sudah jarang bertemu. Tapi, mau bagaimana lagi, aku sudah memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah dan harus bertanggung jawab dengan keputusan yang telah kubuat. Buku-buku yang terbuka bertebaran diatas meja di antara kami, besok aku memiliki tes dan Jongin sudah berjanji untuk membantuku belajar tapi ia malah mengganggu konsentrasiku sejak tadi.

Tatapanku kembali terjatuh pada buku tebal filsafat yang daritadi sedang kubaca. Stabiloku menari-nari diatasnya saat menemukan kalimat yang penting.

"Andai kita bisa bertukar sehari." Lanjutnya, tahu kalau aku sedang menunggu meski tidak terlihat begitu tertarik.

Aku sudah tidak tahu seperti apa rupaku setelah belajar seharian penuh. Rambut panjangku yang terjatuh ke depan wajah pasti kusut, jemariku tidak berhenti menggaruk kepala sejak tadi. Bukan gatal, tapi pusing. Kantong mataku juga mungkin sudah mulai nampak sekarang. Bukan penampilan yang harus kau tunjukkan saat sedang berada di depan seorang pria, tapi aku tak peduli. Ini hanya Jongin.

"Bertukar bagaimana?" Balasku, masih enggan untuk meninggalkan tatapan dari buku.

"Bertukar, seperti aku jadi kau dan kau jadi aku." Ia menimbang-nimbang, "Sejam saja juga tidak masalah."

Akhirnya, aku menyerah dan menjatuhkan stabiloku diatas meja. Kupijat kedua pelipisku saat aku kembali mendongak untuk menatap matanya.

"Kenapa tiba-tiba berpikir begitu?"

Jongin suka sekali menyuarakan apapun itu yang ada di kepalanya, bahkan pernah waktu itu ia membangunkanku pada jam dua pagi hanya untuk membicarakan tentang alien. Sejujurnya, aku juga tidak jauh beda. Jadi jangan kaget jika aku meladeni celotehannya seolah kami sedang membahas isu kelaparan dunia. Mungkin karna itulah kami bersahabat, cara berpikir kami sama.

Senyumnya merekah saat perhatianku kini tertuju padanya. "Karna aku ingin kau melihat dirimu dengan cara yang sama seperti aku melihatmu."

Alisku menyatu.

"Aku ingin kau melihat seberapa cantik dirimu dari mataku, bahkan saat sedang stres begini saja kau masih berhasil untuk terlihat cantik. Sejam saja, tidak masalah. Toh, kau juga bakal kewalahan dengan betapa cantiknya dirimu jika kita bertukar terlalu lama."

Jongin sudah gila. Padahal baru kujelaskan seberapa berantakannya aku sekarang.

Alhasil, aku menatapnya dari balik poniku, menelaah ekspresinya, mencoba mencari tahu apakah itu sarkasme atau bukan. Pasalnya Jongin tidak pernah keberatan untuk mengatakan bahwa aku terlihat seperti singa setiap kali aku bangun tidur. Meskipun aku akan melemparinya dengan bantal, tapi seharusnya dia juga tidak keberatan untuk melakukan hal yang sama sekarang.

Setelah menunggu beberapa detik dan gagal menemukan apa yang sedang kucari, aku mulai memikirkan sebuah balasan yang pantas. Pada saat yang sama berusaha menyembunyikan fakta bahwa hatiku bergetar dengan sangat kuat sekarang.

"Apakah itu yang akan kau katakan untuk merayu wanita?" Aku mendengus dan melipat kedua tangan diatas meja, mengikutinya. "Aku bukan bahan percobaan, Jongin."

24 hoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang