27 || her non-exixtent worries

2.7K 276 36
                                        

2 7

h e r   n o n - e x i s t e n t
w o r r i e s

i don't love you for what you are, because that will change, it always does; i love you for who you are, because that's your essence and it's who you will be when we are old and gray and still making out

✿ㅡ✿

the jung's backyard; under the tree
early summer, 2015

"JONGIN," SOOJUNG MENYIKUT lenganku tapi ia sedang menatap langit saat aku menoleh ke arahnya.

"Mm?"

Aku selalu berpikir bahwa musim panas sangat cocok dengannya, tak peduli sudah seberapa sering ia mengatakan bahwa ia jauh lebih menyukai musim dingin daripada musim yang lain. Sinar matahari akan memuji warna bola matanya saat mereka bertemu, kulitnya akan mengilap, dan aku akan secara tak sengaja menemukan freckless di sekitar hidungnya yang tak pernah kutahu itu ada.

"Apakah kau masih akan menyukaiku, sepuluh tahun dari sekarang?" Suaranya seringan bulu.

Bertahun-tahun aku mengenalnya, seharusnya aku sudah terbiasa dengan kecantikan yang ia miliki, tapi selalu saja ada kecantikan lain dari dirinya yang kuungkap setiap kali aku mendaratkan tatapanku padanya. Wanita yang cantik itu banyak, tapi hanya dia yang tahu bagaimana cara mengenakannya.

Tak kunjung mendapatkan jawaban, ia akhirnya menoleh untuk menatap mataku.

Kedua bola mata itu di bawah sinar matahari adalah kelemahanku. Tidak akan lucu jika aku pingsan di hari yang cerah, kan? Maka kuputuskan untuk menyelamatkan diriku dengan mengalihkan tatapan ke langit sebelum kemudian berkata, "Memang apa bedanya antara sekarang dengan sepuluh tahun lagi?"

Aku bisa mendengar suara sepatu bergesekan dengan rumput saat ia melipat kedua kakinya ke atas. "Teman-teman Jessica mengatakan bahwa priaㅡyang sudah berusia tiga puluh tahun-an keatasㅡakan lebih tertarik dengan wanita yang lebih muda."

Kali ini aku tidak akan bisa jika tidak menatap matanya, hanya ingin memastikan bahwa ia bersungguh-sungguh saja, tapi kutemukan diriku sendiri tidak mampu berpaling saat melihat kekhawatiran di sana.

Maka aku tersenyum, menganggap kekhawatirannya sia-sia. "Aku menyukaimu bukan karna kau cantik, Soojung. Meskipun seluruh dunia akan setuju saat aku mengatakan bahwa kau cantik. Aku menyukaimu bukan karna kau pandai bernyanyi, meskipun aku akan secara tak sadar menggumamkan lagu yang sama dengan yang kau nyanyikan saat kau mewarnai kukumu. Aku menyukaimu bukan karna kulitmu indah, meskipun aku tahu kau tidak bakal keriput juga bahkan setelah menginjak usia tiga puluh."

Aku menyentuh hidungnya dengan telunjuk saat kulihat wajahnya mulai merona. "Aku menyukaimu karna apa yang ada di dalam dirimu; karna disaat orang lain berlomba-lomba mengikuti tren, kau tidak akan terpengaruh dan akan tetap mempertahankan jati dirimu; karna disaat orang lain ingin disukai, kau hanya ingin agar orang-orang jujur padamu; karna kau tidak pernah melakukan sesuatu untuk menyenangkan orang lain; karna jiwamu kuno, hanya kau satu-satunya wanita kelahiran sembilan puluh-an yang masih suka mengirim surat dan hanya memiliki lagu yang dikeluarkan pada tahun 1920-1960 di playlistnya; karna Jung Soojung adalah Jung Soojung. Jika entah bagaimana kau sudah bukan Jung Soojung lagi sepuluh tahun dari sekarang, beritahu aku."

Tatapannya terjatuh ke bawah saat ia menggigit bibirnya, pada detik itulah kutahu bahwa masih ada yang mengganggu pikirannya. Itu aneh bagaimana wanita sesempurna dirinya bisa merasa tidak percaya diri.

24 hoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang