05 || dumb and dumber

4.9K 426 3
                                        

0 5

d u m b   a n d   d u m b e r

anyone can be passionate,
but it takes real lovers to be silly

✿ㅡ✿

some random janitor room in hongkong
MAMA 2015

SUARA JERITANKU MENGGEMA di seluruh lorong saat tiba-tiba seseorang memeluk pinggangku dari belakang dan mengangkatku ke udara.

"Jongin!" Aku mendesis, sementara kedua tanganku menggapai lengannya, berpegangan sekaligus memintanya untuk menurunkanku sebelum ada orang yang melihat.

Mengerti maksudku, ia menempatkanku kembali keatas tanah dan seketika itu juga aku berbalik untuk mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke bahunya.

"I'll fucking kill you, you jerk!"

Alih-alih merasa bersalah, suara tawanya malah bersenandung melatar belakangi omelanku. Baru setelah kami mendengar suara percakapan dari jauhlah, Jongin menangkap tanganku dan menarikku bersamanya.

"Maaf membuatmu terkejut. Ikut aku," ia berbisik, tangannya menarik buka sebuah pintu yang sebelumnya tidak kulihat ada disana dan menuntunku masuk.

Itu merupakan sebuah kompartmen kecil, seperti mini walk-in closet atau lebih tepatnya janitor room, karna aku dapat melihat setumpuk alat kebersihan yang terletak tidak jauh di sudut.

Aku berusaha mengimbangi kecepatannya saat ia ikut masuk dan menutup pintu di depan wajah kami. Tidak ingin gaunku bersentuhan dengan lantai dan dinding yang memerangkap kami, aku berdiri sedikit terlalu dekat di sebelahnya, membuat tanganku yang lain secara tidak sengaja terjalin di keliman jasnya; takut aku bakal kehilangan keseimbangan dari minimnya ruangan yang tersedia.

"Terkejut, katamu? Kau mengangkatku secara tiba-tiba!" Aku berteriak mendesis, "Menurutmu bagaimana seharusnya aku bereaksi?"

Ia nyengir, jari telunjuknya terangkat ke depan mulutku saat suara percakapan tadi mendekat, memberiku aba-aba untuk tidak berisik.

Aku menangkap tangannya namun secara natural tidak melepaskannya pergi, sementara dua bayangan manusiaㅡyang tampak dari sela pintuㅡmelewati kami tanpa berhenti melakukan diskusi.

"You're fucking dead, Jongin."

"And you're fucking gorgeous." Sebelum kedua pipiku sempat melakukan kebiasaannya, ia melanjutkan, "Stylistmu melakukan kerjanya dengan baik hari ini."

Menahan tawa, aku pura-pura menggeram dan mencubit perutnya sebagai balasan. Kami sama-sama membeku saat gerakanku yang tiba-tiba membuat sikut Jongin secara tidak sengaja menabrak pintu dan menimbulkan suara berdebum pelan.

Kedua mataku membesar sementara mulutku tertutup rapat. Ekpresi panik juga terpantul di wajahnya saat aku menggenggam tangan Jongin sebagai perlindungan.

Tidak ada yang bisa tahu hubungan kami sekarang. Bukan hanya karena kami tidak ingin menimbulkan rumor untuk publik, bayangkan betapa memalukannya jika siapapun menemukan kami berada disini. Sudah kubilang padanya bahwa berada di satu acara yang sama akan sulit.

Tapi ia tetap bersikeras untuk datang dengan alasan bersembunyi-sembunyi pasti akan seru.

Aku membuang napas yang sedari tadi kutahan dan meraih kenop pintu, hendak keluar setelah percakapan dua orang tadi tidak terdengar lagi.

24 hoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang