Detik

331 11 0
                                        

3 minggu kemudian setelah kecelakaan......

Vanila memejamkan mata, berdoa sepenuhnya didalam hati. Rayhand membolak-balik buku catatan harian Dea.

"Lu ngapain sih Ray? Kuker banget" gerutu Vanila.

"Ssttt..... ini namanya detektif sedang bekerja" ucap Rayhand sambil membolak-balikan halaman buku.

"Cih, gayanya detektif banget padahal mah detektif KW alias palsu" umpat Vanila. Nah, ketemu anjir akhirnya yes.....yesss"

"Berisik anjir lu, rumah sakit woy jangan berisik napa" gerutu Vanila.

"Bodo, yang penting gue dah ketemu hepi hepi yey...yey....yey" girang Rayhand.

"Lu nemuin apaan?" Tanya Vanila, Rayhand tak menjawab. Karena penasaran Vanila bangkit dari duduknya dan menghampiri Rayhand.

"Katanya berisik kok kesini?" Tanya Rayhand sambil menutup buku harian Dea.

"Serius napa Ray" gerutu Vanila lagi.

"Iya deh daripada tuh bibir maju lima senti alias bimoli hahaha canda" goda Rayhand sambil menunjukaan selembar kertas dan membukannya.

Cakra

Aku mencintai kamu Cakra
Tapi kamu mencintai Vanila
Didalam kesunyian malam itu
Aku menunggu kamu Cakra
Berharap kamu tidak kedinginan Cakra...
Aku tetap setia menunggu kamu Cakra
Walau aku tahu sangat mustahil buat aku Cakra
Tapi, kalau takdir sudah mempersatukan kita
Apapun yang terjadi takdirlah yang mengatur semuanya
Takdir aku dan kamu memang berbeda
Cakra Louis Andika

By : Dea Erinaya

Vanila tercekat sesaat, ternyata selama ini Dea menyukai Cakra.

"Nah loh, gimana nih?" Tanya Rayhand.

"Kemarin elu nelpon Cakra?" Tanya Dea.

"Iya, kemarin gue telepon Cakra dia bilang dia enggak peduli apapun itu juga yang terpenting buat dia Cakra ketemu sama lo Van" jawab Rayhand, Vanila menghela nafas.

"Nih, ada satu lagi tapi gue gak tau ini buat siapa yang jelas kayaknya puisi dia disini dia udah ngelupain Cakra" ucap Rayhand sambil memberikan lipatan kertas lagi. Vanila membukanya.

Dia?

Apakah itu dia?
Sosok teman masa kecilku?
Sosok teman yang ada untukku?
Yang jelas aku tidak tahu
Tapi, aku bertemu dengannya
Setiap pulang sekolah, dia menyapaku
Aku selalu tersenyum
Aku bagaikan putri dihadapannya
Senyumnya selalu menghangatkan hatiku
Aku bagaikan rembulan terang
Didalam masa kecilku
Masa kecilku yang dulu suram
Kini berubah menjadi terang dalam kegelapan

By : Dea Erinaya

10 September 2016

Vanila mengernyitkan dahinya, berarti Dea sudah lama sekali menuliskan puisi ini. Namun siapa orangnya, tidak jelas sama sekali asal usulnya disini.

"Lo kenal Van?" Tanya Rayhand.

"Gue enggak kenal, puisi ini udah ditulis lama banget berarti" jawab Vanila.

"Iya, puisi ini ditulis ditahun 2016 sekarang 2018. Berarti puisi ini dia tulis pas dia kelas dua SMP" ucap Rayhand.

"Iya juga, tapi siapa? Gue aja gak tau orangnya siapa?" Vanila bertanya-tanya.

"Dia SMP mana?" Tanya Rayhand.

"Dia di SMPN 31 Jakarta bareng gue waktu itu" jawab Vanila.

"Kemungkinan besar ada gak cowok yang deket sama dia waktu kelas dua?" Tanya Rayhand.

"Hmm..." Vanila berpikir sejenak.

"Ada?" Tanya Rayhand.

"Ada" jawab Vanila.

"Siapa?" Tanya Rayhand.

"Elu, Mikael, sama Lion" jawab Vanila.

"Lion? Siapa Lion?" Tanya Rayhand.

"Biang kerok sekolah" jawab Vanila.

"Kok dia bisa dekat sama Vanila?" Tanya Rayhand.

"Gak tau deh, pokoknya si Lion itu benci banget sama Dea" jawab Rayhand.

"Next, berarti bukan Lion. Kemungkinan Mikael" ucap Rayhand.

"Enggak mungkin Mikael, dia kan kan temenya Lion" jawab Vanila.

"Gue gitu?" Tanya Rayhand.

"Gak lah, masa Dea suka sama sahabatnya sendiri" jawab Vanila, Rayhand mangut-mangut mengerti.

"Elu udah liat Mikael kayak gimana?" Tanya Rayhand.

"Udah, dia ganteng banget, putih, keturunan Indonesia-Amerika" jawab Vanila.

"Lion?" Tanya Rayhand.

"Belum, soalnya Lion itu misterius banget orangnya" jawab Vanila. Rayhand mengerti, diajaknya Vanila duduk dekat sofa tempat tidur Dea.

"Ter---" belum selesai Rayhand berbicara, Vanila berteriak.

"Dea sadar, Dea sadar Ray!" teriak Vanila sambil menunjuk jari Dea yang mulai bergerak.

"De, lu bisa denger gue kan?" Tanya Rayhand, tangisan Vanila pecah.

"Kalian siapa?" Tanya Vanila.

"Kita sahabat kamu" jawab Vanila.

"Lion mana?" Tanya Dea, Rayhand dan Vanila tercekat. Sosok Lion masih teringat dalam bayangan Dea.

...

Frans memegang pensil dan selembar kertas yanh dipegangnya. Frans menutup mata, membukanya kembali dan menulis sesuatu diatas kertas itu.

Detik

Setiap hari aku pandangi kamu detik
Aku memandangimu selalu
Seakan-akan kamu seorang artis
Karena kamu detik
Aku dan dia berpisah
Karena kamu juga detik
Aku dan dia dilupakan olehnya
Detik....
Betapa kejamnya kamu sama hidupku
Aku tidak pernah mencampuri urusanmu detik
Tapi kenapa kamu mencampuri urusanku Detik

...

Hai, makasih buat yang udah mau baca dan kasih votenya. Bagus gak puisinya? Semoga bagus, maklum masih pemula.

Terimakasih yah

Salam penulis
Elsaday Rombetasik

Vanila Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang