Rayhand dan Vanila meneguk sebotol air minum hingga isinya tandas di tenggorokan mereka.
"Serius nih gue enggak tau rumahnya Lion, Lion itu" gerutu Rayhand.
"Dua rius gue mah" ucap Vanila.
"Bego, kenapa kita enggak nyari di sensus pendudukan" usul Rayhand.
"Elu yang lebih bego, mana mau sensus pendudukan ataupun camat bantuin kita udah tau banyak yang perlu mereka urusin" ucap Vanila..
"Iya juga sih, terus gimana nih" Rayhand mengacak rambutnya dengan frustasi lebih tepatnya kecewa.
"Gimana kita ke Mikael aja?" usul Vanila.
"Lo tau rumahnya Mikael?" Tanya Rayhand.
"Taulah, kalau gue gak tau ngapain gue ngusulin" ucap Vanila ketus.
"Bener bener, encer juga otak lu" ucap Rayhand.
"Encer? Gak salah denger nih? Otak gue padat bukan encer" ucap Vanila membetulkan.
"Serah elu deh" ucap Rayhand. Rayhand mengambil kunci motornya namun dihentikan dengan Vanila.
"Ntar dulu deh, kalau kita misalnya udah ketemu Lion terus Lion-nya mau ketemu Dea gitu? Dia kan benci banget pake nget-nget-nget" ucap Vanila.
"Iya juga sih" ucap Rayhand. Rayhand dan Vanila kembali duduk untuk memikirkan rencan selanjutnya.
"Terus gimana dong?" Tanya Vanila. Rayhand mengendikan bahunya.
"Laper nih gue makan yuk, lagian ini udah sore dari tadi siang belum ada pengganjal perut" protes Rayhand. Sebenarnya Vanila mau protes, tapi yang dikatakan Rayhand ada benarnya juga soalnya dari tadi siang mereka belum makan.
"Yaudah, makan disini aja biar enggak usah bolak-balik enak juga kok disini warung lesehan" ucap Vanila. Rayhand mengganguk. Diambilnya menu dengan memperhatikan makanan dan minuman yang akan dipesannya.
"Mbak'e sink mbak'e" teriak Rayhand yang membuat Vanila memutarkan bola mata jengkel miliknya. Tak lama kemudian datang seorang wanita muda dengan buku catatan ditangannya.
"Pesen apa?" Tanyanya.
"Saya pesen aya---" belum selesai dirinya berbicara, Rayhand langsung menyerobot begitu aja.
"Saya pesen ayam gorengnya 1, nasi 1, timun 1 kecil-kecil potongnya, es teh manis nya 1" cerocos Rayhand.
"Mbaknya?" Tanya mbaknya.
"Saya pesen ayam goreng 1 sama es teh---" belum selesai dirinya berbicara, Rayhand langsung berkata sekenanya.
"Mbak udah punya pacar belum?" goda Rayhand.
"Belum, kenapa mas?" Tanya mbaknya dengan polosnya.
Nih orang malah ditanggepin batin Vanila kesal.
"Enggak apa-apa sih mbak, mbak cantik deh" puji Rayhand yang sukses membuat mbaknya tersipu malu. Vanila geram.
"Mas bisa aja" ucap mbaknya. Padahal dalam hati Rayhand menahan rasa jijiknya. Bagaimana tidak? Mbaknya begitu ge-er bukan tipe Rayhand yang raja gombal, kedua mbaknya bisa dibilang banyak jerawat, hitam, jelek pula, bukan maksud Rayhand untuk menjelek-jelekanya. Tapi fakta ada didepan matanya.
"Mbak? Jadi gak nih? Saya pesen mbak" ucap Vanila galak. Mbaknya langsung kembali menatap Vanila.
"Sirik aja lu beb" goda Rayhand.
"Geli gue dengernya" telinga Vanila panas mendengarnya.
"Pesen apa jadinya mbak?" Tanya mbaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanila
Genel KurguVanila (Completed) Part lengkap Nama gadis itu adalah Vanila Yudiana harus menjalani kehidupannya dengan sangat berat. Dia dititipkan oleh Tante dan sepupunya sendiri. Vanila memusuhi kakak sepupunya sendiri, karena ia iri kepada kakak sepupunya itu...
