Dea berjalan tergopoh-gopoh bersama Ray dengan menyiapkan beberapa rencana matang yang disiapkan bersama Ray dan polisi.
Dea segera mengambil kunci motor yang ditaruhnya di tas selempang miliknya, dengan segera Dea memutar kunci, dan motor matic bermerek 'Beat' itu menyala. Melihat hal itu Ray ternganga, namun dengan segera dihalanginya motor Dea yang ingin jalan.
"Ada apa?" Tanya Dea.
"Aku ikut" jawab Ray.
"Tidak usah, kau tunggu sini aja!" perintah Dea.
"Tidak mau, aku bisa saja sakit memikirkan sahabatku" ucap Ray.
"Sudahlah diam disini!" perintah Ray, Dea hendak menyalakan motornya kembali diikuti dengan gerakan Ray yang duduk dibelakang Dea. Melihat hal itu Dea mematikan mesin motornya.
"Aku ingin ikut" mohon Ray.
"Tidak usah, lebih baik kau duduk manis di toko dan ambilah sesukamu!" perintah Dea.
"Aku tidak mau" ucap Ray, Dea hanya bisa memutar bola mata jengkel yang sudah menjadi khasnya.
"Jangan menggangu" ucap Dea, lalu Dea menyalakan motornya kembali.
"Makasih" ucap Ray, Ray memegang belakang jok motor. Dengan segera Dea menjalankan motor miliknya dan pergi ke penyekapan Vanila.
Sesampainya di tempat penyekapan Vanila, Dea segera mematikan mesin motor dan menaruhnya dekat penyewaan motor dekat warung.
"Kau yakin?" Tanya Ray, Dea mengganguk.
"Kalau kau takut pergi saja" ucap Dea, Dea memindit-minditkan kakinya dan memegang sebalok kayu, Ray hanya mengikutinya dari belakang.
"Sstt" bisik Dea, Dea dan Ray berjalan dengan pelan memastikan agar baik-baik saja. Sebalok kayu tetap dipikul Dea dipunggungnya.
"Tunggu sini!" perintah Dea, Ray mengganguk mengerti. Dea mengamati dari jendela yang bisa dicapai oleh dirinya sendiri, tampak Dea menemukan Vanila yang sedang berbicara sendiri.
Dea mengetuk jendela pertanda memanggil Vanila, namun orang yang dituju tidak menengok sama sekali. Dea berulang kali mengetuk jendela, namun tetap saja Vanila tidak mendengar.
Tiba-tiba saja sebuah batu kecil melayang dekat jendela, yang membuat Vanila dan Dea spontan kaget. Vanila yang berada didalam melihat Dea yang sedang mslongo menatap jendela retak itu, Dea menatap Ray yang hanya menaikaan satu buah alisnya.
"Kau bodoh Ray" bisik Dea. Namun sepertinya usaha Ray berhasil, walaupun dengan cara yang kurang biasa.
Dea menyuruh Vanila keluar, Vanila menggeleng bahwa ia dijebak didalam gudang. Dea segera menelpon polisi.
Tak lama kemudian polisi datang tanpa menimbulkan bunyi sirene, polisi datang yang diikuti dengan beberapa pasukan kriminal. Polisi memasuki penyekapan, Dea dan Ray ikut masuk dan mengikutinya.
Polisi segera menangkap para penjahat itu.
"Awas kau yah" ucap salah seorang penjahat sebelum dibawa oleh polisi, Dea hanya bisa meleletkan lidahnya.
"Terimakasih Dea" ucap Vanila lalu memeluk Dea.
"Kamu makanya hati-hati" ucap Dea, lalu melirik Ray.
"Sama Ray nya enggak?" Tanya Dea.
"Hmm" Vanila bernafas sejenak. "Makasih Ray".
"Sama-sama" Ray hanya tersenyum.
"Yuk pulang" ajak Dea, Vanila mengganguk diambilnya sepeda motor miliknya. Ray pulang menaiki ojek online, sedangkan Dea dan Vanila pulang bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanila
General FictionVanila (Completed) Part lengkap Nama gadis itu adalah Vanila Yudiana harus menjalani kehidupannya dengan sangat berat. Dia dititipkan oleh Tante dan sepupunya sendiri. Vanila memusuhi kakak sepupunya sendiri, karena ia iri kepada kakak sepupunya itu...
