Entah kenapa, aku bisa suka padanya. Hanya dia yang membuatku bahagia dan selalu tertawa.
Dea terbangun, sudah cukup lama ia tidur di kereta. Jam sudah menunjukaan pukul 04.10, sebentar lagi mereka akan sampai di Surakarta. Dea melihat Vanila yang masih sibuk mengambil barang-barangnya dan mengemas semuanya.
Dea melihat Frans, cowok itu masih terlelap dalam tidurnya. Ia memejamkan, seolah ia adalah pangeran tidur(kembarannya putri tidur), ia sedang menunggu putri tidurnya menyadarkannya dari tidurnya.
"Ah, kenapa gue jadi mikirin Frans yah" batin Dea, Dea mengusir semua pikirannya tentang Frans.
"Kebooo, bangunn" teriak Dea, membuat penumpang yang berada didekatnya menoleh. Dea mengguncang tubuh cowok itu. Frans terbangun dengan mata yang masih setengah menutup dan setengah terbuka, diantara alam sadar bawah dan sadar.
"Apaan sih?" Tanyanya sambil membenarkan letak duduknya.
"Dah mo nyampe, dasar kebo tidur mulu" protes Dea, Dea menyungging senyum tanda tidak suka diwajahnya.
"Apaan loh senyum-senyum cemberut gitu" protes Frans, Frans kembali mengambil majalah Fashion di bag tasnya.
"Napa? Gak suka? Serah-serah gue lah, mulut gue ini" protes Dea, Dea mengambil novelnya yang berjudul Amor Est Poeno.
"Enggak, gue gak suka aja ngeliat cewek itu cemberut" ucap Frans, tangannya masih sibuk membolak-balik halaman buku. Dea tertegun mendengar ucapan Frans, begitupun dengan Vanila.
"Apa dia tipe orang setia?" Batin Dea bingung. Namun dia gengsi mengucapkannya.
"Cih... Sok suci sekali anda" ledek Dea, tangannya sibuk mencari halaman 56.
"Yaudah terserah lu, tapi gue mau lihat lu senyum" ucap Frans, tangannya menaruh majalah Fashion disamping Vanila. Frans menggambil tangannya, dan menarik tanggannya hingga membentuk senyuman diwajah Dea.
"Nah, gitu dong kan cantik" puji Frans, tampak senyum manis muncul darinya.
Nah, gitu dong kan cantik.
Vanila teringat akan perkataan ibunya beberapa silam tahun lalu. Saat itu ibunya sedang melihatnya sedang cemberut panjang, ibunya sudah berupaya menghiburnya. Namun semua usahanya sia-sia, hanya satu cara yaitu menarik senyum Vanila kembali.
Lamunan Vanila buyar, karena sebuah senggolan jatuh padanya.
"Maaf dek" ucapnya, lalu pergi. Dea melihat hal itu hanya tersenyum, Frans hanya menatapnya bingung.
"Makasih" ucap Dea pendek, Dea kembali menekuni bukunya. Frans hanya tersenyum melihatnya.
"Makasih doang nih? Gak ada kata 'makasih kamu udah hadir dalam kehidupan aku" goda Vanila, Vanila tertawa kencang membuat penumpang disekitarnya memelototkan matanya. Sebuah cubitan halus menndarat di pipi Vanila kanan kiri, yaitu dari Dea dan Frans. Kebetulan Vanila duduk ditengah.
"Ih, masa nyubit aku aja barengan" goda Vanila lagi, sebuah senyum tawa terlihat jelas diwajah Vanila.
"Apaan sih ikan Nila" cemberut Dea, Frans menunjukaan eksperesi yang sama dengan Dea.
"Cemberut barengan lho" goda Vanila yang disusul dengan tawa dari Vanila.
"Udah ah" ucap Dea, pipi Dea bersemu merah mendengarnya.
"Hmm.... Udah? Pipinya kok merah? Jangan-jangan" goda Vanila lagi, tangannya menyentuh bahu Dea.
"Ih.... Bilangin Mbak Dya nih" ucap Dea.
"Tunggu... Mbak Dya?" Tanya Frans, Frans mengernyitkan dahinya.
"Iya, emang napa?" Tanya Dea.
"Itu kan" Frans tergagap.
"Itu apa?" Tanya Vanila.
"Mbak Dya...." Frans mengucapkan tergagap. "Mbak aku".
"Hah?!" Vanila dan Dea mengeluarkan tiga kata itu secara bersamaan.
"Serius?" Tanya Vanila.
"Iya" jawab Frans.
"Jadi...., jadi" Dea menghentikan ucapannya.
"Kita sepupuan dong" ucap mereka bertiga bersamaan.
"Ponsel gewe jangan lupa balikin" pinta Frans. "Kan kita sepupuan, jadi balikin dong".
"Gak" Dea tetap bersikeras tidak mau mengembalikan ponselnya Frans.
"Aih, pelit dah" ucap Frans.
"Kapan-kapan gue balikin" ucap Dea.
"Aih, masa----".
Sebentar lagi kereta menuju Surakarta akan sampai di Stasiun Solo Balapan, diharapkan kesediannya dan persiapaannya. Diharapkan untuk tidak meninggalkan barang ataupun tiket anda dikereta
Soon the train to Surakarta will arrive at Solo Race Station, it is expected its willingness and persiapaannya. It is expected not to leave your goods or tickets in the raft
"Noh kan dah mo turun" ucap Vanila.
"Ponsel gue" pinta Frans.
"Nanti, gue balikin" ucap Dea, Dea dan Vanila segera merapikan barangnya. Begitupun juga dengan Frans, lalu mereka bertiga turun karena kereta sudah sampai di Stasiun Solo Balapan. Dea menaruh barangnya di dekat kursi karena lelah membawa barang. Dea berbisik kepada Vanila.
"Ikan Nila, gue gak sabar nih buat pernikahan Mbak Dya" bisik Dea.
"Sabarin aja" ucap Vanila santai.
"Ngomongi gue yah?" Sindir Frans.
"Ge-er dah" ucap Dea, Dea menyandarkan punggungnya ke kursi.
Gak sabar buat pernikahan Mbak Dya, pasti gue kelihatan cantik didepan Frans.
Minta vote dan komentnya dong😀
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanila
General FictionVanila (Completed) Part lengkap Nama gadis itu adalah Vanila Yudiana harus menjalani kehidupannya dengan sangat berat. Dia dititipkan oleh Tante dan sepupunya sendiri. Vanila memusuhi kakak sepupunya sendiri, karena ia iri kepada kakak sepupunya itu...
