Tiga Belas

358K 23.4K 1.3K
                                        

∆∆∆

Buk.
Tubuh Liana terhuyung ke belakang saat sesuatu di depannya tanpa sengaja ia tabrak. Liana menyalahkan dirinya yang memang berlari sekenanya sendiri dan pandangannya memang sedikit mengabur karena air mata yang menggenang.

Jika saat sebuah lengan tidak melingkar di pinggangnya mungkin bokong Liana sudah me mendarat manis di lantai keramik putih. Kepala Liana mendongak, ternyata dokter Varo yang menahan pinggangnya. Berarti tadi dokter Varo lah yang Liana tubruk.

"Eh--- maaf dokter Varo, Liana nggak sengaja. Maaf tadi buru-buru" ucap Liana merasa tidak enak. Dokter Varo membantu Liana berdiri dengan normal, lalu tangannya yang melingkari pinggang istri rekan kerjanya, ia jauhkan.

"Enggak apa-apa kok, nggak usah minta maaf segala. Kenapa kok kayak buru-buru banget, bukannya mau ketemu sama dokter Alka?" tanya dokter Varo.

Liana mengedipkan matanya, membuat air mata yang menggenang di kedua bola matanya menetes.
"Liana, kok nangis? Ehhhh--- jangan nangis dong entar saya dikira ngapa-ngapain kamu lagi" ucap dokter Varo setengah panik lalu menyeka air mata di sudut mata perempuan di hadapannya.

Liana terkekeh, menyembunyikan luka yang ia rasakan.
"Dokter Varo lucu deh, segitu takutnya. Enggak nangis kok, ini tadi kelilipan makanya buru-buru mau ke kamar mandi buat basuh wajah."

"Pake rambut aja, bisa kok. Sini biar saya bantu, permisi ya bukan bermaksud lancang" izin dokter Varo lalu meraih rambut Liana yang menjuntai lalu menggosokkan pelan rambut Liana ke mata. Liana sendiri heran apa yang dilakukan dokter yang satu ini. Setelah itu dokter Varo meniup bola mata Liana, pelan.

"Makasih, ini udah nggak papa kok" ujar Liana membuat dokter Varo melangkah mundur. Posisi dokter Varo yang terlalu dekat dengannya membuat nya risih dan takut ada berita simpang siur yang tidak mengenakan. Apalagi jika suaminya sampai tahu, pasti akan marah habis-habisan.

Liana meringis, wajahnya merona malu sementara dokter Varo menahan tawanya agar tidak meledak saat mendengar suara perut Liana yang keroncongan. Liana memang belum makan siang, niat awalnya memang akan makan siang bersama suami. Tapi--- Liana mencoba untuk bersabar dengan kenyataan yang ia dapatkan. Ia sendiri bingung dengan dirinya yang akhir-akhir ini memiliki stok kesabaran lebih dari biasanya.

"Belum makan siang? Mau makan siang bersama saya? Kebetulan saya sudah tidak ada jam praktek buat hari ini" tawar dokter Varo dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

"Tapi--- Alka bisa marah kalau Liana dekat apalagi makan siang berdua dengan cowok lain," tolak Liana dengan alasan yang jujur.

"Kamu percaya sama saya? Dokter Alka marah kalau niat cowoknya itu buat merebut istrinya. Tapi percaya deh, saya tidak ada niatan merebut kamu dari dokter Alka. Saya cuma menawarkan makan siang, biasanya cewek kalau makan sendirian takut dikatain jomblo"

"Hm iya deh, Liana pengin makan bakso urat. Apa di kantin rumah sakit ada bakso urat?"

"Bakso urat? Enggak ada deh kayaknya. Tapi tenang, saya punya langganan bakso urat kok. Bisa delivery order, saya hubungi dulu ya? Kamu duduk aja di situ" ucap dokter Varo sambil menunjuk bangku tunggu tak jauh dari hadapannya.

Liana mengangguk setuju lantas melenggang dan duduk di bangku. Akhirnya keinginannya sejak perjalanan ke rumah sakit akan segera terpenuhi. Liana memang sudah menginginkan bakso urat tepatnya saat tadi ia melintas di sebuah kedai di pinggir jalan yang menjual bakso urat, kepulan asap kuah bakso yang tercium sampai hidung Liana membuat Liana menginginkan bakso itu.

"Kamu tunggu di sini dulu nggak papa? Saya mau beresin ruang kerja saya dulu, ini hp saya. Siapa tahu nanti orang yang nganterin baksonya telepon. Biar gampang aja"

My Protective DoctorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang