Alka melepaskan sepatu olahraga berwarna putih yang ia kenakan, lalu menyimpan sepatunya di rak dan mengganti sandal sebagai alas kakinya. Ia lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum melepaskan dahaga dan panas di sekujur tubuhnya.
Alka baru saja pulang lari pagi untuk sekedar mengeluarkan keringat agar tubuhnya tetap sehat. Rutinitasnya yang satu ini mulai sering ia tinggalkan, semenjak menikah lantaran tidak ada waktu.
"Ini Liana bawakan minum," ucap Liana yang muncul tiba-tiba di saat Alka melewati ruang tengah.
Langkah Alka terhenti seketika, ia memang awalnya tidak menyadari keberadaan istrinya. Ia pikir Liana masih tertidur, seperti saat ia meninggalkan Liana sebelum pergi jogging di sekitar komplek perumahannya.
Dan tiba-tiba saja, Liana muncul dengan segelas air putih. Hal yang sangat jarang dan nyaris tidak pernah Liana lakukan.
Alka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa yang terjadi pada Liana? Bukankah Liana masih marah padanya perihal makan siang kemarin? Sekarang? Liana sudah bertindak seperti ini, dan itu berarti Liana sudah tidak marah. Ada apa dengan emosi istrinya itu? Mudah sekali terbawa dan melepaskan emosi.
"Makasih, sayang," ucap Alka lalu meraih gelas di tangan Liana. Diteguknya air dalam gelas itu hingga habis untuk mendinginkan kerongkongan Alka yang terasa sangat panas. Keringat langsung membasahi wajah Alka. Gelas di tangannya ia letakan di meja yang ada di samping tempat ia berdiri.
Tangan Alka terangkat, hendak mengusap keringat namun ditahan oleh tangan Liana.
"Liana bisa bantu, kok. Boleh kan kalau Liana yang bersihin wajah kamu," tawar Liana yang langsung diangguki oleh Alka.
Liana mengangkat tangannya, tingginya yang hanya sebatas dada suami, membuat Liana harus mengulurkan tangan tinggi-tinggi untuk menjangkau wajah Alka. Dengan telaten, Liana menyapukan handuk kecil yang ia bawa ke sekitar dahi dan pelipis Alka. Sepertinya Liana memang sudah berniat untuk melakukan ini.
Alka mengerjakan mata sedikit tidak percaya dengan perubahan istrinya.
"Tadi gimana tidurnya? Nyenyak, kan?" tanya Alka disela-sela kegiatan Liana yang belum selesai. Tangan Liana turun, mengusap keringat di leher Alka.
"Nyenyak kok," sahut Liana singkat.
Tubuh Alka yang merasa sangat gerah, membuat Alka melepaskan kaus yang ia kenakan. Dan kini tubuh atas Alka tidak terbalut apapun. Liana menghentikan aktivitasnya. Salivanya ia telan dengan susah payah saat pemandangan menggiurkan terpampang di hadapannya. Sebidang dada dan otot-otot perut yang terbentuk seperti roti sobek ditambah dengan cucuran keringat membuat bibir Liana terasa kering.
Dengan cepat Liana membasahi bibir dengan lidahnya.
"Lanjutkan, sayang. Nggak usah grogi, lagian seluruh tubuhku milik kamu," ucap Alka meraih tangan Liana dan mendaratkan di dadanya.
Dengan gerakan pelan, Liana mengusapkan handuk kecil yang ia bawa ke dada Alka lalu turun ke perut.
"Udah selesai," ucap Liana, mundur selangkah menjauh dari hadapan Alka setelah aktivitasnya yang menggoda iman terselesaikan. Liana bingung dengan dirinya sendiri yang mudah terangsang. Padahal sebelumnya Liana tidak bereaksi apapun jika hanya melihat tubuh atas suaminya yang telanjang. Ia baru bereaksi jika Alka sudah menyerang bibir dan beberapa daerah sensitifnya.
Cup.
Kecupan Alka mendarat di bibir Liana. Kecupan singkat, tanpa lumatan panas.
"Ngelamun aja, entar kesambet baru tahu rasa," goda Alka menarik pinggang Liana hingga kini tubuh Liana menempel dengannya.
Saat melihat ke bibir Alka, entah dorongan dari mana Liana ingin mengecup bibir itu. Tentu ia malu untuk mengutarakannya langsung pada Alka. Tanpa pikir panjang, Liana segera berjinjit untuk meraih bibir suaminya. Tingginya yang tidak seberapa dibanding Alka membuatnya tidak bisa menjangkau bibir yang ia inginkan.
Alka terkekeh geli melihat Liana yang tengah berjinjit setinggi-tingginya. Dari situ, Alka tahu apa yang tengah Liana lakukan. Bukannya membantu Liana dengan menundukan tubuhnya agar Liana bisa meraihnya, Alka malah diam. Menggoda Liana yang tengah berjinjit berusaha.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Protective Doctor
Romance"Aku ingin menjaga, tidak untuk menyakiti" Alka Alfiano Putra Maurer, dokter muda yang begitu possessive dan overprotektif jika menyangkut istri kecilnya, Liana. Terkadang sifat berlebihan dokter muda itu membuat Liana merasa kesal. Ruang gerakn...
