Enam Puluh Dua

588K 22.7K 3.1K
                                        

Menghadapi seorang istri yang tengah hamil adalah suatu tantangan yang tidak mudah untuk dilalui para suami. Begitu juga yang dirasakan oleh Alka. Menghadapi Liana yang mengandung buah cintanya bersama Liana, sangat membutuhkan waktu, tenaga, dan berlimpah kesabaran.

Alka bukanlah sosok pria penyabar. Kesehariannya kondang sebagai pria pemarah yang mudah sekali meluapkan emosinya meski hanya karena masalah sepele. Masalah sepele kerap Alka besar-besarkan hingga terlihat rumit.

Namun, mengingat Liana masih melalui kehamilannya di trimester pertama yang sangat rentan, Alka banyak-banyak mengumpulkan kesabarannya. Kesabaran dalam menghadapi Liana yang sangat susah diatur, kesabaran menghadapi Liana yang terlalu banyak permintaan aneh, dan kesabaran dalam menghadapi Liana yang sangat sulit jika diajak melakukan pola hidup sehat seperti makan dan minum susu teratur.

Alka yang bukan pengangguran, pulang kerja kelelahan dan dalam keadaan lelah ia harus mengurus istri dan putranya yang entah sejak kapan bersekutu dengan istrinya hingga membuat kepala Alka sering mendidih ingin meledak namun Alka tahan.

"Pokoknya Liana marah!"
Alka menghela napas kasar saat Liana kenaikan volume suaranya. Tubuh mungil Liana berdiri tegap di hadapannya dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya berpaling ke arah lain, menghindar wajah Alka yang terlihat kelelahan.

"Sayang, jangan marah-marah mulu nanti tekanan darah kamu naik. Sini duduk, kita bicara baik-baik. Ngomongnya jangan pakai otot gitu," ujar Alka selembut mungkin. Telapak tangannya menepuk paha, memberikan instruksi pada Liana untuk duduk di pangkuannya.
Liana masih mempertahankan posisinya. Instruksi dari suami ia abaikan.

Diraihnya lengan Liana lalu ditarik oleh Alka sepelan mungkin. Alka membimbing wanitanya untuk duduk di pangkuannya.
"Sekarang ngomong, marah kenapa hm? Suami baru pulang kerja malah dijutekin, aku capek lho, kasih senyuman dikit kan cantik," gumam Alka seraya merapikan rambut Liana yang sedikit berantakan.

Semenjak hamil, Liana bermetamorfosa menjadi wanita yang pemalas untuk merawat diri. Untuk urusan mandi saja jika Alka tidak menyuruhnya berkali-kali Lianapun tidak akan mandi. Rambutnya jarang disisir, jarang pakai minyak wangi, dan untuk cuci muka sehabis bangun tidur saja Liana sangat malas. Alka tidak mempermasalahkan hal itu. Seperti apapun istrinya, Alka tetap sayang.

"Kamu belum mandi ya? Baunya asem gini," bisik Alka setelah mengendus leher jenjang istrinya dan Indra penciumannya menangkap bau khas orang belum mandi.
Liana menggeleng kepalanya pelan sebagai jawaban atas pertanyaan suami.

"Nggak usah ngalihin pembicaraan. Pokoknya Liana nggak suka kalau kamu deket-deket sama Fara. Tadi Fara udah Liana bilas habis tuh urat malunya. Masih aja deketin kamu. Pokoknya sekarang antar Liana ke rumah Fara."

"Kan?" batin Alka. Permintaan Liana memang selalu aneh-aneh. Hanya karena Alka kepergok berpapasan dengan Fara di lorong rumah sakit, Liana langsung marah. Alasannya karena Alka tidak mematuhi peraturan yang Liana buat. Harusnya Alka tadi lari agar tidak berpapasan dengan Fara.

"Jangan aneh-aneh deh, mau ngapain ke rumah Fara? Di rumah aja, nanti kuda-kudaan."

"Pokoknya ke rumah Fara. Liana mau beri peringatan sama dia. Kalau nggak diberantas sejak dini, bisa-bisa akut tuh bibit pelakor yang tumbuh di dalam hati Fara."

Alka menghela napas. Ibu hamil selalu menang dan suami harus mengalah kalau tidak bisa-bisa juniornya yang merasakan imbasnya. Percayalah, sisksaan suami yang terberat adalah saat istri tidak memberikan kepuasaan hasratnya. Untuk itulah, istri selalu menjadikan kepuasan sebagai senjatanya untuk menguasai suami.

"Iyaudah mandi dulu, bau asem gini nanti kalah tanding sama Fara."

"Maksudnya apa nih? Mau belok ke Fara, gitu?" selidik Liana.
Hanya dengan perkataan seperti itu saja Liana sudah ngegas. Ibu hamil memang sangat sensitif.

My Protective DoctorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang