Tiga Puluh Empat

282K 20.7K 1.2K
                                        

Alka membuka matanya, mengerjapkan mata beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya sekitar. Lampu yang menyala tepat di atasnya membuat Alka kembali memejamkan mata lantaran silau. Saat otaknya sudah bisa berfungsi, Alka terlonjak kaget bukan main saat menyadari Liana tidak ada di sampingnya. Terakhir kali Alka ingat, Liana masih berbaring dan Alka memeluk tubuh mungil istrinya. Namun, sekarang kemana Liana?

Rasa takut itu datang, Alka takut jika Liana sudah pergi meninggalkannya. Panas sudah menjalar di tubuhnya bersamaan dengan keringat dingin. Jantungnya berdebar siap meledak dan napasnya terasa sulit. Menyingkirkan selimut putih yang membungkus tubuh bawahnya, Alka meloncat dari ranjang rumah sakit untuk mencegah Liana pergi.

"Kamu kenapa?" tanya seseorang yang Alka pikir sudah meninggalkannya. Bagaimana bisa Alka sedemikian takut kehilangan wanitanya sementara wanitanya kini tengah duduk di sofa sendirian sembari mengupas apel yang akan ia nikmati.

Alka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tubuhnya lantas membungkuk, mengusap lututnya yang tadi gemetaran.
"Hai!" sapa Alka pada Liana seperti mereka baru kenal saja, terdengar begitu canggung dan kikuk.

Liana diam tidak menyahut sapaan Alka. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya mengupas apel. Dalam hati Liana menggerutu, biasanya Alka akan menasehatinya bahwasanya makan apel lebih baik dengan kulitnya. Hanya perlu mencuci apelnya sampai bersih. Tapi sekarang, tidak ada nasihat itu dari Alka. Atau mungkin Alka sudah tidak lagi peduli.

Alka bingung harus bagaimana untuk saat ini. Perlahan ia duduk di samping Liana. Beberapa detik ia terdiam hingga akhirnya bersuara.
"Lagi ngapain?" tanya Alka begitu bodohnya. Alka tak habis pikir dengan dirinya yang menanyakan hal tidak penting seperti ini. Ia tak yakin otaknya waras. Tangannya terangkat mengusap peluh dingin di dahinya.

Tidak ada sahutan dari Liana, perempuan itu nampak cuek dan sibuk dengan aktivitasnya. Melirik ke arah Alka sedetik pun sepertinya enggan.

"Kamu masih marah sama aku?" tanya Alka yang membuat kunyahan Liana terhenti. Kini Liana menoleh, menatap intens ke arah Alka. Alka yang ditatap sedemikian rupa menjadi gugup.

"Ok, aku udah tahu jawabannya. Kamu masih marah kan? Nggak papa kok, lanjutkan aja marahnya. Kamu berhak marah kok, yang penting jangan tinggalin aku. Marah sepuasnya, aku nggak akan balas kemarahan kamu," ucap Alka. Liana masih diam tidak menyahut sepatah katapun.

Tiba-tiba kedua tangan Alka terulur ke arah Liana membuat Liana mengerutkan kening, bingung.
"Kalau marah belum juga buat kamu maafin aku, pukul aja, gigit juga boleh, cakar nggak papa, mau tampar? Boleh, apapun boleh kamu lakukan. Yang nggak boleh itu ninggalin aku, kamu ngerti kan?"

"Waras?" tanya Liana singkat dengan nada ketus yang langsung diangguki oleh Alka dengan ekspresi paling tolol yang pernah Alka tunjukkan.
Liana menggelengkan kepala, meletakan pisau dan apel ke meja lalu berdiri. Dengan cepat Alka berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Liana.

"Mau kemana? Jangan pergi, aku mohon banget, jangan tinggalin aku," pinta Alka menahan lengan Liana. Liana tidak tahu lagi apa yang terjadi pada Alka, sebegitu takutnya kah Alka kehilangannya hingga Alka seperti ini?

"Aku mau tiduran," sahut Liana tanpa ekspresi membuat detak jantung Alka berangsur stabil. Jawaban Liana menunjukkan bahwa Liana tidak akan meninggalkan Alka untuk saat ini.

"Aku bantuin biar kamu nggak kecapean, sayang" ujar Alka dan langsung membopong tubuh Liana. Dibaringkannya dengan begitu hati-hati tubuh Liana di atas ranjang. Alka membenarkan posisi selimut dan bantal Liana.

Layaknya patung, Alka hanya berdiri di samping Liana dengan tatapan tak beralih sedetikpun dari istrinya yang terlihat bingung. Sebenarnya Alka juga tak kalah bingung. Diantara Liana dan Alka ada semacam kecanggungan yang membuat mereka seperti orang asing.
"Kamu udah makan? Mau aku Carikan makanan? Mau aku belikan apa?" tanya Alka membuka percakapan. Liana menggelengkan kepala sebagai jawaban pertanyaannya.

My Protective DoctorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang