Empat Puluh Lima

273K 20.9K 1.4K
                                        

Setengah jam lebih Alka bersimpuh di lantai memeluk kereta bayi yang ia letakan di gudang sembari meracau tidak jelas untuk menumpahkan apa yang ia pendam sendirian selama ini. Perasaan lega kini ia rasakan saat mampu menumpahkan semuanya pada benda mati yang tergeletak di hadapan. Suaranya serak nyaris menghilang. Tenggorokannya pun terasa gatal, hidungnya tersumbat, dan kepalanya terasa pening.

Alka mengusap wajah kusutnya untuk menyingkirkan jejak air mata yang masih tersisa. Barang-barang bayi berserakan tidak serapi sebelumnya. Segera Alka merapikan kembali barang-barang itu sebelum meninggalkan gudang. Liana sudah terlalu lama ia tinggalkan di kamar, takut Liana terbangun dan curiga karena tidak ada Alka di sampingnya. Sebelum benar-benar pergi, Alka memeluk pakaian bayi dengan begitu erat. Pandangannya menyapu satu per satu barang-barang calon bayinya dulu.

Alka keluar dari gudang, lampu sudah ia matikan dan gudang kembali ia kunci. Bergegas ia mengayunkan kaki menuju kamarnya. Nampak Liana masih meringkuk dengan posisi selimut yang sudah merosot. Tanpa buang waktu, Alka membenarkan letak selimut Liana. Sejenak ia duduk di tepi ranjang, mengusap lengan Liana yang bergerak tidak nyaman. Alka berharap, usapannya bisa menenangkan Liana.

Tidur Liana memang tidak setenang dulu. Liana sendiri yang mengatakannya pada Alka. Semenjak kehilangan calon bayinya, dalam mimpinya ia selalu didatangi oleh tangisan anak kecil yang mencari ibunya. Jelas itu mimpi buruk bagi Liana. Alka menerka jika mimpi itu hadir karena Liana yang belum ikhlas dengan kepergiannya.

"Alka, kamu belum tidur?" tiba-tiba saja Liana terbangun membuat Alka kaget.

"Kamu kenapa bangun? Mimpi buruk lagi? Minum dulu, ya" tawar Alka lalu menjulurkan tangannya ke arah nakas untuk mengambil air putih yang selalu Alka siapkan di sana agar sewaktu-waktu ia butuh, ia tidak perlu turun ke dapur.

Dibantu Alka, Liana bangun dan bersandar di kepala ranjang. Gelas air putih sudah beralih ke tangan Liana. Dua tegukan air masuk membasahi kerongkongan Liana yang kering.

"Nggak mau minum lagi?" tanya Alka begitu menerima gelasnya kembali. Liana menggeleng, mengusap bibirnya yang basah.

"Kamu tidur lagi, aku tahu kamu susah tidur kalau udah kebangun kayak gini. Dipaksa aja, nanti juga nggak sadar tidur. Sekarang kamu berbaring lagi di ranjang," titah Alka membantu istrinya untuk kembali tiduran. Alka memposisikan dirinya di samping Liana, menarik Liana agar mendekat. Satu lengan kekarnya ia berikan sebagai bantalan tidur Liana. Biasanya Liana akan cepat tidur jika berbantal lengannya.

"Ka, kamu habis nangis? Itu mata kamu sembab, hidung kamu juga kemerahan, kamu beneran habis nangis?" tanya Liana saat Alka baru saja memejamkan matanya. Sontak, Alka kembali membuka mata membuang rasa kantuk.

"Kenapa nangis? Cerita sama Liana, mungkin Liana bisa bantu"
Alka diam, menatap ke arah manik mata Liana. Matanya berkaca-kaca, Liana bisa melihat ada kepedihan di sana.
Dibingkainya wajah Alka oleh Liana.
"Ayah pernah bilang, cinta yang paling kuat itu adalah cinta yang mampu menunjukkan kerapuhan pada pasangannya. Jangan dipendam sendiri, sayang" desak Liana dengan lembut.

Alka berkedip, kedipan itulah yang membuat air matanya jatuh begitu saja. Sebelum bercerita, Alka menarik napas dalam-dalam. Cerita Alka mengalir begitu saja, ia menceritakan suasana hatinya yang tengah merindukan sosok yang pergi sebelum Alka melihatnya.

Liana memeluk leher Alka, menyembunyikan kepalanya di caruk leher Alka.
"Maafin aku, ya. Ini semua gara-gara aku. Kalau aja aku bisa jagain kamu, mungkin nggak kayak gini," bisik Alka serak di telinga Liana.

"Mungkin belum rezeki kita, insya Allah Liana udah ikhlas. Maafin Liana, kalau aja Liana lebih bisa menerima kenyataan mungkin kamu nggak merasa bersalah terus kayak gini. Udah sekarang kita tidur," Liana memeluk erat tubuh Alka yang langsung dibalas tak kalah erat oleh Alka sendiri. Keduanya berpelukan, mencoba menenangkan diri dengan hangat peluk pasangannya. Kepala Alka bertengger di puncak kepala Liana, tangannya mengusap lembut kepala istrinya penuh kasih sayang. Air matanya kembali menetes, ia menangis dalam diam agar tidak mengganggu Liana.

My Protective DoctorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang