Delapan Belas

332K 20.5K 1.7K
                                        



Alka mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan dengan cahaya sekitar. Lengan kanannya terasa kebas. Sepanjang malam sampai sekarang Liana masih terlelap di atas lengan kekarnya. Tidak masalah bagi Alka. Sudah kewajiban baginya untuk memberikan tempat ternyaman bagi istri yang sangat ia cintai. Pandangannya turun ke arah Liana, diusapnya wajah tenang Liana dengan ibu jarinya. Liana meringkuk dengan sangat lucu di hadapan Alka. Selimut yang membungkus tubuh telanjang mereka Alka tarik kembali karena posisinya sedikit merosot mempertontonkan setengah dada Liana yang membuatnya kembali bergairah.

Alka turun dari ranjang dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan istrinya. Diraihnya pakaiannya yang berserakan di lantai lalu ia kenakan. Percintaan tadi malam hanya berlangsung sebentar membuat Alka belum merasakan kepuasan. Entah apa yang membuat Liana  tiba-tiba meminta berhenti dengan alasan mengantuk. Alka terpaksa menahan hasratnya semalaman karena tidak tega memaksa istrinya. Benar saja, Liana langsung larut dalam mimpinya.

Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Alka duduk di tepi ranjang berniat membangunkan Liana.
"Sayang bangun, udah pagi. Hari ini kamu ke kampus, kan?" bisik Alka lembut agar perlakuannya tidak mengagetkan Liana.

Liana bergumam tidak jelas. Bukannya bangun, Liana hanya mengubah posisi tidur lantas memeluk erat gulingnya. Alka menghela napas, beberapa hari ini Liana memang mudah sekali tidur dan sangat sulit saat dibangunkan.

"Sayang, bangun dong. Udah pagi nanti pulang kampus boleh tidur lagi," Alka menopang kepala, mengusap puncak kepala Liana.

"Iya ini udah bangun, jadi cowok kok cerewet banget. Nggak lihat orang lagi nyaman tidur apa? Ngertiin sedikit kek, istri masih ngantuk malah dipaksa bangun," gerutu Liana yang kini sudah menghadap Alka dengan wajah tertekuk masam.

Marah lagi, Alka harus sabar. Belakangan ini emosi istrinya gampang naik dan gampang sekali turun tanpa alasan yang jelas. Sudah begitu Liana juga gampang nangis karena masalah sepele.
"Iya maaf deh, selamat pagi. Tidurnya nyenyak? And i love you, my beautiful wife," bisik Alka seperti kebiasaannya.

"sekarang mandi gih. Ada kelas kan? Nanti aku anterin ke kampusnya," ucap Alka sembari mengusap pipi berisi Liana.

Liana mengangguk patuh, tapi belum beranjak dari posisinya.
"Mau sarapan pakai apa? Biar aku suruh bibi bikinin yang kamu mau."

"Mau sayur belut cabai hijau yang pedas," ceplos Liana.

"Belut? Itu susah Liana, entar pas makan siang aja aku cariin sayur belut deh, nanti aku antarin ke kampus kamu," ujar Alka. Pasalnya belut tidak ada di persediaan bahan makanannya dan untuk mencari belut tidak semudah mencari daging di pasar.

"Nggak mau tahu, mikir gimana kek. Atau belut kamu dimasak juga boleh," ketus Liana lalu tangannya terulur untuk meraih pakaiannya yang berserak.
Sontak Alka menutup selangkangan dengan kedua telapak tangannya. Aset berharganya tidak boleh dimusnahkan. Pandangannya turun ke selangkang. Apapun yang terjadi Alka akan mempertahankan miliknya.

Saat Alka sibuk dengan pemikirannya konyolnya, Liana sudah ngacir ke kamar mandi.
"Masa depan akoh jangan aneh-aneh deh, kayak orang ngidam aja" teriak Alka.

Alka terdiam beberapa saat, pikirannya melayang mencerna kalimat yang baru saja ia katakan. Ngidam? Liana hamil? Alka menggelengkan pelan dan berkata semoga itu tidak terjadi untuk saat ini.
Ia berjalan gontai keluar kamar sambil berpikir keras. Mengaitkan perubahan pada Liana. Mulai dari emosi, keagresifan, dan permintaan Liana yang kerap membuatnya pusing. Mengaitkan semua itu dengan tanda-tanda wanita hamil.

Alka menggeleng, menepis asumsinya. Ia yakin Liana belum hamil untuk saat ini. Mungkin itu hanya kebetulan saja. Langkahnya terhenti di kursi makan. Segera Alka menarik satu kursi untuk ia duduki. Secangkir kopi susu dan roti tawar sudah tersedia di meja.

Setengah jam lamanya Alka duduk hanya melamun dengan pikiran kosong. Sampai-sampai kehadiran istrinya tidak ia sadari. Tubuhnya tersentak kaget bukan main saat Liana menepuk pundaknya cukup keras karena panggilannya diabaikan oleh Alka.

"Astaghfirullah, sayangku cintaku. Untung suamimu tidak memiliki riwayat penyakit jantung, bisa-bisa kamu jadi janda," ucap Alka mengurut dadanya yang berdebar kaget.

"Abis kamu dipanggil berkali-kali enggak nyahut. Ngelamunin apasih?"
Liana menarik kursi di sebelah Alka, belum sempat ia duduk di kursi itu Alka sudah menarik pinggangnya hingga ia berakhir di pangkuan Alka.

Sebelum Liana beranjak dari pangkuan Alka, kedua tangan Alka sudah melingkari pinggangnya. Mengikat Liana agar tidak bisa beranjak. Dan kini kepala Alka sudah bertengger di bahu Liana, membuat Liana merasakan gelanyar aneh.

"Tumben mandinya cepet, biasanya dua jam baru selesai."

"Males aja, mandinya sengaja cepet. Yang penting Liana wangi, udah."

"Masa sih? Coba sini pipinya aku cium. Beneran wangi atau cuma tipu-tipu."

Liana mendekatkan pipinya ke Alka, yang langsung dicium oleh Alka. Ciuman Alka turun ke leher Liana, mengendusnya sebentar.

"Iya udah wangi, seger lagi. Jadi makin cinta" pujian Alka membuat Liana terkekeh geli.
Suara bel terdengar, Alka dan Liana saling tatap. Siapa gerangan yang bertandang ke rumah di pagi hari seperti ini. Menganggu saja.

"Aku bukain pintu dulu," ujar Liana lalu bangkit dari pangkuan Alka. Alka ikut bangkit, menarik pinggang Liana dengan possessive.

"Kita buka bareng aja, takutnya itu satpam komplek. Takut kamu digodain dan digodain. Pokoknya nanti kalau satpam itu lima detik lebih natap kamu tanpa kedip, aku colok."

Liana hanya geleng kepala dengan tingkah menggemaskan. Alka memang tidak pernah pandang bulu saat cemburu. Satpam komplek saja dicemburui. Satpam komplek sekarang memang masih muda, seumuran dengan Alka dan cukup tampan. Ibu-ibu sering membicarakan. Tapi Liana tidak tertarik, Alka sudah lebih dari cukup.

"Livia?" ucap Alka dan Liana bersamaan saat melihat sepupu Alka yang bernama Livia berdiri di hadapannya dengan satu koper yang ia bawa.

"Hai" sapa Livia girang, menunjukkan senyum lebar pada Alka dan Liana.

"Kamu ngapain ke sini pagi-pagi bawa koper dan----" ucapan Alka menggantung saat melihat Livia tidak sendirian, ada Fara di sampingnya.

"Hm jadi gini, tadi malem nenek ke kosan Livi terus nyuruh Livi buat tinggal di rumah bang Alka aja daripada harus ngekos. Selain biar aman, rumah bang Alka lebih Deket sama rumah sakit tempat Livi koas."

"Tapi--- kenapa harus sama Fara juga?"

"Lho kenapa? Kata nenek Livi harus berterima kasih sama kak Fara, kak Fara kan udah menampung Livi selama ini, jadi kalau Livi pergi, kak Fara harus ikut. Apa bang Alka keberatan? Lagian rumah Segede ini kalau ditinggali berdua itu sayang. Masa sama sepupu nggak mau bantu."

Tangan Liana meremas tangan Alka yang masih melingkari pinggangnya. Pandangannya tidak lepas dari sosok Fara. Liana tidak masalah jika Livi tinggal di sini. Tapi tidak dengan Fara! Catat itu baik-baik. Istri mana yang bisa membiarkan bibit parasit tumbuh di antara rumah tangganya?
Alka menoleh, menatap Liana. Tanpa diberitahu Alka sudah paham.

"Boleh, kan bang? Masa sama adek sepupu pakai mikir segala? Udah iyain aja" celetuk Livi langsung menyeret koper dan tidak lupa mengajak Fara untuk ikut masuk.

Liana mendongak, menatap Alka. Alka sendiri tidak tahu harus seperti apa. Kepalanya ia geleng kan pelan.
"Beri aku waktu sayang, kamu percaya kan? Tolong, kali ini kita selesaikan sama-sama. Jangan kabur, ya?" pesan Alka mencium puncak kepala Liana.

Liana mengangguk, mengajak Alka untuk masuk.

TBC

My Protective DoctorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang