[20] Hell

13.3K 728 117
                                        

Vote sebelum membaca 😉😄

Alleshia's POV

Ini tengah malam, Abigail sudah tidur sejak tiga jam yang lalu. Ya, ini bahkan sudah jam 12 malam.

Aku takut. Aku khawatir. Tapi, aku tidak boleh egois.

Aku terus-menerus membuka tutup Ponselku.

Telfon, tidak?

Kuputuskan untuk tidak menelfon Hunter. Dia pasti sudah tidur. Jika kalian mengira Hunter adalah lelaki nakal sesuai usianya yang mengajak remaja, kalian salah. Hunter itu baik. Sok polos. Tapi, dia bisa menjagaku.

Aku tau isi otak lelaki remaja seperti apa, kebanyakan dari mereka tidak bisa menahat hasrat itu. Tapi, tidak dengan Hunter. Karena itulah aku sangat dekat dengannya. Tidak ada rasa takut atau segan.

Ting!

Aku membuka Ponselku, berharap jika pesan itu berasal dari Kontak Hunter.

Tapi, bukan.

Ini jam 12 tepat. Dan aku belum sama sekali menemukan Abigail. Waktumu tinggal 6 hari.

-H.

What the Actual Fck?

Logika saja, dia yang membuat Abigail melakukan semua ini. Tapi, kenapa seolah aku yang bersalah dan harus mencari Abigail?

Toh, jika ia lelaki sejati, dia pasti akan berjuang mencari Abigail dan anaknya. Bukan malah mengancam seperti ini.

Shut the fck up. Kau gila?
Ini semua karena dirimu sendiri, Bodoh.

Oh, kau belum tidur ternyata. Gadis nakal. Apa yang kau lakukan sekarang? Habis bercinta dengan Pemburu itu, huh?

Diamlah sialan.

Aku bertanya, apa yang sedang kau lakukan sekarang, huh?

Menidurkan Tokek.

Aku segera mem-block nomor Si Brengsek itu. Aku berbicara dengannya, sama saja aku membicarakan hal-hal yang tidak berbobot.

Aku tidak mau mengkhianati Abigail. Apa nanti katanya jika aku ketahuan Mengobrol dengan Harry? Apa nanti dia bilang jika Harry menyelipkan kata-kata vulgar padaku? Dia pasti sakit hati.

Sekarang, tugasku adalah menolong Abigail. Menolong fisiknya dan psikisnya.

Pikir, jika aku tetap menolong ia dari Harry. Tapi Harry selalu menggangguku, dan misalnya suatu saat nanti aku ketahuan? Dia pasti juga akan sakit hati.

Dan juga, jika aku menyerahkan Abigail kepada Harry. Abigail tetap sakit. Abigail tentu tidak mau aku serahkan. Aku tau betapa menyedihkannya Abigail disana. Aku terlihat Egois saat melakukan ini.

Tapi, aku juga tidak ingin terkena masalah. Harry mengancamku sambil menghitung mundur Hari.

Dia benar-benar psikopat.

Aku telah menghitung bulu domba, membaca buku, tapi aku tetap saja tidak bisa tidur. Bagaimana ini?

---------

Abigail's POV

Pagi yang indah.

Aku membuatkan Alleshia secangkir teh dan Roti isi untuk pagi ini.

Hard [H.S]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang