"Iya, ibu. Ibu itu cerewet sekali, nanti juga aku akan menikah."
"Tapi kau itu sudah tua, ibu juga semakin tua, mana ada wanita yang mau denganmu kalau kau keriput, kurangi bekerjamu dan cari istri." omel Ibu Jaehwan.
"Iya iyaa. Sudah sana ibu pilih baju untuk arisan minggu depan."
"Benarkah?" pekik Ibu Jaehwan dengan mata berbinar.
"Iyaa, ibu boleh beli berapapun yang ibu mau."
"Kau memang sulungku yang terbaik!"
Ibu Jaehwan mencubit gemas pipi tembam Jaehwan.
"Kita ke supermarket dulu saja, nanti malah lupa apa saja yang mau dibeli karena bingung memilih baju."
"Iyaa, terserah ibu."
Jaehwan dan Ibunya menyusuri lorong-lorong rak yang terisi barang yang akan dijual. Jaehwan mendorong troli yang hampir penuh, sedangkan ibunya kini tengah bimbang memilih sarden merek apa yang harus ia beli.
Mulai bosan menunggu ibunya, Jaehwan berjalan dan melihat-lihat rentengan saus sambal dengan berbagai merek. Saking asiknya, Jaehwan tak sengaja menubruk gadis kecil hingga terjatuh.
"Kau tak apa?" tanya Jaehwan.
Jaehwan berjongkok untuk melihat keadaan gadis kecil di hadapannya. Sang gadis hanya menunduk terdiam memegangi tangannya yang terbalut perban keras berwarna putih.
"Tanganmu sakit?"
Si gadis tetap terdiam, tanpa Jaehwan sadari, sebenarnya gadis ini sedang menahan tangisnya.
"Jaehwan, kau kemana saja nak?" tanya Ibu Jaehwan lalu menghampiri Jaehwan yang sedang berjongkok.
"Aku menabrak gadis ini, ibu."
"Benarkah?"
Ibu Jaehwan ikut berjongkok, ia mengelus rambut indah si gadis dan menarik dagunya agar mendongak.
"Astaga! Kau menangis? Apa tanganmu sakit, sayang?"
Si gadis mengeluarkan isakan kecil, membuat Jaehwan dan ibunya panik.
"A-ayo aku antar ke rumah sakit."
"Iya sayang, ikut anak ibu ke rumah sakit ya? Hm?"
Ibu Jaehwan merangkul Tan untuk bangun dan berjalan menuju basement tempat mobil Jaehwan terparkir.
"Hati-hati sayang, Jae kau jangan ngebut!"
"Iya ibu."
Sepanjang perjalanan, ia tak berhenti menangis. Sedangkan Jaehwan malah gemas karena tingkah gadis ini lucu padahal sedang menangis. Sedari tadi jantung Jaehwan berdebar dan timbul rasa ingin melindungi gadis kecil di sampingnya ini.
"Siapa namamu, gadis kecil?"
"L-lee Tan. Aku bukan gadis kecil, aku sudah 18 tahun."
"Benarkah kau sudah 18 tahun?"
"Iya."
Jaehwan kembali fokus menyetir hingga ia sampai di rumah sakit. Ia langsung mendaftarkan Tan pada spesialis tulang dan memeriksanya.
"Istri anda tidak apa-apa, ia baru di gips dua minggu yang lalu, jadi masih terasa sakit. Terlebih terkena benturan, tapi tak apa. Sakitnya hanya sementara."
Tan terlihat kaget mendengar ucapan sang dokter yang menyebut bahwa ia adalah istri Jaehwan. Sedangkan Jaehwan hanya memasang wajah datar.
"Apakah perlu obat, dok?"
"Tidak, saya yakin pasti dia sudah mendapat obat dari perawatan sebelumnya, iya kan?"
"Iya." jawab Tan.
"Baiklah. Terimakasih, dok."
"Sama-sama, Tuan Kim."
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Lift yang mereka naiki cukup ramai hingga membuat Jaehwan dan Tan terpaksa berhimpitan dengan posisi berhadapan. Saat, lift terbuka di lantai tiga, cukup banyak orang yang masuk dan tak sengaja menyenggol Tan hingga ia menubruk dada Jaehwan. Tan segera menegakkan kembali tubuhnya.
"M-maaf." lirih Tan.
Jaehwan hanya berdeham sambil terus berusaha untuk menahan libidonya yang tiba-tiba naik karena dada Tan menempel pada tubuhnya.
"Trimakasih, Om Jae." ucap Tan setelah Jaehwan sampai di rumah Tan untuk mengantarnya pulang.
"Om?"
Tan mengangguk lucu. Jaehwan sebenarnya sedikit tidak terima dipanggil Om, namun umurnya memang pantas dipanggil Om.
"Darimana kau tau namaku?"
"Dari Ibunya Om Jae."
Jaehwan hanya mengangguk.
"Masuklah, aku akan pulang setelah kau masuk ke rumah."
Tan masuk ke rumah seperti perintah Jaehwan.
Selama perjalanan kembali menuju mall untuk menjemput ibunya, tanpa sadar Jaehwan senyum-senyum sendiri, bahkan saat perjalanan pulang pun, ia masih tersenyum sendiri sampai ibu Jaehwan heran dengan tingkah anaknya ini.
"Jae! Kau itu jangan menakuti ibu!"
"Aku menyukainya, bu."
"Ha?"
Ibu Jaehwan mengernyit tak mengerti dengan ucapan Jaehwan.
"Aku menyukainya, gadis tadi."
"Kau gila?! Tidakkah ia terlalu muda untukmu, Jaehwan?"
"Cinta tak memandang umur, ibu. Dia 18 tahun."
"18?"
Jaehwan mengangguk.
"Ibu juga menyukainya, dia terlihat anak yang baik dan polos, tapi perbedaan kalian 11 tahun, Jae."
"Apa ibu merestuiku untuk mendekatinya?"
Ibu Jaehwan mengangguk.
"Ibu merestuimu, tapi kau jangan terlalu memaksakan dia, dia baru delapan belas, Jae."
"Iya ibu."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Posessive Jaehwan
FanfictionPosesif dan mesum, itulah Kim Jaehwan. Started : 22 Januari 2018 Finished : 9 Agustus 2018
