Ini sinetron bgt guys:v
"Mas, bangun sayang, makan siang dulu yuk, aku suapin," bisik Tan.
Ia mengelus rambut Jaehwan dan menciumi pipi tembam kesukaannya berharap Jaehwan bangun.
"Aku tidak mau makan," ketus Jaehwan dengan suara serak.
"Sayang, kamu harus makan, biar cepet pulih," bujuk Tan dengan lembut.
"AKU CACAT LEE TAN!" bentak Jaehwan.
"Buat apa aku makan, lebih baik aku mati karena kau pasti akan pergi meninggalkanku sebentar lagi," ucap Jaehwan lalu menitikkan air matanya.
Sudah satu minggu Jaehwan bertingkah seperti ini, semenjak kecelakaan yang ia alami membuat tangan kanannya lumpuh sementara. Jaehwan berubah menjadi pendiam dan pemarah, tak jarang Jaehwan mengamuk dan melempar seluruh barang di sekitarnya saat Tan pergi dari kamar inap Jaehwan walau hanya pergi sebentar untuk membeli roti di kantin rumah sakit, beruntung Tan memahami perasaan Jaehwan dan selalu mendampingi suaminya setiap saat.
Tan bahkan sudah hafal betul bagaimana cara menenangkan Jaehwan yang masih belum menerima kelumpuhan tangannya.
"Sayang, sini peluk,"
Tan menarik lembut tangan Jaehwan agar suaminya itu mau menghadapnya, ia segera meraih punggung lebar yang selalu bergetar di pelukannya seminggu terakhir ini.
Hatinya ikut sakit mendengar tangisan serta rengekan Jaehwan yang memohon pada Tan agar tak meninggalkannya. Tan hanya dapat mengeratkan pelukannya sembari mengelus punggung Jaehwan untuk membuatnya tenang.
Usai tangisan Jaehwan mereda, Tan melepas pelukannya lalu menangkup wajah dengan mata sembab dan berurai air mata milik Jaehwan.
Tan menghapus air mata Jaehwan dan mencium kedua mata suaminya, tak lupa ia mengecup pipi dan bibir Jaehwan.
"Aku disini, nggak akan ninggalin mas,"
Hanya kalimat itu yang menjadi penenang Jaehwan dari ketakutan tangannya tidak bisa pulih seperti dahulu lalu Tan akan meninggalkannya.
"Ja-jangan tinggalkan aku," ucap Jaehwan yang masih terisak.
"Iyaa, nggak akan sayang, sekarang mas makan dulu ya,"
Tan mencium bibir Jaehwan sekilas lalu beranjak untuk mengambil makanan Jaehwan, ia menyuapi Jaehwan dengan telaten, tangan Tan tak lupa untuk terus melakukan skinship dengan Jaehwan agar suaminya itu tenang.
"Minum," pinta Jaehwan.
"Pelan-pelan sayang," ucap Tan saat suaminya minum dari gelas yang ia pegang.
"Aku kenyang,"
Tan mengangguk lalu membersihkan bekas makan Jaehwan.
"Udah jam satu, jadwalnya mas terapi, yuk," ucap Tan, ia menggenggam tangan Jaehwan dengan lembut.
Jaehwan menggeleng ragu, "Kata dokter, tanganku akan sembuh lebih lama dari perkiraan," lirih Jaehwan.
"Kalo mas sering terapi, pasti tangan mas cepet sembuh. Ayo, aku temenin, aku selalu di samping kamu," ucap Tan dengan lembut.
Jaehwan menurut pada istrinya yang tengah menarik tangan Jaehwan untuk beranjak dari ranjang rumah sakit.
Tan menggenggam tangan kiri Jaehwan selama perjalanan menuju ruang terapi.
"Kalau tanganku tidak bisa sembuh bagaimana?" tanya Jaehwan untuk yang kesekian kalinya.
"Aku nggak akan ninggalin kamu," ucap Tan lalu memeluk tangan kiri Jaehwan.
Mereka berjalan dalam diam, Tan tak mau memulai pembicaraan karena ia takut apa yang ia ucap akan memancing emosi Jaehwan yang tengah labil.
"Selamat siang, dok," sapa Tan saat ia memasuki ruang terapi.
"Siang, Nyonya Kim," jawab dokter yang hanya dibalas senyuman dari Tan.
"Mari duduk disini, Tuan Kim,"
Jaehwan duduk di kursi yang disediakan oleh dokter sembari terus menggenggam tangan Tan, ia tak mau Tan pergi sedikitpun.
Tan memperhatikan bagaimana dokter melakukan terapi di tangan Jaehwan sembari terus membisikkan kata penyemangat untuk suaminya, ia ingin Jaehwan cepat pulih, ia tak mau melihat Jaehwan menangis lagi.
"Terimakasih, Dokter,"
"Sama-sama nyonya, jangan lupa pastikan Tuan Kim selalu meminum obatnya,"
Tan tersenyum pada dokter dan mereka melangkahkan kaki menuju kamar inap Jaehwan, "Aku ingin ke taman," pinta Jaehwan tiba-tiba.
"Ayo," jawab Tan sembari memeluk lengan kiri suaminya kembali.
Sesampainya di taman, Jaehwan mendudukkan dirinya pada sebuah kursi panjang, bagaikan deja vu, dulu mereka juga pernah duduk di kursi ini, namun saat itu Tan yang memakai baju tidur rumah sakit.
"Maaf," ucap Jaehwan.
"Maaf kenapa, sayang?"
"Aku keterlaluan, aku memperlakukanmu dengan buruk selama di rumah sakit, aku seakan tak percaya padamu, ak-aku hanya terlalu takut kau akan meninggalkanku, aku tak bisa hidup tanpamu," ucap Jaehwan lalu memeluk istrinya dengan erat.
"Nggakpapa, aku ngerti mas. Mas nggak usah pikirin macem-macem, aku selalu disini, di samping mas, aku nggak akan kemana-mana. Mas tinggal fokus sama terapi mas aja, oke?"
Jaehwan mengangguk pelan dan kembali menangis,"Aku rindu Jaeno,"
"Jaeno juga kangen ayahnya, kata ibu, Jaeno selalu rewel pengen kesini,"
"Bawa dia untukku," rengek Jaehwan.
"Iya, nanti sore Jaeno kesini sama Hyuna, sekarang ke kamar yuk, disini dingin, mas nggak pake jaket, mas kan gampang kena flu,"
"Tapi sampai di kamar aku mau dipeluk terus," rengek Jaehwan.
Tan tertawa kecil dan mengiyakan permintaan sederhana suami tembamnya yang telah kembali menjadi Jaehwan yang manja, "Iya sayang,"
❤❤❤
Sebenernya menolak lupa hari esok, tapi pada akhirnya keinget mulu
#ThankYouWannaOne
#WannaOneWannableForever
KAMU SEDANG MEMBACA
My Posessive Jaehwan
FanfictionPosesif dan mesum, itulah Kim Jaehwan. Started : 22 Januari 2018 Finished : 9 Agustus 2018
