"Sayang, sudah pagi, ayo bangun."
Jaehwan mengelus rambut Lee Tan dengan lembut.
"Lima menit lagi, ma."
Tan hanya melenguh dan merenggangkan tubuhnya.
"Ini aku, sayang."
"Siapa?" jawab Tan dengan suara parau.
"Kekasihmu."
"Kekasihku?"
Mata Tan membelalak ketika ia sadar akan sesuatu. Ia tak pernah memakai bra saat tertidur dan ia ingat bahwa semalam udara terasa panas, ia telah menendang selimutnya hingga terjatuh ke lantai. Tan segera mengambil bantal guling untuk menutupi dadanya.
Jaehwan terkekeh melihat tingkah gadisnya ini.
"Aku sudah melihatnya." ucap Jaehwan.
Tan bangun dan memukul tubuh Jaehwan menggunakan bantal gulingnya berulang kali.
"Dasar Om Jae mesum!"
Jaehwan malah tertawa.
"H-hei, maaf maaf, jangan seperti ini, milikmu bergoyang, milikku jadi menegang."
Tan terkejut mendengar kata-kata vulgar Jaehwan. Ia langsung berlari menuju kamar mandi. Jaehwan gemas melihat ekspresi terkejut kekasihnya, Jaehwan tertawa sejenak lalu keluar dari kamar Tan untuk mengobrol dengan calon mertuanya.
Selesai mandi dan bersiap, Tan menuju dapur untuk sarapan. Jaehwan ikut sarapan bersama dengan keluarga Tan. Melihat anaknya terus terdiam membuat Papa Tan heran, biasanya Tan paling aktif berbicara.
"Tumben kau diam terus."
"Gapapa." ketus Tan.
Tan tak menghabiskan sarapannya, ia langsung bergegas memakai sepatunya.
"Ayo berangkat, om. Ma, Pa, aku berangkat ya."
"Hati-hati sayang."
Setelah Jaehwan pamit pada kedua orang tua Tan, ia berjalan menuju mobil, ia melihat kekasihnya sedang berdiri di samping mobil dengan wajah cemberut. Jaehwan menghampirinya dan memeluk Tan dari belakang.
"O-om." lirih Tan.
"Hm?"
"Kalau mau peluk, jangan disini, ngga enak diliat tetangga."
Jaehwan melepas pelukannya.
"Berarti di tempat lain boleh?"
"H-huh? Ma-maksud aku bukan gitu, om."
Jaehwan mencium bibir Tan lalu membukakan pintu mobilnya untuk Tan. Tan hanya terdiam, ia kaget Jaehwan tiba-tiba menciumnya, hatinya berdebar.
"Masuklah."
"I-iya."
Jaehwan melajukan mobilnya menuju sekolah Tan.
"Nanti pulang sekolah aku jemput,"
"Om nggak sibuk?"
"Untukmu aku tak akan pernah sibuk, sayang."
Tan hanya mendengus mendengar ucapan Jaehwan. Ia membuka buku matematika di genggamannya dan membacanya. Lee Tan gadis yang pintar, salah satu alasan mengapa pihak sekolah tak pernah mengeluarkan Tan walaupun ia selalu menunggak biaya bulanan. Ia berprestasi, bahkan bulan depan ia akan mengikuti olimpiade matematika yang sudah dua kali ia ikuti selama SMA.
"Lee Tan." panggil Jaehwan.
"Hm." jawab Tan tanpa mengalihkan mata dari bukunya.
"Kau masih marah padaku?"
Tan menghela napas.
"Menurut om?"
"Aku minta maaf, aku memang orang yang blak-blakan."
"Aku tau. Om Jae itu mesum, vulgar, mirip kaya om-om hidung belang yang sering teman-teman aku ceritain, ya emang Om Jae udah om-om sih,"
"Tak bisakah kau tak membahas usia?"
"Om marah?"
"Tidak, jika kau membahas usia, aku semakin merasa tak pantas untukmu, aku merasa terlalu tua untukmu."
"Memang,"
Jaehwan terdiam mendengar jawaban dari Tan. Ia semakin minder untuk bisa mendapatkan hati gadis SMA ini.
"Tapi kan aku nggak masalahin umurnya Om Jae. Yang penting Om Jae sayang sama aku, Om Jae baik sama aku, Om Jae tulus sama aku."
Jaehwan tersenyum senang.
"Teruslah berusaha mencintaiku, Lee Tan."
"Iyaa aku usahain ko, Om."
"Terimakasih, sayang."
"Oh iya, Om Jae punya adik nggak?"
Tan mengalihkan pandangannya dari buku matematikanya dan memandang Jaehwan.
"Punya, perempuan."
"Benarkah?!" tanya Tan antusias.
Jaehwan mengangguk.
"Siapa namanya? Umur berapa? Aku boleh kan ketemu sama adiknya Om Jae?"
"Hyuna, Hyuna Kim. Dia dua puluh tiga tahun, sayang. Tahun depan ia akan menikah. Tentu saja boleh,"
"Jadi dia lebih tua dariku?"
"Iya, sayang."
"Dari kecil, aku ingin sekali punya saudara perempuan, aku hanya punya satu saudara laki-laki, namanya Park Woojin, dia seumuran sama adik Om Jae."
Dalam hati, Jaehwan sangat senang karena Lee Tan mulai terbuka padanya, meski Tan belum mencintai Jaehwan, namun ini termasuk awal yang baik kan?
"Ahh, dia yang pernah menjemputmu pakai motor ninja itu ya?"
"Iya, kok Om Jae tau?"
"Aku kan sudah pernah bilang, aku mengikutimu selama satu bulan. Aku kira dia pacarmu, aku sudah down sekali saat itu."
"Om Jae beneran ngikutin aku selama sebulan?"
"Iya, kenapa memangnya?"
"Nggakpapa."
Tan kembali fokus membaca dan menghafalkan rumus matematika. Jaehwan melirik Tan yang sibuk membaca dan menghafalkan rumus. Tak lama kemudian, mobil Jaehwan sampai di sekolah gadisnya.
"Sudah sampai,"
"Benarkah? Cepat sekali."
Tan melihat sekitar memastikan ia sudah sampai di sekolah kemudian melepas seat beltnya.
"Lee Tan."
"Perhatikan gurumu, jangan pulang sampai aku datang menjemputmu, jangan nakal, jangan melirik pria lain di sekolahmu. Paham?"
Tan mengangguk, Jaehwan mengelus kepala Tan dengan lembut lalu mencium kening Tan.
"Aku sekolah dulu ya, Om Jae." ucap Tan lalu hendak membuka pintu mobil sebelum tangan Jaehwan menghentikannya.
"Tunggu, aku mau bertanya satu hal." ucap Jaehwan.
"Apa, Om?"
"Payudaramu, asli kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Posessive Jaehwan
أدب الهواةPosesif dan mesum, itulah Kim Jaehwan. Started : 22 Januari 2018 Finished : 9 Agustus 2018
