Flashback (7)

8.2K 454 38
                                        

"Om Jae, besok lusa papah mau ke Hwayang, mamah juga ikut," ucap Tan sembari memotong martabak telor buatannya sendiri yang ia bawa sebagai bekal.

"Mau apa?"

"Nggak tau, disuruh sama kantornya papah, bilangnya sih biar pangkat papah naik, tapi nyatanya waktu tahun kemaren juga nggak naik," curhat Tan pada Jaehwan sembari menyuapi Jaehwan bekal makan siangnya yang baru ia makan di sore hari.

"Tak apa, kan mamah dan papahmu jadi bisa jalan-jalan ke Hwayang, iya kan?"

"Jalan-jalan apanya, om? Biaya buat kesana kan nggak murah, kita sampai makan mi instan terus selama dua minggu gara-gara uangnya habis buat naik bis ke Hwayang."

Jaehwan meringis, ia lupa bahwa kehidupan kekasihnya ini tak bergelimang harta seperti dirinya.

"Papah bisa menyetir kan?"

Tan mengernyit mendengar pertanyaan Jaehwan.

"Bisa, papah kan dulunya supir taksi. Emangnya kenapa?"

"Pakai mobilku saja, ya? Biar tak usah naik bis,"

"Eh? Nanti ngrepotin om lagi,"

"Tidak sayang, daripada kau makan mi instan dua minggu?"

"Iya juga sih, nanti aku tanya papah deh," ucap Tan sembari tersenyum senang.

Jaehwan mengelus rambut gadisnya dengan lembut, Jaehwan ikut tersenyum tulus lalu menyeringai.

"Berarti, kau sendirian di rumah, aku boleh menginap kan?"

"Nggak! Nggak boleh!"

Jaehwan tertawa gemas saat melihat ekspresi gadisnya yang menggeleng dengan mulut menggembung penuh makanan.

"Ayo katanya mau beli es krim," ajak Jaehwan.

"Ayo, om!" pekik Tan senang.

.

"Jam sembilan harus tidur, jangan belajar, jangan bermain ponsel apalagi membalas pria yang mengirim pesan padamu," tutur Jaehwan saat Tan hendak turun dari mobilnya.

"Iya iyaa sayaang," ucap Tan lalu membuka pintu mobil Jaehwan.

"Oh iya," ucap Tan tiba-tiba.

CUP

"Hehe, hadiah buat Om Jae karna udah nyenengin aku hari ini, daah Om! Hati-hati, jangan ngebut!"

Jaehwan hanya bisa terdiam sembari memegangi pipinya yang baru saja dicium oleh gadisnya yang kini tengah berlari kecil menuju rumahnya.

"Lee Tan, cepatlah dewasa dan menikah denganku," gumam Jaehwan sembari tersenyum.

.

"Sayang, bangun, sudah pagi." ucap Jaehwan sembari mengecupi wajah kekasihnya.

"Nggh om jangan cium-cium,"

"Kenapa memangnya? Cuma cara ini yang bisa membuatmu cepat bangun,"

Tan hanya menghela napas kesal karena tidurnya terganggu.

"Cepat mandi, aku tunggu di depan," ucap Jaehwan lalu mengecup bibir Tan.

Jaehwan keluar dari kamar kecil kekasihnya lalu menuju meja makan untuk berbincang dengan calon mertuanya.

"Tidak merepotkan, pah. Malah aku senang bisa membantu kalian, tapi Jae tidak memaksa kok," ucapan tulus Jaehwan menyambut Tan yang baru saja selesai bersiap untuk ke sekolah.

"Sekali lagi terimakasih, Jae. Kami banyak merepotkanmu,"

"Ini belum seberapa, pah. Aku harus lebih banyak membahagiakan kalian karena kalian telah melahirkan putri cantik yang melengkapi hidupku,"

Ayah Tan hanya terkekeh.

"Jae, kami titip Tan ya, besok kami akan pergi jauh, tolong perlakukan dia dengan baik dan sayangi dia. Tan itu anaknya tidak suka neko-neko, cukup berikan dia banyak cinta saja pasti dia sudah sangat bahagia. Tolong ingatkan Tan makan tepat waktu ya, Jae."

"Iya, pah. Jae akan lakukan semua yang papah minta," ucap Jaehwan.

"Om, ayo berangkat."

"Ayo, sayang. Pah, Jae pamit dulu,"

"Hati-hati ya, nak."

"Kalau papah berubah pikiran, langsung telfon Jae saja, pah."

"Iya, nak."

.

"Om, nanti nggak usah jemput," ucap Tan ditengah perjalanan menuju sekolah.

"Kenapa? Kau pasti mau pulang bersama pria lain ya? Tidak boleh!"

"Om, aku tuh mau tambahan buat olimpiade, pulangnya lebih sore jadinya,"

"Nanti kalau selesai tambahan, langsung telfon aku, biar aku jemput, aku akan menghukummu kalau kau pulang sendirian apalagi bersama pria selain aku,"

"Iyaa ommm,"

"Sini cium dulu,"

"Nggak mau! Kemarin kan udah," ucap Tan lalu pergi meninggalkan Jaehwan di dalam mobil.

Setelah Jaehwan memastikan kekasihnya itu masuk ke dalam sekolah, ia memegangi jantungnya yang sedari tadi berdegup kencang.

"Padahal ia hanya gadis SMA tapi beraninya membuat jantungku hampir meledak seperti ini," gumam Jaehwan.

Wing wing wing wing boomerang!

Jaehwan mengangkat telfon yang masuk ke ponselnya.

"Hallo, nak Jae."

"Ada apa, pah?" jawab Jaehwan pada ayah Tan.

"Emm anu, papah mau pinjam mobil kamu, boleh kan?"

"Boleh, papah. Besok pagi Jae antar mobilnya ya, pah."

"Terimakasih, nak."

"Sama-sama, pah."

.

"Papah kalau butuh sesuatu jangan sungkan bilang padaku," ucap Jaehwan.

"Terimakasih banyak, nak. Sekali lagi tolong jaga anak kami," pinta Ayah Tan.

"Pasti, pah. Aku akan menjaga Tan dengan baik selama papah dan mamah pergi,"

"Jangan lupa antar dan semangati dia olimpiade ya, nak."

"Iya, mah."

"Kami pamit ya, Jae."

"Iya hati-hati pah, mah."

"Sayang sini, nak." panggil Ibu Tan memanggil anaknya yang telah bersiap berangkat ke sekolah.

"Jaga dirimu, jangan lupa makan tiga kali sehari, jangan terlalu lelah belajar, hm? Jangan nakal, yang nurut sama Jae, jangan ngambekan terus, semoga kamu bisa juara lagi di olimpiadenya ya, sayang. Nggak juara pun nggakpapa, kamu udah usaha keras selama ini, kamu tetap kebanggaan papah dan mamah," ucap Ibu Tan.

Tan hanya mengangguk sembari mengerjap bingung.

"Papah sama mamah besok pulang kan? Kok ngomongnya kaya mau pergi jauh? Kan cuma ke Hwayang." Ucap Tan.

"Iya, besok kami pulang,"

My Posessive JaehwanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang