File 20 : Modus Operasi

5.3K 478 9
                                    

Radio komunikasi berdengung.
...

"Cek, cek! Jonopi 1, Jonopi 1, Jonopi1!"

"Di sini Kijang 1, jangan menggunakan nama tugas itu, ganti!"

"Diterima, ganti!"

"Alpha 1, Alpha 1, bagaimana hasil penelusurannya, ganti!"

"Target, berada di tahanan isolasi, distrik 14. Kami ulangi, tahanan berada di tahanan isolasi, distrik 14!"

"Distrik 14? Bagaimana mungkin? Gadis itu merupakan warga distrik 17 dan bahkan bekerja di, rumah sakit negeri. Kenapa justru distrik 14 yang mengamankannya?" pikir Rain.

Cuittt!!!

Radio komunikasi yang kadang-kadang eror membunyikan suara decit.

"Kijang 1, Kijang 1!"

"Diterima, ganti!"

"Tambahan dari divisi intel, kematian informan disebabkan oleh suntikan ¹tetrodotoxin, dan tewas seketika. Sidik jari pada jarum suntik yang digunakan pelaku; adalah milik staf administrasi rumah sakit, bernama Indah Nidadari. Kami ulangi, pemilik sidik jari itu bernama Indah Nidadari!"

"Indah?"

Rain tercengang.

"Kijang 1! Kijang 1!"

"Diterima, ganti!"

"Ganti, ganti?! Celana dalam kamu, tuh ganti!"

Komunikasi dua arah antara Rain dan anggota intel, pun berakhir.

"Ren, Ren!"

Rain menggeleng, tersenyum geli.

...

3 jam perjalanan, meninggalkan Distrik 17 yang agragris.

Andai saja, aku tidak bertugas, pikir Rain, menikmati cuaca.

Pantai-pantai menyapa, bersama semilir angin yang menyejukkan. Lambaian pohon kelapa, riwuhnya aktifitas pinggiran pantai, hingga bebatuan eksotis yang menutupi bibir pantai. Cuaca pesisir yang terkenal panas menyambut kedatangannya.

"Inikah pelabuhan Distrik 14 yang terkenal itu?" pikirnya.

Menurut peta yang dia bawa, ia harus menemukan pertigaan, lalu belok ke kanan. Namun, suara debur ombak dan desir angin memaksanya berhenti sebentar. Sekali lagi ia tersadar, tidak ada yang bisa menyaingi indahnya karya Sang Pencipta.

Kapan-kapan aku akan ke sini, pikirnya.

Pemuda itu mendesah, lagi-lagi tidak bisa menikmati rekreasi. Sambil naik lagi ke atas mobil, ia memeriksa peta lagi.

Sesampainya di markas distrik 14, ia membunyikan klakson. Pagar menjulang tinggi memutari halaman. Gerbang besi bobrok tarikan menuju ke dalam sana dijaga ketat oleh dua orang prajurit bertubuh tegap, dengan kulit mereka yang terbakar matahari.

Sebelum masuk, Rain ditanyai mengenai surat jalan. Ia yang tak punya surat penugasan, pura-pura mencari. Bukanya surat semacam itu, dia justru menemukan kamus Bahasa Inggris tebal, bertuliskan 200 miliar kata.

"200 Miliar? Memang dihitung?" pikirnya, sembari merogoh lagi ke dalam dasbor.

Ia memutar otak, berpikir sesuatu yang bisa mengelabuhi mereka. Pasalnya, tempat itu merupakan penjara dengan penjagaan paling ketat, se-Nusantara.

"Tape?" pikir Rain.

Lagi-lagi, bukannya menemukan sesuatu yang bisa dijadikan alibi, dia malah menemukan benda acak. Kali ini sebuah recorder kecil berwarna hitam, dengan sebuah kaset pita perekam yang masih kosong baik di side-A maupun side-B. Rain mencoba memutar kaset perekam, menatap kosong ke arah mereka, sembari mendengarkan rekaman yang memang kosong tadi. Tiba-tiba, jendela mobil diketok secara kasar dari luar.

File 73Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang