Beberapa tabung plastik kosong tergeletak dalam posisi tersegel plastik steril. Masing-masing tertulis catatan mengenai asal muasal berikut fakta-fakta berkaitan histori benda itu. Sedikit sisa cairan bening, serta kondisi tabung yang kempis. Selang yang menjuntai dari ujung tabung terlipat, menyesuaikan wadah plastik.
Rain mengambil berkas yang tergeletak di atas meja, membaca rincian kalimat demi kalimat, kata demi kata. Lima belas menit sudah proses penyelidikan menjadi hening dan orang di hadapannya hanya diam memberi ruang.
"Jadi, ini sidik jari Indah?" tanya Rain, memastikan kesimpulan yang berhasil ia tarik.
"Benar," angguk pria itu.
Si pria menyandarkan punggung, merasa perannya sebagai saksi kini telah usai. Sedikit menarik jas putihnya, ia menyeruput teh manis yang disediakan anggota dan kini menjadi dingin.
"Apakah anda bersedia menjelaskan semua ini di pengadilan?" tanya Rain.
Saksi yang tidak bisa menjawab karena tengah minum menganggukkan kepala. Hingga akhirnya waktu yang dijanjikan itu pun, datang.
...
Pada saat kejadian, kami kekurangan tenaga medis sehingga saya yang saat itu sedang tidak bertugas dipanggil kembali ke rumah sakit. Sekitar jam setengah satu malam, perawat menelepon ke rumah dan saya baru sampai lima belas menit kemudian. Dokter yang bertugas saat itu menangis dan mengatakan bahwa, jantung pasien sudah berhenti.
Saya lantas memeriksa, lalu bertanya "sejak kapan jantung pasien berhenti."
Dia menjawab, "setengah jam sebelum perawat menelepon."
Saya lanjut bertanya, "apakah sudah menggunakan pacemaker?"
Ia hanya mengangguk sehingga saya berkesimpulan, pasien sudah tewas sebelum kedatangan saya.
Saya menenangkan dokter itu, lalu menyuruhnya melepas elektroda yang masih terpasang di tubuh pasien. Setelah itu, saya mencocokkan jam saya dengan perawat dan menuliskan catatan waktu kematian.
Di luar beberapa anggota militer sudah menunggu. Tidak lama setelahnya, pemeriksaan menyeluruh dilakukan. Mereka kemudian membawa jenazah korban untuk dilanjutkan proses outopsi. Karena sudah terlanjur datang, saya melakukan pemeriksaan mandiri jaga-jaga kalau ada pemeriksaan lanjutan.
"Sidik jari dan infus itu saya periksa sekitar jam setengah dua," pungkas Dokter Susilo.
"Kenapa anda melakukan pemeriksaan sendiri?" tanya jaksa.
"Saya punya pasien seorang anggota, dan kebetulan beberapa kali dimiminta bantuan sebagai ahli medis, jadi itu hanya inisiatif saja," jawab Dokter Susilo.
"Kenapa anda tidak memberikan bukti itu kepada penyidik sebelumnya?" tanya jaksa lagi.
"Mereka sudah menemukan pelakunya, jadi saya pikir itu tidak perlu," jawab Dokter Susilo, "lagipula mereka tidak memintanya," lanjutnya.
"Karena mereka tidak meminta, jadi anda pikir itu tidak perlu?" jaksa.
"Masalahnya, saya hanya menemukan sidik jari seorang perawat magang, orang yang hari itu memang diperintahkan bekerja. Apa yang harus saya katakan?"
"Interupsi yang mulia!" seru penasihat hukum.
"Silahkan!" hakim.
"Menetapkan dan memeriksa barang bukti merupakan wewenang dann tanggung jawab penyidik, bukan ranahnya seorang dokter!"
"Masalahnya, saksi berada di tempat kejadian perkara," sahut jaksa, "menyampaikan bukti juga menjadi tanggung jawab mereka," lanjutnya.
Hakim segera mengambil alih, menanggapi perdebatan kedua belah pihak. Pada dasarnya, Dokter Susilo sudah melakukan tugasnya sebagai seorang dokter dengan sangat baik, khusunya ketika kejadian perkara. Terlepas pernyataan jaksa juga sama benarnya, pada akhirnya saksi tetap memberikan bukti yang dipermasalahkan. Oleh karena itu, hakim menyatakan tidak ada alasan untuk memperdebatkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
File 73
Mystery / ThrillerBuat reader lama mohon maaf nggak jadi revisi singkat gara2 setengah bagian hilang. Mohon maaf juga kalau hampir dua tahun ini gue nggak aktif soalnya, gw pribadi baru bisa dapet akses balik ke akun ini lagi beberapa bulan lalu setelah hp gw ilang...
