File 36 : Menuju Sidang Banding

4.4K 370 7
                                    

Derak papan, cicit tikus, hingga derap lalu lalang langkah kaki yang entah dari mana asalnya. Begitu lewat jam sembilan, suara teriakan akan mulai menggelegar ke seluruh lorong. Kalau sudah begitu sipir terpaksa menjaga di depan sel, karena keluhan semua penghuni tak akan berhenti, sebelum mereka bertindak.

"Saya benar-benar bisa gila, karena satu sel dengannya!"

Begitulah pengakuan rekan sekamarnya, dengan kesal membicarakan keadan sel belakangan ini.

Sambil meringkuk, biasanya kata, 'sebentar lagi,' akan mulai dia serukan sepanjang malam.

"Apa tidak ada yang menegur?" tanya Rain.

"Siap, beberapa orang bilang, 'pernah, tetapi cuman masuk kuping kiri keluar kuping kanan," jawab Sersan Agus, "izin, tanda-tanda awal itu sudah terjadi beberapa kali, tetapi gadis itu terlambat dipisahkan. Bahkan, keadaan menjadi jauh lebih buruk begitu dia sendirian. Saya khawatir, gadis itu tidak bisa bertahan," lanjutnya.

Sersan Agus berdiri tegap, menutup laporannya. Rain yang sedari tadi serius mendengarkan pun, mengangguk, seraya menghela napas.

"Terimakasih sersan, silahkan lanjutkan tugas!" serunya.

"Siap!" Sersan Agus.

Ini lebih buruk dari yang kuduga, pikir Rain.
...

Sudah beberapa hari ini Rain kurang istirahat. Pekerjaan terus saja menghantui. Begitupun hari ini. Sambil membawa setumpuk berkas yang menambah rasa jengkel, Pak Subhan beserta timnya datang menyambung perkara.

"Apakah kalian sadar, ini jam berapa?!"

Rain mengusap kening, menahan pening tujuh keliling yang belum jua kering. Telinganya sampai mendengung, menyertai pembicaraan yang menurutnya tidak terlalu penting.

"Jam tujuh, memangnya kenapa?" jawab Pak Subhan, santai.

Rain menggeleng. Jam kerja baru dimulai jam delapan pagi, tapi sudah disergap masalah kambali. Ditambah lagi, dia sudah lembur tanpa remisi. Ia merasa, hidupnya layaknya seekor sapi.

"Tidak ada kamar lain, mau tidak mau, dia harus di situ sampai persidangan berakhir!" serunya.

"Mm..."

Belum sempat menyela, Rain seketika melotot.

Pak Subhan langsung bergegas pergi mengunjungi Indah. Ia sadar, Rain tidak sedang dalam suasana hati yang baik. Kebetulan, dia dan timnya hendak membahas beberapa hal penting.
...

"Bisakah seekor tikus yang jatuh ke dalam ember berisi air keluar kembali?"

Indah menatap kosong, sibuk memainkan jemarinya yang terluka. Tiap kali merasakan perih dari bekas luka di kedua tangannya, kewarasannya baru muncul kembali.

Pak Subhan yang bingung hanya bergeming, memandangi timnya dengan tatapan heran.

"Kami sedang mengupayakan kemenangan kasus, jangan sampai anda sakit, karena itu akan mengganggu kelancaran persidangan!"

Merasa tidak penting, ia pun enggan berbasa-basi. Beberapa kali, dia beserta timnya menutup hidung, karena aroma tidak sedap yang asal-usulnya masih menjadi teka-teki.

Bau apa ini, pikirnya.

Indah hanya diam, kosong menatap ke depan.

Saat Pak Subhan hendak menegur, tetapi tiba-tiba saja gadis itu melotot dan mengambil sebuah ember lusuh berwarna hitam dari kolong meja. Dengan tatapan megerikan, ia berkata, "jawabannya tidak. Tikus yang masuk ke dalam ember berisi air tidak akan bisa keluar!"

File 73Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang