"Tunggu sebentar!"
Si Kapten menyalakan lentera tua yang dia persiapkan.
"Area depan sana sangat gelap, hanya lentera ini yang bisa membuat pandangan kita lebih jelas," jelasnya.
Terlihat samar-samar cahaya, tapi seketika itu padam. Sekilas cahaya itu memperlihatkan wajah Si Kapten. Bau minyak tanah menyeruak, bersamaan terbukanya sisi samping lentera. Sekali lagi, Si Kapten menyalakan korek api, dan segera menyalakan semua sumbu. Dia tersenyum. Rain terlihat cemas. Cahaya temaram kuning kemerahan menyala-nyala, menerangi lantai gelap bertekstur kasar nan kotor, yang mereka pijak.
"To-o-long!!!"
Wajah keriput seorang pria kurus, menyembul dari sela-sela sel. Tangannya mencakar awang-awang, meronta-ronta dalam ketikberdayaan. Satu hal sederhana yang ia minta. Belas kasihan. Akan tetapi, tampaknya tidak semua orang memiliki itu. Pria itu seketika berlari ketakutan, begitu Si Kapten menendang jeruji sel.
Rain terperangah. Suara-suara bising yang dia dengar dari sekeliling, tiba-tiba berkurang. Adegan itu akhirnya membuatnya mencapai suatu kesimpulan.
Inikah cara mereka menjinakkan tahanan? Pikirnya.
Sambil mengikutinya, pemuda itu senyum tipis. Terlihat raut wajahnya yang ingin menikam dari belakang. Di ujung lorong, mereka berhenti. Si kapten berbalik. Ia menjelaskan, itu adalah tempat paling terdalam.
Rain kembali memasang wajah domba. Ia melihat, tempat yang begitu gelap. Tak ada lubang yang sanggup masuk ke dalam sana, kecuali lubang ventilasi.
"Jika ingin kabur, mereka harus menjebol tembok, tapi sayangnya tembok itu terhubung langsung dengan aliran sungai," ujarnya, "semua tahanan akan mati tenggelam, kalau tahanan di sel ini mencoba kabur," imbuhnya.
"Bagaimana dengan sel lain?" tanya Rain.
Seraya menunjuk langit-langit, Si Kapten menjawab, "ini adalah basement!"
"Siapa?"
Tiba-tiba, sesosok wanita merangkak mendatangi cahaya lentera, seperti seekor serangga yang memburu lampu taman.
"Siapa disana?!" tandasnya.
Suara ini..,
Rain yang tadinya senyum, seketika panik. Meskipun sosok menyedihkan berpakaian compang-camping nan dekil itu nyaris tidak bisa dikenali lagi, suara dan kacamata bulat yang dia kenakan masih sangat lekat dalam ingatan.
"Rain!? Kamukah itu!?"
"Di mengenalmu?" tanya Si Kapten.
"Entahlah!" jawab Rain.
"Ti, tidak! Tidak!!!"
Wanita itu menjerit-jerit. Sang Kapten melotot ke arahnya. Dengan membawa lentera, wajahnya terlihat menyerupai iblis. Menyadari itu, Rain bergegas merebut lentera tadi.
"Kamu menakutinya!" omelnya.
"Baiklah, baiklah! Nikmati waktu 5 menit kalian, saya tunggu di belakang!"
Si Kapten berjalan begitu santainya. Ia amat yakin, mereka tak akan bisa melarikan diri. Decit lantai yang menggema, suara derap kaki menggaung sepanjang lorong, dan suara-suara mengerikan yang terdengar dari mulut para tahanan pun, seketika senyap. Di ujung basement, pria itu senyum sinis.
Rain bergegas menurunkan lentera. Gadis di hadapannya sangat ketakutan. Dengan gemetaran, ia memegangi kepala belakangnya.
"Indah?" panggil Rain, "bangkitlah!" lanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
File 73
Mystery / ThrillerBuat reader lama mohon maaf nggak jadi revisi singkat gara2 setengah bagian hilang. Mohon maaf juga kalau hampir dua tahun ini gue nggak aktif soalnya, gw pribadi baru bisa dapet akses balik ke akun ini lagi beberapa bulan lalu setelah hp gw ilang...
