"Jadi dari tadi kita cuman muter-muter?"
Kalau ingat lagi omelannya itu, rasanya aku tak sanggup menahan senyum. Sungguh ini tidak benar. Setelah penolakan yang dia lakukan, entah mengapa rasa suka ini justru malah bertambah.
Ditolak?
Ya, untuk kali pertama dalam hidupku, aku ditolak oleh seorang pria.
Setelah pertemuan singkat itu, takdir yang kejam mempertemukan kami lagi dalam bentuk yang berbeda. Saya yang dituduh membunuh harus melewati ujian berat sementara sebagai penegak hukum, dia akhirnya menyelamatkan saya. Jika bukan karena pertemuan pertama kami yang membuat jantung berdegup, saya pasti tidak akan salah paham dan terlalu percaya diri.
"Aku suka kamu!"
Hanya karena sebuah perhatian yang tak pernah diduga, tanpa pikir panjang kata itu terlanjur terucap. Sialnya, lag-lagi suatu hal yang tidak pernah diperkirakan terjadi lagi.
"Apakah kamu suka hujan?"
Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlantar dari bibirnya yang terkunci sampai beberapa menit tadi.
Seperti sesuatu yang menyirami rasa gelisah dan pedih yang pernah kualaimi, aku menyukai hujan.Andaikan saja aku mengatakan itu alih-alih cuman mengangguk, apakah itu akan merubah segalanya?
Atau mungkin, tidak suka adalah jawaban yang lebih baik? Sungguh itu masih begitu membingungkan sampai dengan hari ini.
Sosoknya jalan dengan badan tegap tengak-tengok mencari sesuatu di lorong rumah sakit masih ku ingat layaknya baru kemarin. Rambutnya lurus sedikit berantakan, memakai seragam loreng dengan sepatu dinas yang suaranya menghentak. Sorot matanya tajam, sayu seperti orang yang kurang tidur. Mungkin karena itu juga, dia tidak tahu arah jalan waktu itu. Setiap kali hendak memakai kacamata ini, kenangan itu terus muncul.
"Mbak?"
"Ya?!"
"Mbak Iis, nggak apa-apa kan?"
"I-Iya, maaf!"
"Oke, kalau tidak keberatan, tolong dilanjutkan lagi ceritanya, tapi saya opening dulu, ya!"
"Oke, oke!"
Ya, selamat malam para pendengar Seputar 13 FM, jagoan berita, di mana pun, anda berada. Masih bersama saya Mister J, di acara Curhat Malam. Punya masalah segunung, tapi nggak mau cuman merenung? Unek-unek terpendam yang nggak bisa lagi diredam? Ini dia curhat malam. Curhat nggak, sih?
Curhat dong ya, masak enggak.
Barusan kita udah dengar lagu, "melamun," seperti narasumber kita hari ini yang belakangan ini lagi melamun terus. Okelah ya, tanpa berlama-lama lagi, mari kita langsung lanjutkan saja.
Kenapa sih, yuk kita cari tahu!
"Silahkan Mbak Iis!"
"Setelah itu, dia diam beberapa saat yang membuat perasaan aku jadi tidak enak. Mungkin saat itu, aku sudah sadar apa yang akan terjadi."
"Maaf saya potong, Mbak Iis bilang, 'sidik jari Mbak Iis ditemukan pada alat pembunuhan dan embak juga tidak punya alibi.' Bagaimana mungkin embak dibebaskan dari segala tuduhan?"
"Pernah lihat rak piring belum?"
"Pernah."
"Kalau kita sadar, biasanya piring yang berada paling ujung itu pasti berdebu. Itu karena kita cenderung mengambil piring yang terdekat."

KAMU SEDANG MEMBACA
File 73
Mystery / ThrillerBuat reader lama mohon maaf nggak jadi revisi singkat gara2 setengah bagian hilang. Mohon maaf juga kalau hampir dua tahun ini gue nggak aktif soalnya, gw pribadi baru bisa dapet akses balik ke akun ini lagi beberapa bulan lalu setelah hp gw ilang...