File 42 : 127.19 FM Seputar 13, Jagoan Berita!

3.5K 351 7
                                    

Tekanan emosi menyelimuti ruang sidang. Tapi tidak semua orang merasakannya. Segelintir hadirin sibuk sendiri, petugas pengaman berdiri tegap mamantau jalannya sidang, dan orang-orang yang diusir mencari cara masuk kembali. Sebagai orang menggeluti bidang yang tidak jauh berbeda, si jaksa menyadari tekanan itu. Ia curiga Rain belum terbuka sepenuhnya.

"Katakan saja semuanya, keamanan anda sebagai saksi terjamin," ujarnya.

"Terjamin? Oleh siapa, anda?" Rain tertawa terbahak-bahak, "anda pikir siapa anda?" lanjutnya, dengan nada meremehkan.

"Kami akan membuat surat dan menyuruh anggota mengawal anda," ujar jaksa.

"Yah, ujung-ujungnya nyuruh," gumam Rain, "anda lupa saya siapa, ya? Kalau saya saja sudah dua kali ha-"

"Tidak usah diteruskan!" putus hakim.

"Siap!"

Dengan jahilnya, Rain tersenyum.

Jaksa muda berkacamata berdiri, belum menyadari situasi sekeliling. Ia masih saja berusaha mendesak.

"Anda masih belum..."

Plak!

Suara gamparan menggelegar.

Kacamata si jaksa muda terlempar. Dengan raut wajah bingung, ia menatap seniornya yang berdiri dengan tangan terangkat. Dampak yang ditimbulkan pun, mulai terasa. Pipinya yang memerah semakin terasa panas.

Tertunduk memegangi pipi, ia mulai merangkak mengambil kacamatanya yang jatuh, sementara seniornya duduk kembali.

"Bisakah kamu diam?" omelnya, "maaf yang mulia!" lanjutnya.

"Ini sungguh memalukan!"

Hakim mendengus, lelah menghadapi sidang.

"Saudara saksi silahkan maju!" serunya lagi, "ambil tanda pengenal saudara dan kembali saja!" lanjutnya.

"Siap!" jawab Rain, semangat.

Keributan itu membuat geger. Seisi ruangan tertegun, berusaha menelaah apa yang terjadi. Sementara Rain maju, mereka saling berbisik membandingkan dugaan.

Satu-satunya yang tidak menunjukkan reaksi terkejut hanya Pak Subhan. Ia malah tertawa puas. Sampai-sampai, rekannya yang ingin membicarakan hal penting terpaksa harus mendekat.

Begitu rekannya selesai berbicara, barulah wajahnya berubah pucat.

"Apa katamu?!" tanyanya, kaget.

"Hasil pemeriksaan stasiun radio sudah keluar, dan petugas sedang membawanya," jawab si rekan.

"Bukan yang itu, sebelumnya!" Pak Subhan.

Rain jalan santai mengambil kartu identitasnya, acuh akan situasi sekeliling. Tatapan tajam Pak Subhan pun, seolah angin lalu saja baginya

"Apa maksudmu mengatakan semua itu?" tanya hakim.

"Bukankah anda paham maksud pertanyaan mereka?" balas Rain.

"Tentu saja."

"Apakah saya kelihatan seperti orang yang akan menggadaikan hukum hanya karena alasan itu?"

"Siapa tahu?"

"Anda melihat nama di paling atas, dalam surat itu, kan?"

Rain menunjuk surat pengantar yang melengkapi kartu identitasnya.

"Ya aku melihatnya dengan sangat jelas," jawab hakim, memeriksa sekali lagi, "kalian memang terlihat mirip!" imbuhnya.

"Kalau begitu, mana mungkin saya melakukan hal bodoh seperti itu," ujar Rain, "saya akan menjadi orang pertama yang mengantarkannya ke penjara, kalau orang terdekat saya melanggar hukum! Ini sih, pelecehan namanya!" lanjutnya, menggerutu.

File 73Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang