Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

24. Chrysanthemum

2.6K 214 48
                                        

👻👻👻

.

.

MATURE ALERT!

Up permanent dgn sedikit pengubahan.

Selamat idul fitri 🙏

Nb: ini part flashback.
Happy reading!

.

.

.

.

Malam ini gue akan mencoba membicarakannya dengan Mas Yilay. Nggak mungkin dia nggak tau? Atau mungkin lebih tepatnya dia yang enggan untuk memperbincangkan masalah ini.

Bukannya gue menganggap Mas Yilay menolak kenyataannya, cuma gue khawatir dia ternyata menghindari topik itu karena mungkin gue akan berubah. Sama seperti yang dia pernah bilang sebelumnya.

"Ah...!"

"Argh..! Alice..!" racau Mas Yilay yang entah kesekian kalinya. Punggung gue, kaki dan sendi gue, bahkan leher gue semuanya pegal. Apalagi perut. Ini semua adalah ulahnya, dan juga gue yang mau-mau aja menuruti Mas Yilay.

"Eunghhh! Mas.." ejan gue saat semua hasrat gue terkumpul di pusat kepala gue.

"Uh.. Uh.. Akuh.. nggak hh.. kuat Masss!" gue menarik sedikit diri gue. Dalam posisi menungging membuat gue susah bernapas dan sendi kaki gue pegel. Beberapa kali dalam posisi ini gue selalu menyerah. Gue rasa Mas Yilay sadar akan kepayahan gue. Dia membiarkan tubuh gue ambruk di kasur dengan napas yang masih belum teratur. Biarkan gue bernapas sejenak!

"Gimana, udah mendingan?" tanyanya memastikan setelah beberapa saat melihat gue dengan napas panjang kemudian mulai teratur. Gue tau dia nunggu. Jujur gue nggak sanggup kalau kayak tadi lagi. Tapi lebih kasian lagi nasib suami gue.

"Udah, nggak papa Mas." ucap gue lalu beranjak bangkit. Tapi Mas Yilay menahan lengan gue hingga gue nggak bisa bangkit lagi. Kami saling berpandangan sebentar dan akhirnya gue tetep memaksa buat bangkit.

"Berbaring! Nggak papa, Mas nggak keberatan." ucapnya dengan senyum yang menenangkan. Dia terus memaksa gue untuk berbaring. Gue nggak menyangkal kalau gue memiliki suami yang sangat perhatian seperti ini.

Lalu dengan perlahan tangan kanannya yang semula memegang lengan gue turun. Ia menyentuh pinggul gue, kemudian naik ke pinggang gue, mengusap perut gue sebentar hingga gue meremang kegelian dan akhirnya mendarat di buah dada gue. Agak sakit. Memang agak bengkak sedikit gue rasa. Gue pikir ini nggak mungkin kalau gejala premenstrual gue.

"Ah... Sshh..." desis gue kelepasan. Mas Yilay menciuminya seperti orang kehausan dan gue mulai menjambaki rambutnya untuk berbagi rasa. Karena ulahnya, gue nggak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya gue menarik kepala Mas Yilay dan mempertemukan indra kecap kami untuk saling bertautan. Entah gue atau Mas Yilay yang memulai duluan, tapi kami melakukannya cukup lama. Desahan nafas dan aroma tubuh Mas Yilay gue tangkap dengan rasa ingin.

"Eungh!"

Dan lenguhan gue menandakan mulainya gelombang ombak kecil yang datang ke dan dari pusat tubuh gue.

Mas Yilay mengecup kening gue dan mendekatkan bibirnya di telinga gue. Gue tebak, dia pasti menggombal lagi soal bunga krisan.

"Karena kamu, Mas telat berangkat lagi." ucapnya lalu menghembuskan napas di leher gue yang membuat gue merinding dan berjingkat dalam waktu singkat.

MY HUSBAND IS A VAMPIRECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang