Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

13. Okay, Let's Do It!

3.6K 291 160
                                        

👻👻👻

.

.

.

.

.

Wah! Gue nggak percaya diusir gitu aja sama Tuan Baek. Hanya gara-gara dia mencium bau aneh dari tubuh gue, dia buang gue? Isshhh...!

Emang gue bau banget ya? Perasaan ini bekas parfumnya masih kecium kok. Apa dia nggak suka aroma parfum gue?

"Alice!"

Mendengar panggilan itu, gue menghentikan langkah gue dan mata gue menyipit buat melihat sosok yang berada di ujung jalan tempat gue berdiri.

"Mas?" ucap gue setelah tau sosok itu adalah suami gue. Dia berlarian menghampiri gue. Heran, biasanya dia nggak nyariin kayak gini?

"Mas kenapa ke sini?" dia bahkan sampe ngos-ngosan. Udara panas gini dia masih sempet-sempetnya pake jaket tebel, topi, berikut masker buat nutupin setengah wajahnya.

"Mas nyariin kamu."

Gleg!

Gue menelan ludah gue sendiri. Jadi bener omongan Tuan Baek itu? Suami gue nyariin gue?

"Mas nyariin aku?" tanya gue masih belum percaya.

"Udah, ayo pulang!" dia langsung narik tangan gue di genggamannya.

"Mas kenapa sih? Dari tadi Mas nggak mau bilang apa-apa kenapa Mas nyusulin ke sini buat jemput aku?"

"Karena kamu...- Ah, nggak papa. Pokoknya kamu ikut Mas pulang. Apa susahnya sih pulang kalau kerjaan udah kelar? Mas khawatir sama kamu!"

Gue mengernyit. Aneh Mas Yilay tiba-tiba khawatir sama gue. Dia selalu sabar nunggu di rumah. Gue nggak nyangkal kalau dia kadang-kadang pengen perhatian lebih, tapi apa harus sejelas ini?

Apa gue harus ngajak dia ngobrol sambil nongkrong makan di mana gitu? Kayaknya akhir-akhir ini sikapnya agak aneh. Ya setelah perdebatan terakhir kami soal gue pengen hamil.

"Mas?" panggil gue saat kami sedang menunggu bus di halte. Lumayan ramai sih. Lagian ini juga waktunya jam makan siang. Banyak orang berlalu lalang apalagi jalan raya juga ramai dan beberapa kali macet di lampu merah.

Dia masih nggak mau nyahut gue. Tangan kami yang bertautan di saku jaketnya membuat beberapa orang melirik kami. Mungkin dia risih dengan hal itu dan mengabaikan panggilan gue.

"Mas laper nggak?" ucap gue sambil mengelus lengannya. Ya setidaknya sentuhan membuatnya fokus ke arah gue.

Dan akhirnya dia melengos ke arah gue. Walaupun hanya terlihat mata kecilnya aja, setidaknya dia respon gue.

"Kita makan di rumah aja." ucapnya dingin.

Gue sih cuma mendesah kesal aja. Kenapa lagi sih? Sensian banget. Padahal gue ngarep dia bisa bersikap romantis lagi. Setidaknya gue dapet perlakuan manis dari penolakannya tempo lalu.

Asli gue juga masih kecewa, kesel terlebih lagi. Karena Mas Yilay tiba-tiba aja bersikap dingin ke gue sebelum dia benar-benar bentak gue waktu itu.

***

Flashback👇


Derap kaki gue yang menghentak-hentak disadari oleh suami gue yang masih duduk termenung di meja makannya. Tadi gue sempet ninggalin dia karena dia nolak makanan gue. Dia pikir gue akan bunuh dia dengan makanan sehat itu.

MY HUSBAND IS A VAMPIRECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang