👻👻👻
.
.
.
.
.
Alice Side....
Kembali ke keberadaban gue.
Mungkin kota nggak jauh beda saat gue ada di kampung. Namun berada di rumah nenek justru menambah kenangan buruk bagi gue. Jadi, gue memutuskan untuk tinggal di kota bersama suami dan saudara perempuannya yang berisik. Ditambah vampir kaku yang kerap terlihat seperti pajangan porselen itu.
Ckckck...
Sampai di sini, hidup gue bukannya tambah normal tapi tambah aneh dengan kehadiran mereka.
Semenjak pulang gue memang lebih banyak berdiam diri, selalu menghindari percekcokkan dengan Kak Irene, mengabaikan sapaan hangat Mas Yilay, dan seolah berlagak O'Sean versi perempuan. Kayak patung!
Langkah kaki dan gerakan gue seakan tak bernyawa. Yah, semenjak gue menyadari Mama gue bukanlah Mama gue yang dulu. Gue dicaci karena Papa dan nenek, lalu dengan kejamnya ia menganggap gue mati dan dengan riang hati anak lain memanggilnya sayang sebagai seorang malaikat yang berwujud Mama.
Nggak ada seorang anak pun yang mau diperlakukan seperti ini, setahu gue.
Jujur, gue cemburu! Gue nggak munafik!
PRANKK!
Tanpa sadar tangan gue yang licin karena sabun menjatuhkan piring ke dalam bak cucian hingga ia dan teman-temannya bertubrukkan dan pecah.
"ALICE!" teriakan Mas Yilay dan suara ricuh datang menghampiri gue.
"Kamu nggak papa?" periksa Mas Yilay lalu membasuh tangan gue dengan air mengalir hingga sisa sabunnya tidak menempel di tangan gue. Ia juga menyeka tangan basah gue dengan handuk kemudian memapah gue agar pergi dari dapur.
"Kak tolong bersihin! Aku anter Alice ke kamar dulu." ucapnya pada Kak Irene yang juga hadir di sani.
"Kalau lagi nggak enak badan jangan kerja dulu! Mas takut kenapa-kenapa. Kayak tadi, bisa aja kan kamu kena pecahan piring itu? --- Oke, sekarang kamu istirahat, tiduran aja di sini! Mas bantu beresin rumah, baru setelah itu temenin kamu. Ya?" gue mengangguk lemah dan membiarkan semua beres dengan keputusannya. Gue nggak sanggup untuk berpikir lagi. Mungkin kecerobohan gue tadi karena gue terlalu berpikir terlalu keras tentang masalah yang sedang gue alami ini.
Mas Yilay menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh gue dan memberikan bantal ternyaman untuk gue berbaring di sini.
Namun hanya berkisar beberapa menit saja, gue merasa bosan dan nggak betah lama-lama terdiam di kamar. Gue butuh sesuatu untuk melampiaskan emosi gue yang sempat tertunda tadi.
Jadi gue memutuskan untuk bangun dan mencari kardus lama gue di atas lemari. Sambil naik di kursi kecil gue menurunkan kardus itu. Lemari baju gue nggak tinggi-tinggi amat, jadi gue gampang ngambilnya.
Gue terduduk di lantai sambil mengais-ngais barang-barang yang tertumpuk berantakan itu. Gue mengeluarkan mereka satu persatu hingga apa yang gue dapet ketemu.
Seperangkat kuas, beberapa krim warna yang agak kering di ujung-ujungnya, dan palet yang lumayan kotor karena debu.
Yang terakhir gue butuhin adalah kanvas atau mungkin kertas putih bersih untuk media gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HUSBAND IS A VAMPIRE
FanfictionSuami gue bilang dia adalah vampir. Dia bahkan mengaku bahwa telah membunuh nenek. Pria itu juga bilang kalau gue adalah pasangannya yang telah ditakdirkan. Tapi gue nggak bisa percaya begitu saja. Gimana gue bisa percaya, jika dia tiap hari kalunga...
