Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

2. Sweet Person

4.8K 461 142
                                        

👻👻👻

.

.

.

.

.

Setelah hari gue kenalan sama Yilay, si pria misterius yang selalu berdiri di belakang pohon cemara, yang melihat jendela gue, kini dia nggak lagi sembunyi-sembunyi di sana. Sekarang karena dia udah tahu jam berapa kapan gue pulang, dia selalu nongol di depan rumah. Yah, walaupun dia nggak gue ijinin masuk. Gila, dia itu nggak pernah mau bilang siapa identitas dia sama sekali. Mana mungkin gue seenaknya ngijinin orang nggak dikenal masuk rumah? Walaupun gue udah tahu namanya sekarang.

Sore ini gue dengan menggendong ransel besar gue sambil menenteng kanvas bekas lukisan gagal gue waktu di kampus, gue sampai di rumah. Dengan jalan kaki tentu saja. Gue nggak kaget sih liat Yilay udah berdiri di depan rumah sambil mondar-mandir di sana. Masih dengan pakaian tertutupnya, dia yang sadar gue dateng langsung mematung di sana sambil memandangi gue. Gue yakin di balik masker hitamnya itu dia pasti tersenyum nyambut gue. Gue harap sih iya, karena sekarang gue benar-benar tersenyum padanya. Rasanya beban gue seharian ini lepas begitu aja saat bertemu dengannya.

"Udah lama dateng?" tanya gue saat gue udah sampai di depannya. Dia cuma menggeleng. Pandangan matanya turun dan gue ikutin dia, ternyata dia liat kanvas gue. Penasaran apa dia?

"Ini kanvas lukis gue, lukisannya jelek." ucap gue sambil nunjukkin hasil karya amburadul gue. Entah kenapa dia cuma diem dan masih ngliatin coretan asal gue di papan lukis ini. Dia ngambil kanvas di tangan gue dan dia liatin

"Indah." ucapnya singkat.

Nih orang nggak bisa menilai sebuah karya seni apa sih? Cuma coretan-coretan kayak bayi lagi megang kuas gitu dibilang bagus. Mata dia juling apa ya?

"Nggak, ini jelek!" sahut gue sarkas sambil merebut kembali kanvas itu dari tangannya dengan kesal. Gue pikir pria ini cuma gombalin gue dengan pura-pura bilang indah.

"saya nggak bisa bilang jelek, karena karya seni itu sifatnya unik. Kayak kamu."

Nafas gue tiba-tiba tersengal. Gue nggak lagi ngayal kan ada cowok yang lagi gombalin gue modelan kayak begini? Yang bisa bikin jantung gue seketika mau copot.

"Saya nggak gombal."

Lah, dia nyadar diri ternyata. Gue cekikikan dalam hati. Ada ya orang gombal dengan nada bicara datar kayak gitu?

"Tunggu di sini ya!" ucap gue kemudian bergegas masuk. Gue yang tadi datengnya capek sambil ngeluh-ngeluh rasanya kembali bersemangat lagi. Yah walaupun sempet kesel karena gombalan Yilay. Tapi gue terhibur kok.

Gue lihat meja makan yang ternyata masih kosong, udah sore gini nggak ada makanan tersedia. Gue hanya melenguh. Mengingat nenek gue udah sepuh dan tinggal gue yang masih full tenaga begini, gue lebih baik masak. Tapi kalau gue masak lama. Ah biarin, biarin Yilay nunggu. Toh dia kan biasanya juga nunggu, bahkan tanpa gue minta dan tanpa gue kasih apa-apa.

***

Nasi masih, telur ada, ya udah gue bikin nasi goreng aja deh. Mumpung gue lagi seneng. Bawangnya dibanyakin enak nih.

MY HUSBAND IS A VAMPIRECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang