👻👻👻
.
.
.
.
.
.
Aroma tanah yang basah karena air hujan semalam masih mengikat kantuk gue. Semalam benar-benar hujan deras. Hujan pertama setelah musim kemarau yang panjang tentunya.
Rasa malas menyelimuti niat gue untuk bangun. Nyaman di dalam pelukan hangat selimut, walaupun kecupan geli di punggung gue yang ditimbulkan oleh seorang makhluk sok manis ini membuat gue gelisah.
"Mas..! Udah, aku kegelian." protes gue saat rasa geli itu tak tertahankan.
"Nggak ah, Mas gemes sama kamu." dan Mas Yilay tetep nyiumin kulit polos gue tanpa ampun.
"Emang Mas nggak laper? Masak yuk!" ajak gue mengalihkan.
Dia diam dan menatap gue dari belakang. Gue menengok saat wajahnya benar-benar dekat ke arah gue. Ada gelenyar geli dalam diri gue dan semoga itu adalah hal yang baik.
"Nggak. Mas selalu kenyang kalau ada kamu." ucapnya beralasan. Dia beralih menyium ujung pundak gue lembut.
"Ihh.. Gombal!" ucap gue menggoyangkan lengan gue agar terlepas darinya.
Gue memutar badan gue hingga berhadapan dengannya. Gue terbaring sedangkan dia memangku tubuhnya dengan sikunya.
"Emang kenyataannya gitu, sayang.-" godanya menyusupkan jemarinya di sela-sela jari gue.
"- cuma liat kamu aja rasa lapar Mas ilang. Jadi jangan pergi dari Mas, humm?" lanjutnya yang membuat gue tersenyum manis padanya.
"Untuk Mas, aku nggak akan pergi."
Gue tahu, gue nggak akan bosan untuk hanya sekedar menatap wajahnya.
"Aku sayang Mas."
"Mas lebih sayang." sahutnya cepat dan dia langsung mengendikkan badannya hingga dadanya dengan eksplisit menempel di badan gue. Ia menarik senyuman hampir bersamaan dengan hembusan napas di pundak gue.
"Mesum!" ucap gue dan gue langsung mendorong dadanya menjauh dari gue. Namun dengan apik Mas Yilay menarik tengkuk gue dan membuat kami berciuman. Ciuman manis di pagi hari.
***
Gue seneng dia baik-baik aja setelah dia maksa gue buat mengisap darahnya di sayatan kecil yang dibuatnya sendiri. Gue bahkan panik banget saat darah itu mengalir dari telapak tangannya. Mas Yilay benar-benar nekad berbuat gila seperti itu.
Untuk menghindari luka yang semakin parah gue bergegas untuk mengisapnya, walaupun rasa jijik meliputi gue saat itu.
Gue serasa jadi vampir ketimbang membayangkan Mas Yilay menghisap darah. Bahkan sampai sekarang gue nggak pernah memergokinya melakukan hal itu. Maksudnya darah segar, bukan darah binatang yang dibekukan saat dia ngajak makan bareng di pinggir jalan waktu itu.
Mas Yilay sendiri yang mengintruksi gue kapan gue harus berhenti mengisap darahnya. Gue agak kaget saat luka itu tiba-tiba lenyap ketika gue melepaskan mulut gue.
Dan setelah itu gue merasakan pusing yang sangat hebat. Tubuh gue yang lemas langsung ambruk di dada Mas Yilay saat ia menarik gue. Kami berpelukkan cukup lama dan sebuah memori berputar kembali. Kejadian 5 tahun lalu di dalam rumah pohon yang aneh terjadi kembali di malam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HUSBAND IS A VAMPIRE
FanfictionSuami gue bilang dia adalah vampir. Dia bahkan mengaku bahwa telah membunuh nenek. Pria itu juga bilang kalau gue adalah pasangannya yang telah ditakdirkan. Tapi gue nggak bisa percaya begitu saja. Gimana gue bisa percaya, jika dia tiap hari kalunga...
