👻👻👻
.
.
.
.
.
.
Tadinya gue mau diajak makan bareng dulu di warung baso, tapi gue tolak. Semarah-marahnya gue sama suami sendiri gue juga mikirin perutnya dia. Dan akhirnya gue pamit pulang duluan dan menyia-nyiakan traktiran gratis Kepsek gue yang lagi baik hati itu.
Gue udah turun dari bus dan jalan di gang menuju rumah kontrakan gue. Kita pun masih ngontrak. Cari rumah baru itu mahal, apalagi rumah nenek yang dulu nggak kami jual. Dan tiba-tiba gue kangen rumah itu.
Tahun ini kami udah jarang banget pergi ke sana. Mungkin Mas Yilay udah bosen. Di sana kita nggak ngapa-ngapain. Kayak cuma sekedar pindah tempat sementara. Mungkin kalau kita punya anak. Ceritanya nggak bakal kayak gini. Mungkin kita bisa piknik bareng atau melakukan hal menyenangkan lain. Biasanya mereka itu kreatif, dan karena itu gue suka anak-anak.
Gue tersenyum sendirian sebelum akhirnya gue kaget mendapati Yilay berdiri di depan rumah kami. Dia bahkan berpakaian rapi dan mengenakan jaket. Gue yang penasaran melanjutkan langkah gue yang terhenti tadi.
"Mas?" panggil gue saat jarak kami hanya terpaut 1 meter. Dia tersenyum.
"Udah pulang? Mas,-"
"Mas mau kemana?" ucap gue mendahului. Gue sedikit menyimpan curiga karena suami gue mau pergi sore-sore gini. Kan jam kerjanya malem?
"Mas mau ajakin kamu jalan. Makanya Mas nunggu di sini. Karena kamu udah dateng, yuk!" tiba-tiba Yilay gandeng tangan gue dan ditariklah gue kembali menyusuri jalan yang udah gue lewati. Lah, sia-sia gue jalan dari tadi. Kenapa dia nggak nunggunya di depan gang sih? Dia mah seneng, guenya yang capek.
"Mau kemana sih Mas?" ucap gue mengulangi pertanyaan tadi yang belum sempet gue pahami.
"Jalan."
"Iya, jalan ke mana maksudnya? Aku nggak ngerti. Mas udah makan belum?" gue masih mencemaskan perutnya. Mungkin cuma suami gue yang nggak rewel soal makanan. Dia makan ketika gue makan, atau nggak dia bakalan nyari snack sendiri di kulkas yang udah gue siapin.
"Kita makan di luar. Kita pacaran."
"Hoh? Mas serius? Kita udah nikah, bukan pacaran lagi." tukas gue yang berpendapat beda dari suami gue. Sia pun cuma terkeh geli kemudian masukin tangan kanan gue di saku jaketnya.
"Emangnya suami istri nggak boleh pacaran?"
Cup!
Mendadak langkah kami berhenti saat Yilay nyium pipi gue. Dia berdeham saat gue mulai larut ke dalam fantasi liar gue.
"Kamu lucu kalau lagi ngelamun gitu. Hmm!" ucapnya sambil mencubit pipi gue gemas.
"Sakit!" gue mengusap pipi gue sendiri. Bukannya minta maaf dia malah ketawa. Emang selucu itu kalau gue ngelamun?
"MAS!" pekik gue sambil pukul lengannya kesal. Gue luapin kekesalan seperti gue udah ngelupain kejadian pagi tadi. Entah kenapa Yilay selalu membuat gue nggak lama-lama marah sama dia?
***
Gue mendumal kegirangan saat tahu suami gue mengantar langkah kami ke pasar malem. Gue bahkan nggak nyadar di dekat tempat tinggal gue didatangi mereka. Sumpah gue seneng banget. Bukannya gue anak kolot, tapi gue udah lama nggak main ke tempat ini. Bahkan selama pernikahan kami pun. Gue selalu kehilangan momen ketika pasar malem berkunjung ke kawasan ini karena kesibukan malam kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HUSBAND IS A VAMPIRE
FanfictionSuami gue bilang dia adalah vampir. Dia bahkan mengaku bahwa telah membunuh nenek. Pria itu juga bilang kalau gue adalah pasangannya yang telah ditakdirkan. Tapi gue nggak bisa percaya begitu saja. Gimana gue bisa percaya, jika dia tiap hari kalunga...
