"Maaf kalau perpisahan kita kemarin gak secara baik-baik dan sangat menyakitkan buat lo."
***
"Lupain semua janji yang pernah gue ucapin ke lo, anggap semua itu hanyalah ilusi lo semata. Maaf gue gak bisa mempertahankan kisah kita sampai akhir."
***
"Terimakasih selama ini lo selalu jadi penerang dihidup gue yang gelap. Lo akan selalu jadi fireflies terindah didalam hidup gue. Meskipun gue pergi jauh kemana pun, dan dengan siapapun, tetap nama lo yang ada disini."
⚘⚘⚘
Amanda merasa jenuh berada dikelasnya, ia membolak-balikan ponsel ditangannya. Hari ini seusai jam istirahat pertama tidak akan ada guru yang masuk ke kelasnya hingga bel pulang nanti. Tugas yang diberikan gurunya pun sudah dikerjakannya sampai selesai. Gadis itu hanya menatap Hanna yang tengah mengerjakan tugasnya.
Amanda bangkit dari duduknya, "Na, aku ke toilet dulu ya." Ucapnya lalu pergi keluar kelas begitu saja.
Hanna hanya menatapnya sekilas, lalu kembali berkutat dengan tugas fisikanya.
Amanda berjalan menyusuri koridor panjang disekolahnya, sebenarnya gadis itu tidak ingin pergi ke toilet. Itu hanyalah sebuah alasan baginya untuk keluar meninggalkan kelas.
Gadis itu berjalan menuju rooftop sekolah, menjejaki setiap anak tangga yang dilewatinya dengan tenang. Sesampainya di rooftop, matanya menangkap sosok tubuh tinggi tegap sedang berdiri membelakanginya. Amanda menghentikan langkahnya, ia sangat terkejut melihat lelaki itu. Lelaki yang sangat amat dikenalinya, hatinya berdesir, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia sudah membalikkan badannya, siap melangkah pergi meninggalkan tempatnya berpijak saat ini.
Namun suara itu menghentikan langkahnya.
"Lo pergi karna ada gue disini ?!" Ucap Fahrez. Ya, lelaki itu memang Fahrez, entah sedang apa dia berada disana.
Amanda menghela nafas berat, ia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk balas menatap Fahrez. Sungguh ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan lelaki itu, meskipun saat ini rasanya ia sudah hampir ingin menangis saja melihatnya. Kemudian Amanda berbalik menatap Fahrez seolah dirinya baik-baik saja. Gadis itu tersenyum kecut, "aku cuma gak mau mengganggu."
Fahrez menatap datar gadis yang berada dihadapannya kini. Sedangkan Amanda membuang pandangannya kelain arah untuk menghindari tatapan mata lelaki itu.
"Apa lo gak ngerasa khawatir karna wajah gue babak belur ?" Tanya Fahrez lalu tertawa kecil.
Amanda tak bergeming ditempatnya, ia hanya diam saja tanpa menjawab.
"Lo gak perlu khawatir, Radea selalu ada disisi gue saat gue dirumah sakit. Dia selalu merawat gue dengan baik, dan setelah kita lulus nanti. Gue sama dia bakalan kuliah di LA," ucap Fahrez sambil menatap Amanda.
Sungguh Amanda tidak mengerti apa maksud Fahrez mengatakan semua itu. Apakah sengaja untuk menyakitinya ? Jika benar, selamat Fahrez usaha mu sukses luar biasa. Amanda merasakan sakit sekali dihatinya saat ini saat Fahrez mengucapkan itu semua. Namun ia tetap berusaha mempertahankan ekspresi wajah datarnya. Sungguh ia tidak ingin menangis didepan lelaki itu saat ini.
Fahrez tersenyum simpul lalu menyejajarkan wajahnya dengan wajah Amanda sehingga mereka kini saling bertatapan.
"Apa lo menjadi seperti ini untuk menarik perhatian gue ?" Ucap Fahrez lalu tersenyum dengan smirknya.
Deghhh!!!
Amanda menegang seketika, namun dengan tenang ia menjawab. "Untuk apa aku menarik perhatian laki-laki yang sudah memiliki tunangan ?" Ucapnya lalu tersenyum simpul.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Fireflies!
FanfictionAmanda merupakan gadis berparas cantik dan sempurna dalam segala hal, dengan fasilitas mewah, serta hidup yang sangat berkecukupan. Namun ia memilih untuk hidup sederhana dan menjadi orang biasa saja. Ia adalah gadis yang ceria, hingga saat ia kehil...
