Sudah satu minggu sejak kematian bunda Selama sepekan ini kehidupan Kim Jibeom pun berubah total. Dia yang biasa tinggal berdua dengan bunda menjadi seorang diri di rumah. Dia yang biasa rajin ke kampus sudah seminggu ini mengurung diri di kamarnya. Dia yang biasa bersemangat untuk beraktivitas merasa malas untuk bangkit dari kasurnya walau hanya untuk pergi keluar dari kamarnya.
.
Kondisi ini membuat ayah Jibeom berusaha keras membujuk sang anak untuk bangkit dari keterpurukannya. Beliau juga sudah meminta Jibeom untuk pindah ke rumahnya namun permintaan itu digubris oleh Jibeom. Bram juga selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kontrakan Jibeom dan membawakannya makan karena beliau tahu Jibeom sama sekali enggan keluar dari kamarnya.
.
"Mau sampai kapan kamu begini?"
Bram bertanya kepada sang anak karena sudah satu jam Jibeom mengabaikan keberadaannya. Jibeom hanya berbaring di kasurnya dan memandang kosong ke langit-langit. Makanan yang dibawa oleh ayahnya pun sama sekali tidak Jibeom sentuh. Jibeom benar-benar kehilangan semangat hidupnya.
"Sudah satu minggu. Selamanya kamu mau begini?" tanya Bram lagi.
Tak ada jawaban dari Jibeom, yang terdengar hanya suara helaan nafas darinya. Bram yang tidak sanggup lagi menghadapi Jibeom yang keras kepala kini memilih untuk melakukan cara paksa. Beliau bertekad hari ini juga akan membawa Jibeom keluar dari kontrakannya.
"Kamu harus ikut ayah Jibeom. Apapun yang terjadi kamu harus sama ayah!"
Setelah mengatakan itu Bram langsung membuka lemari baju Jibeom dan mengeluarkan semua pakaian anaknya. Jibeom yang sedari tadi berbaring otomatis bangun ketika melihat ayahnya sibuk membereskan barang-barangnya.
"Ayah!"
"Jibeom sebelum tante kamu pulang mereka bilang kalo mau ngajak kamu tinggal sama mereka. Kamu mau tinggal di pedesaan?"
Jibeom kembali menutup rapat mulutnya. Itu lah yang menjadi pikiran Jibeom selama seminggu ini. Dia dilanda dilema karena harus memilih satu di antara dua pilihan yang sulit. Jibeom enggan hidup bersama ayahnya namun di satu sisi dia juga tidak mau pindah ke suatu tempat yang asing baginya.
"Masa depan kamu cerah, nak. Kalo kamu tinggal di sini ada banyak hal yang bisa kamu lakuin. Kamu bisa lanjut kuliah dan nantinya ngebanggain bunda kamu," ujar Bram panjang lebar. "Sementara kalau kamu ikut keluarga ibumu ke dusun apa yang bisa kamu lakuin di sana?"
Kim Jibeom kembali menghela napas. Dia mengusap wajahnya karena bingung dengan pilihannya. Tidak bisakah dia tinggal seorang diri? Jibeom rasa itu yang terbaik untuk dirinya.
"Ayah mau kamu di sini, nak. Sama ayah..."
.
"Pulang ngampus diajak Jaehyun ke rumah Jibeom, chan."
Donghyun dan Joochan berada di kelas selagi menunggu dosen masuk di kelas terakhir mereka hari ini. Sembari menunggu pun Donghyun bertukar pesan dengan Jaehyun. Bong Jaehyun mengajak Donghyun dan Joochan pergi ke rumah Jibeom setelah pulang kuliah nanti.
"Pulang nanti? Gue mau tapi udah ada janji, dung." kata Hong Joochan.
"Janji sama siapa?" tanya Donghyun.
"Hyungseob,"
"Oh..."
Rasanya Donghyun menyesal telah bertanya karena dia sendiri sudah tahu jawabannya.
"Ya udah gue sama Bongjae aja,"
"Nanti kabarin ya gimana Jibeom sekarang. Udah seminggu dia gak kuliah, gue khawatir." kata Joochan yang diberikan anggukan oleh Donghyun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Googoo Child Squad | FRESHMAN
FanfictionJaehyun, Jibeom, Donghyun, dan Joochan telah lulus SMA! Kini keempat pria itu menjadi mahasiswa baru di perguruan tinggi yang sama. Dapatkan Googoos mempertahankan solidaritas mereka atau hubungan itu merenggang karena berbagai faktor tak terduga? ...
