H-5

60.1K 3.1K 15
                                        

Dengan memejamkan matanya Hulya menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan permintaan Reyhan.

Melihat peesetujuan Hulya membuat Reyhan senang. Reyhan menarik Hulya kedalam pelukannya. "Terimakasih" Ucap Reyhan pada Hulya.

Melihat anak majikannya menerima lamaran pria yang menyayanginya membuat bi Mirna senang.

"Maaf ya aku belum ada persiapan apa apa buat ngelamar kamu" ucap Reyhan sambil melepas pelukannya. "Gak elit banget aku ngelamar kamu dirumah sakit gini"

Hulya tersenyum. "Gapapa, yang penting itu kamu bener bener serius buat ngelamar aku. Kamu juga serius buat membawa hubungan ini kejenjang yang lebih serius" balas Hulya pada Reyhan.

"Ya" balas Reyhan singkat.

"Ekhmm....tadi bibi sudah menghubungi bapak Doni dan ibu Rosa, insyallah mereka akan datang besok" ucap bi Mirna membuat dua sejoli yang berbahagia itu mengalihkan pandangannya menatap bi Mirna.

"Yasudah itu lebih baik, aku akan bicara langsung pada mereka, jika perlu aku langsung minta agar dinikahkan saat itu juga" Ucap Reyhan antusias sehingga mendapat satu cubitan dari Hulya.

"Sakit" rengek Reyhan manja.

Keesokan harinya kakak,ayah dan bunda Hulya datang dari Bandung ke Bali. Mereka tidak langsung pulang kerumah mereka di Bali, melainkan langsung mengunjungi rumah sakit tempat putri dan cucu mereka dirawat.

"Assalamualaikum" ucap Rosa membuat seluruh orang yang ada diruangan itu melihat kearahnya.

"Waalaikumsalam bunda" balasHulya pada sang ibu.

"Ih ini cucu bunda ya, duh lucu sekali bunda gemes pengen gendong" ucap Rosa melihat pada bayi yang ada didalam box disamping ranjang Hulya.

Karena semalam putrinya Hulya menangis jadi bayi tersebut dipindahkan kekamar Hulya.

"Bunda ih yang ditanyain cucunya bukan anaknya" Protes Hulya sambil memanyunkan bibirnya.

"Biar kakak yang tanya kabar kamu deh, gimana kabarmu?" Tanya Kenan sambil memeluk adiknya.

"Sangat baik kak, apalagi setelah melihat kalian datang" Ucap Hulya dipelukan sang kakak.

"Bi terimakasih ya sudah menjaga Hulya dan cucuku dengan baik" Ucap Doni pada bi Mirna.

"Ia pak, non Hulya sudah seperti anak saya sendiri" Ucap bi Mirna sambil tersenyum pada Hulya

Saat asik melepas rindu satu sama lain. Suara bariton seseorang membuat mereka semua menghentkan aktivitasnya dan menatap pria dengan setelan jas dokternya yang membawa kantung kresek memasuki ruangan Hulya.

"Hulya aku bawakan bubur ayam buat kamu" Ucap Reyhan pada Hulya. Reyhan tiba tiba mematung didepan pintu saat melihat keramaian dikamar kekasihnya itu dirawat.

"Siapa kamu" Tanya Kenan mengalihkan tatapan Reyhan yang sedari tadi menatap Hulya dengan tatapan penuh tanya

"Saya Reyhan, saya kekasih Hulya" Ucap Reyhan tegas.

Hulya melirik ayahnya. Hulya dapat melihat jika rahang ayahnya mengeras saat mendengar penuturan Reyhan. Hulya takut terjadi hal yang tidak ia inginkan dirumah sakit ini dan akhirnya Hulya mencairkan suasana.

"Jadi dokter Reyhan adalah orang yang membantu Hulya selama Hulya ada disini, dokter Reyhan selalu menjaga Hulya dan kandungan Hulya sama seperti bi Mirna yang menjaga Hulya, dan yang terakhir yang paling penting hmmmm..... dokter Reyhan adalah kekasih Hulya" Ucap Hulya pelan diakhir katanya.

Mendengar ucapan putrinya Doni menghela nafasya kasar "Sini kamu" Pinta Doni pada Reyhan. Tanpa ada rasa takutpun Reyhan maju mendekati Doni.

"Kamu benar benar serius sama Hulya" tanya Doni serius.

"Ya om saya serius dengan Hulya" Jawab Reyhan mantap.

"Kamu tahu masa lalu putri saya" Tanya Doni lagi.

"Ya saya sudah tahu semuanya, Hulya yang menceritakannya kepada saya, jika om izinkan saya untuk meminang putri om dan menjadi ayah dari cucu om" Ucap Reyhan tegas.

"Baiklah saya izinkan" ucap Doni final membuat seluruh orang yang ada diruangan itu menghela nafas lega dan tersenyum senang, tapi kesenangan tersebut tidak berlangsung lama karena Doni segera menyambung ucapannya yang belum selesai "Sebelum itu bagaimana dengan keluargamu?"

"Tidak masalah, soal keluarga saya biar saya yang urus, saat ini yang terpenting adalah restu dari orangtua Hulya" Tegas Reyhan pada Doni.

"Baiklah saya serahkan semuanya pada kamu" ucap Doni sambil menepuk bahu Reyhan.

Setelah mendapat persetujuan dari orangtua Hulya, Reyhan merasa senang. Namun ia merasa menjadi obat nyamuk disini. Karena dari tadi Hulya hanya berbicara dengan ibunya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali bekerja keruangannya.

"Ehmmm...permisi saya izin bekerja dulu, jam istirahat saya sudah habis" ucap Reyhan sopan.

Setelah berpamitan Reyhan langsung meninggalkan ruangan Hulya dengan senyum yang mengembang diwajah tampannya karena ia telah mendapat restu dari kedua orangtua Hulya,kekasihnya.

Saat dijalan Reyhan bertemu dengan Anggara yang baru saja keluar dari ruang bersalin.

"Lo utang penjelasan sama gue" Ucap Anggara menghentikan langkah Reyhan.

"Yaudah jangan ngomong disini. Ntar gue jelasin di cafe tempat kita nongkrong" balas Reyhan.

"Ok kita ke cafe,tapi lo yang bayar karena lo udah ngumpetin sesuatu dari gua" ucap Anggara memanfaatkan suatu kejadian. Anggara memang begitu ia pintar memanfaatkan suatu kesempatan yang ada.

"Cih mana ada dokter yang kerjanya minta traktiran mulu" cibir Reyhan pada Anggara.

"Wajarlah gua paket hemat, cicilan mobil sama rumah gua juga belum lunas" ucap Anggara dengan nada melasnya, memang benar yang Angga katakan jika ia masih memiliki cicilan mobil dan rumah.

"Yaudah tunggu gue pulang " ucap Reyhan meninggalkan Anggara.

Setelah jam kerja mereka habis. Mereka langsung menuju cafe tempat biasa mereka bertrmu. Reyhan dan Anggara biasa duduk dipojokan cafe yang meyediakan pemandangan indah yang terhubung dengan pantai. Anggara sepertinya benar benar memanfaatkan kesempatan ini untuk makan, ia memesan banyak makanan ia sudah seperti orang yang tidak makan 1tahun.

"Ayo jelasin" Ucap Anggara to the point setelah waiters mereka pergi .

"Jadi Hulya itu pemilik toko bunga yang bunganya selalu gua beli akhir akhir ini" Ucap Reyhan sambil melihat minuman yang ia pesan.

"Terus anak itu?"

"Anak itu anak Hulya bukan anak gua" Ucap Reyhan membuat Anggara tersedak oleh spageti miliknya.

"Gila lo, kenapa lo ngakuin anak itu anak lo"ucap Anggara sembari menyesap lemon tea miliknya.

"Ya karena kalo gua lihat anak Hulya hampir mirip sama masa kecil gua, juga satu lagi karena gua suka sama Hulya jadi gua rela ngelakuin apa aja".

"Jadi udah moveon sama Sandra" ucap Anggara santai, namun lain dengan Anggara, Reyhan yang mendengar nama Sandra disebut langsung mengepalkan tangannya erat.

"Stop ngomongin dia! Gua benci penghianat" Ucap Reyhan membuat Angga menghentikan aktivitas melahap spagetinya.

"Sorry,kita bahas keluarga aja, gimana orangtua lo, kiranya mereka mau nerima Hulya sama anaknya?" Tanya Anggara pada Reyhan.

Reyhan diam sejenak memikirkan perkataan sahabatnya,pertanyaan ini tadi juga ditanyakan Doni, ayah Hulya padanya.

"Soal itu gua rasa mereka bakal nerima Hulya, kalo lo bisa jaga rahasia gua dengan baik, gua tinggal ngomong aja kalo gua udah ngehamili anak orang" Ucap Reyhan santai sambil menyesap kopi hitamnya.

Lagi lagi Anggara tersedak mendengar ucapan Reyhan "Gila lo".

"Ya gua gila gara gara Hulya" Jawab Reyhan santai membuat Anggara geleng geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya. Reyhan sudah benar benar gila.


----------

HULYA   [COMPLETE]  ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang