H-24

34K 1.5K 9
                                        

Selamat malam minggu yaaa .

--------

Sinar matahari menggangu tidur nyenyak Revan. Pria itu segera membuka matanya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah wanita yang tak ia kenali tidur disampingnya dengan kondisi naked. Revan segera mengecek kondisinya dan ternyata ia dan wanita itu sama sama dengan kondisi yang sama.

Revan melihat bercak darah dikasur sprei dan ia sungguh frustasi. Pria itu mengusap wajahnya kasar,ini untuk kedua kalinya Revan memerawani anak orang.

"Hey bangun" ucap Revan menggerakkan tubuh wanita disampingnya.

"Engggg" erang wanita itu ketika tubuhnya digoyangka oleh Revan. Revan sendiri susah payah menelan ludahnya melihat pemandangan dipagi hari ini.

"Bangun woy" ucap Revan setengah berteriak dihadapan wanita ini.

"Aaaaaaaa" Wanita itu berteriak kencang ketika melihat Revan dihadapannya, ia segera menarik selimutnya menutupi tubuhnya lalu menangis sejadi jadinya.

"Maaf"  ucap Revan pelan namun tak terdengar jawaban dari gadis disampingnya ini. Gadis ini masih terus saja menangis sampai Revan menyerah.

"Apa mau kamu" ucap Revan pada gadis dihadapannya.

*plaak*  gadis itu menampar Revan.

"Kamu tanya apa mau aku? Mau aku adalah kamu harus tanggung jawab sama aku bego! Kamu yang udah ambil harta yang aku jaga selama 20th ini dan kamu masih tanya mau aku apa? Gimana nanti kalo aku hamil" ucap gadis itu setengah berteriak.

"Kamu gak mungkin hamil,kita hanya sekali melakukan ini" balas Revan santai. Fikirannya tiba tiba mengingat saat pertama kali ia melakukan hubungan terlarang bersama Hulya. Wanita itu langsung meninggalkannya dipagi hari.

"Aku saat ini ada dalam masa subur aku bodoh,aku berani bertaruh cepat atau lambat aku pasti hamil" ucap wanita itu sambil menangis.

Mendengar ucapan wanita dihadapannya membuat Revan bangkit dan segera meninggalkan gadis yang masih menangis itu. Revan berjalan dengan keadaan naked memunguti pakaiannya yang berserakan dan segera memakainya lalu pergi.

Gadis itu semakin mengencangkan tangisannya saat melihat punggung Revan yang menjauh. Beruntunglah gadis itu karena semalam ia sudah mengambil ponsel milik Revan jadi ia masih bisa meminta pertanggung jawaban dari Revan jika nanti kemungkinan ia hamil anak Revan.

----------

"Mamaaa" ucap Rasya dan Raisa berteriak memasuki ruangan Hulya.

"Sayang,mama kangen" balas Hulya pada kedua anaknya

"Mama cepet sembuh ya maa bial dedeknya sehat" ucap Rasya sambil mengelus perut ibunya.

Mendengar ucapan anaknya Hulya menatap kakaknya yang baru datang sambil membawa kotak sarapan dengan alis yang terangkat satu dan kening yang mengerut.

"Kamu belum tahu?" Tanya Kenan

"Belum" balas Hulya singkat.

Kenan berjalan meletakkan kotak bekal itu kedalam meja dan mendekati adik juga keponakannya.

"Maaf ya kakak fikir Reyhan sudah memberi tahu kamu kalau kamu saat ini tengah hamil anak ketiga kamu" ucap Reyhan sambil mengelus lembut kepala Hulya.

Hulya merasa bahagia saat ini,namun ia sedih karena suaminya tidak memberi tahunya,tapi Hulya menyingkirkan pemikiran buruknya,mungkin ada sesuatu sehingga suaminya tidak langsung memberitahunya.

"Mana suami kamu?" Tanya Kenan pada Hulya

"Kerja kak"

"Ihh papa kok kerja sih,aku kan mau main sama papa" ucap Raisa yang mulai bisa mengucapkan huruf R dengan baik.

"Main sama mama aja ya" ucap Hulya pada kedua anaknya.

Mereka main sampai siang,bukan main melakukan aktivitas,tapi Hulya mendengarkan celotehan putrinya yang mulai banyak bicara menurutnya. Sampai akhirnya putra dan putrinya itu lelah dan tertidur disofa rumah sakit.

"Loh anak papa datang" ucap Reyhan ketika melihat putra dan putrinya tertidur disofa.

"Ia mereka kelelahan dari tadi Raisa itu banyak mengoceh yang tidak jelas" ujar Hulya pada suaminya.

Reyhan yang mendengar itu tersenyum dan mengecup kening putra dan putrinya bergantian.

Saat hendak menemui istrinya ponsel Reyhan berbunyi. Pria itu mengernyitkan dahinya saat melihat nomer tak dikenal yang masuk menghubunginya.

"Dari siapa mas?" Ucap Hulya yang melihat suaminya hanya mendiamkan ponselnya.

"Gatau tuh nomer gak dikenal"

"Angkat aja siapa tau penting, tapi di loudspeaker ya soalnya aku juga kepo"

Mendengar perintah sang istri Reyhan langsung mengangkat telfon itu ia sempat bingung dengan suara wanita yang menghubunginya ia hanya mendengar suara isak tangis seorang wanita dan hal itu membuat Reyhan dan Hulya berpandangan sambil melempar tanya melalui mata.

"Kamu ini siapa sih dari tadi nangis terus, kalo ga penting saya matikan telfonnya" keluh Reyhan pada panggilan tersebut.

"Kamu Reyhan kakaknya Revan kan?" Ucap wanita itu membuat Reyhan membatalkan niatnya untuk mematikan telfonnya.

"Iya kamu siapa"

"Saya Sherlyn,saya ingin bicara satu hal penting sama kamu mengenai Revan" ucap Sherlyn sambil masih menangis sesegukan.

Reyhan bingung saat ini,pria itu menatap istrinya yang sedang menganggukkan kepalanya pertanda jika Hulya memberi izin pada Reyhan.

"Baiklah saya mau bertemu kamu di cafe nanti saya akan kabari alamat cafenya dan juga nomer tempat duduknya karena kita belum pernah bertemu sebelumnya"

Setelah mengucapkan itu panggilan terputus. Reyhan segera meninggalkan istrinya dan pergi ke cafe didepan rumah sakitnya untuk menemui Sherlyn.

Sesampainya ia disalah satu cafe tempatnya dan Sherlyn bertemu pria itu segera memesan minumannya terlebih dahulu.

Sudah 20 menit lamanya Reyhan menunggu Sherlyn,namun gadis itu tak kunjung sampai. Saat ditelfon jawabannya hanya sama "tunggu sebentar saya masih dijalan"  selalu begitu sampai Reyhan bosan menghubungi Sherlyn.

"Maaf saya terlambat" ucap Sherlyn mengalihkan pandangan Reyhan.

Reyhan menatap Sherlyn dari ujung tambut sampai ujung kakinya.

"Duduk! Saya gak punya banyak waktu lagi, cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan soal Revan!" Ucap Reyhan langsung .

"Adik kamu memperkosa saya! Dan saya ingin agar dia bertanggung jawab" ucap Sherlyn penuh penekanan disetiap katanya.

Tubuh Reyhan menegang mendengar ucapan Sherlyn. Reyhan tak menyangka jika adiknya itu melakukan perbuatan maksiat untuk kedua kalinya.

"Kamu tidak menjebak Revan bukan? Bagaimana kamu bisa mendapatkan nomer ponsel saya?" Tanya Reyhan dengan tatapan penuh intimidasi.

"Setelah adik kamu memperkosa saya, saya mengambil ponselnya dijaketnya, saya juga sempat menyimpan beberapa kontak yang ada disana termasuk kontak kedua orangtuanya,tapi sebelum saya menghubungi orangtuanya saya lebih dulu menghubungi kamu sebagai kakaknya" jelas Sherlyn pada Reyhan.

"Baiklah saya mau bantu kamu,tapi dengan syarat kamu harus buktikan jika kamu benar benar hamil" ucap Reyhan pada Sherlyn

"Baik saya akan buktikan jika saya hamil anak Revan, tapi jika saat itu benar benar tiba saya akan menagih janji anda untuk membantu saya" ucap Sherlyn tegas lalu gadis itu pamit meninggalkan Reyhan yang masih diam mematung ditempat

Sementara itu, Hulya kini berpelukan erat dengan kedua buah hatinya yang hendak pulang.

"Kalian jaga kesehatan ya,jangan sampe sakit kayak mama" ucap Hulya pada kedua buah hatinya.

"Sudah ayo kita pulang,ini sudah sore" ajak Kenan pada kedua keponaannya.

Akhirnya Kenan pergi meninggalkan Hulya sendiri dikamar rumah sakit. Sementara Reyhan tidak langsung menemui istrinya setelah bertemu Sherlyn . Pria itu malu untuk berhadapan dengan istrinya sendiri. Pria itu malu untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya pada istrinya, mengingat jika dulu Revan melakukan hal laknat itu kepada istrinya sampai lahirlah Raisa.

HULYA   [COMPLETE]  ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang