H-31

31K 1.3K 3
                                        

Jauh dari ketegangan dirumah Reyhan di Bandung. Saat ini Hulya dibuat repot oleh tingkah kedua anakanya yang enggan makan sebelum bertemu dengan ayahnya.

"Sayang ayo dong makan,kalian belum makan dari tadi pagi" ucap Hulya yang hampir menyerah membujuk kedua anaknya.

"Raisa gak mau makan sebelum ketemu sama papa" ucap Raisa sambil meneruskan aktivitas mewarnainya.

"Rasya makan ya sayang,jangan ikut ikut  kakak" bujuk Hulya pada putranya yang sedang bermain lego.

"Lasya gak mau makan kalo papa gak nelfon" balas putranya tanpa mengalihkan pandangannya dari lego ditangannya.

Seolah mendapat ide dari ucapan sang putra Hulya segera mengambil laptop dikamarnya dan melakukan panggilan video melalui aplikasi skypee dilaptopnya.

Sudah 5 kali ia mencoba namun tak ada jawaban dari Reyhan.

"Sayang mungkin papa kalian masih tidur, kalian sabar ya lusa papa kan pulang" ucap Hulya sambil mengelus rambut kedua buah hatinya.

Tak lama kemudian laptop Hulya menyala menampilkan wajah suaminya yang menghubunginya. Hal tersebut membuat kedua anaknya langsung berebut berada didepan laptop.

"Papa" teriak Raisa dan Rasya bersamaan

"Sayang jangan teriak teriak" ucap Reyhan memperingatkan kedua anaknya.

"Papa kakak kangen" ucap Raisa dengan nada manjanya

"Adek juga pa" ucap Rasya yang tak mau kalah.

Melihat kedua anaknya membuat Reyhan merasa jauh lebih baik setelah terlibat dalam pertengkaran keluarganya akibat ulah sang adik .

"Papa jauh lebih kangen sama kalian" ucap Reyhan pada kedua anaknya.

"Papa sendiri aja? Nenek sama kakek mana?" Tanya Raisa

"Iya sayang papa dikamar,nenek ada dibawah sama kakek" balas Reyhan sambil tersenyum pada putrinya

"Mas anak anak gak mau makan dari tadi katanya rindu papa" ucap Hulya mengadu pada suaminya

"Sayang kalian gak boleh gitu,kalian harus makan dan jemput papa dibandara lusa" ucap Reyhan pada kedua anaknya

Mendengar ucapan sang ayah membuat Raisa dan Rasya segera meminta makan pada sang ibu. Hulya bangkit dan mengambilkan makanan untuk putra dan putrinya yang masih asik berbicara dengan Reyhan.

"Papa ini gambar aku bagus kan?" Ucap Raisa sambil menunjukkan gambar gunung dan sawah yang ia gambar tadi.

"Bagus,tapi kok belum diwarnai gunungnya?" Tanya Reyhan pada putrinya.

"Oh ia,papa jangan tutup telfonnya ya aku mau mewarnai gunungnya" ucap Raisa sambil mewarnai.

"Aku punya lobot pa" ucap Rasya tak mau kalah

"Wah robotnya bagus" ucap Reyhan memuji robot dari lego karya putranya itu.

Hulya hanya tersenyum melihat interaksi anak dan suaminya itu.

"Kamu sehat sehat aja kan?" Tanya Reyhan pada istrinya yang tersenyum sejak tadi.

"Baik mas,mas disana juga baik baik aja kan?" Tanya Hulya balik pada Reyhan

"Ya aku baik baik saja" balas Reyhan pada istrinya

"Mas gimana masalah Sherlyn sudah selesai kan?" Tanya Hulya pada suaminya, tersirat nada khawatir disana.

"Sudah,papa sudah memutuskan untuk menikahkan Revan dan Sherlyn semoga saja dengan menikah Revan bisa berubah"

"Ia mas aku juga berharap begitu" balas Hulya pada suminya.

"Papa gambar aku sudah selesai" ucap Raisa menunjukkan gambar yang baru saja ia warnai.

"Wah cantiknya gambar anak papa, sayang papa tutup telfonnya ya papa mau ada urusan sebentar" ucap Reyhan memutus panggilannya dengan anaknya walau hatinya masih tidak ikhlas untuk menutup panggilan ini namun ia harus melakukannya karena ia juga ingin mengecek kondisi keluarganya yang masih belum selesai berdebat dibawah.

Sebenarnya pembahasan masalah Revan masih belum tuntas,keluarganya dibawah masih berkumpul untuk menyelesaikan masalah adiknya ini. Berhubung ponselnya selalu bergetar dan itu menggangu konsentrasi Reyhan akhirnya pria itu memutuskan untuk mengangkat telfonnya dikamarnya.

"Gue mau nikahin dia kalo Raisa tau gue ayah yang sesungguhnya" ucap Revan saat melihat Reyhan yang menghampirinya.

"Gila lo,lo gausah ganggu keluarga kecil gue. Raisa udah bahagia sama gue" balas Reyhan tak terima dengan permintaan gila adiknya itu.

"Yaudah gue gak mau nikahin dia" ucap Revan dengan santainya.

Alvin yang mendengar ucapan sang putra marah dan tidak terima,pria itu segera memukul putranya untuk yang kesekian kalinya. Meskipun umurnya sudah menginjak akhir 50an tapi tenaga Alvin masih cukup dibilang oke. Buktinya wajah Revan sudah babak belur ditangan Alvin.

Ratna hanya menangis melihat aksi brutal suaminya memukuli putranya,sekuat apapun tenaga Ratna dan teriakan Ratna itu akan sia sia karena Alvin tidak akan berhenti begitu saja ketika ia merasa marah.

Reyhan sebenarnya merasa tidak tega melihat adiknya dipukuli oleh ayahnya sehingga ia membuat keputusan yang mungkin nantinya akan menyakiti hati istrinya.

"Gue gak bisa biarin Raisa ngerti siapa ayah kandungnya,tapi gue bakal izinin elo dipanggil ayah sama Raisa" ucap Reyhan membuat Alvin berhenti memukul putranya.

"Gue gak mau" protes Revan yang masih kekeh dengan keinginannya.

Mendengar ucapan protes dari putra bungsunya membuat Alvin menarik kerah baju Revan.

"Kamu masih mau protes" ucap Alvin pada putranya.

Revan hanya menggelengkan kepalanya, pria itu mengalah,tak apalah jika ia dipanggil ayah oleh putrinya. Revan menyusun rencana sendiri agar ia bisa mengatakan sendiri pada putrinya bahwa ayah biologisnya adalah Revan bukan Reyhan.

Setelah kejadian menegangkan itu Alvin memutuskan untuk mempercepat pernikahan Revan dan Sherlyn. Mereka akan menikah satu minggu lagi di Bandung. Mereka hanya akan menikah di KUA tidak akan ada pesta karena Sherlyn dan Revan sama sama menolak.

Hari ini Reyhan sudah kembali ke Bali. Pria itu yang mengurus surat surat milik Sherlyn di Bali karena mereka butuh surat Sherlyn untuk dibawa ke KUA. Sementara itu Sherlyn tidak diizinkan untuk meninggalkan Bandung oleh Ratna dengan alasan kehamilan wanita itu.

"Assalamualaikum" ucap Reyhan  saat memasuki rumahnya

"Papa" teriak Rasya dan Raisa saat melihat ayahnya.

"Aku kangen papa" ucap Rasya sambil memeluk papanya.

"Papa juga kangen sama kalian" balas Reyhan sambil memeluk kedua anaknya dengan erat.

Hulya datang dengan membawa minum untuk suaminya. Wanita itu senang akhirnya rasa rindunya pada Reyhan terobati. Sudah 3 hari ini Hulya selalu tidur dengan memeluk pakaian Reyhan. Entah itu faktor kehamilannya atau faktor rindunya pada Reyhan sampai Hulya jadi seperti ini.

"Papa ayo main" ucap Rasya sambil menarik tangan Reyhan

"Eh papa kan baru sampai sayang, mainnya nanti dulu yaa biar papa istirahat dulu" ucap Hulya pada putranya

"Aku kan kangen papa maa,aku pengen maen sama papa"

"Yasudah ayo kita main,papa juga kangen sama anak anak papa" ucap Reyhan sambil membawa kedua anaknya menuju kamar Rasya. Mereka akan bermain dikamar Rasya karena dikamar anak itu terdapat segala jenis mainan.

Setelah puas bermain, Raisa dan Rasya tertidur. Reyhan yang melihat itu pun tersenyum pria itu mengecup kening kedua anaknya lalu pergi meninggalkan anaknya yang tengah tertidur.

"Selamat tidur" ucap Reyhan sambil mencium kening buah hatinya.

HULYA   [COMPLETE]  ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang