3. Thinking Of You

3.2K 162 4
                                        

"Le...." Lea masih memandangi segelas jus leci di depannya. Tangannya terus mengaduk-aduk sedotan di dalam gelas. Pikirannya menerawang jauh.

"Lea!" Lea langsung tersentak saat merasakan tepukan keras di bahunya. Ia menolehkan wajahnya kepada orang di sebelahnya yang menatapnya dengan tatapan heran bercampur kesal.

"Aku dari tadi tanya kamu. Kamu ngelamun terus! Mikirin apa, sih?!" tanya seorang gadis sebayanya dengan raut wajah kesal. Lea hanya menyengir.

"Sorry Fan, hehe... Aku lagi gak fokus." Tiffany memicingkan matanya, memandang curiga terhadap sahabatnya.

"Kamu lagi mikirin seseorang, ya? Nyampe aku ngomong dari tadi gak fokus." Lea menghela nafasnya. Sahabatnya yang satu ini tidak bisa dibohongi, dan ia tak punya bakat untuk berbohong.

"Dia, Fan...." Tiffany mengerutkan keningnya kurang paham. Ia menatap Lea.

"Dia siapa, Le? Kalau ngomong yang jelas, dong! Aku gak paham." Lea menatap sahabatnya beberapa jenak sebelum menarik nafasnya kembali.

"Kakakku, Panji." Tiffany langsung paham dengan apa yang dikatakan sahabatnya. Ia memang sudah tahu tentang Lea karena mereka sudah lama bersahabat sejak mereka masih SD hingga sekarang. Lea tak segan lagi menceritakan segala keluh kesahnya kepada sahabatnya, begitu juga sebaliknya.

"Kakakmu yang ganteng itu, bukan? Gimana dia sekarang, Le? Pasti lebih dewasa dan hot, dong. Aduhh... Jadi pengen cepet dihalalin sama kakakmu yang seksi itu, Le." Lea melempar bekas tissu ke arah Tiffany yang sedang tersenyum jahil ke arahnya. Ia mendengus kesal.

"Kak Panji gak akan mau sama kamu. Kamu senyumin dia aja dia malah datar-datar aja. Dia orangnya cuek. Kamu jangan terlalu ngarepin dia!" Tiffany mencebikkan bibirnya tak suka. Lea memang sensitif jika sudah ada gadis lain yang memuja kakaknya secara terang-terangan, termasuk ia sebagai sahabatnya sendiri.

"Jahat kamu Le sama aku! Siapa tahu aja dia bakalan suka sama aku sekarang kalau ketemu. Lagian kan status kita bisa ningkat dari sahabat menjadi saudara ipar. Kamu bakalan beruntung banget dapet kakak ipar yang cantik, baik, dan mengerti kamu kayak aku." Lea mencebik kesal.

"Ingatlah! Kalian itu adik kakak, Le." kata-kata itu yang tak ingin Lea dengar. Kadang ia benci kenyataan bahwa mereka adalah saudara kandung.

"Jangan bahas itu lagi, Fan!" ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap lalu lalang kendaraan yang hilir mudik di jalan raya yang padat siang ini. Tiffany menatap sahabatnya yang terlihat sendu sekarang. Ada rasa bersalah di hatinya sudah mengatakan itu lagi kepadanya. Tapi ia tahu bahwa Lea salah.

"Aku ngerti apa yang kamu rasain, Le. Tapi cobalah lihat situasi dan sekelilingmu, bukan hanya tentang kalian saja." Lea kembali memalingkan wajahnya ke arah sahabatnya. Matanya berkaca-kaca.

"Aku lelah dengan semua ini, Fan. Semuanya terasa menyakitkan." ucapnya lirih. Tiffany menatap iba sahabatnya. Ia paham bagaimana jika ia berada dalam posisi Lea. Sungguh tak akan menang sampai kapan pun melawan takdir yang sudah digariskan Tuhan kepada hidup kita.

"Aku yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini, Le. Akan ada seseorang nanti yang akan membuatmu melupakan perasaan terlarangmu." ucapnya memberi semangat. Hanya itu yang bisa Tiffany ucapkan untuk sahabatnya demi mengurangi beban hati yang dirasakan oleh Lea saat ini.

***

Bulan bersinar begitu terang malam ini. Begitu bulat dan putih bersinar. Cuaca memang cukup panas dan gerah. Lea memandang lampu-lampu kota yang bertebaran dari arah rumah penduduk dari atas balkon kamarnya. Angin malam yang bertiup lembut cukup membuatnya merasa sejuk dan tenang. Saat ini ia hanya memakai kaos pendek ungu muda dan celana hotpants favoritnya saat ia sedang berada di rumah. Mama atau ayahnya sering melarangnya agar tidak memakai pakaian yang terlalu terbuka meski hanya di rumah saja karena takut ada orang lain yang kebetulan bertandang ke rumah dan melihatnya, tapi ia belum bisa menurutinya. Tak apa, yang penting ia sedang berada di area pribadinya. Ia memainkan senar gitar di pangkuannya dengan jemari lentiknya. Gitar ini adalah hadiah ulang tahun dari ayahnya sejak ia masuk SMA sejak ia pertama bisa bermain gitar.

This LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang