Sepasang insan yang pernah terlibat sebuah hubungan lebih dari pertemanan di masa lalu itu berjalan menuju pintu rumahnya. Sejak Panji mendengar suara mobil di depan gerbang rumahnya, ia sudah menduga jika itu adalah adiknya. Dengan tubuh yang masih terasa lemah meski tak separah malam kemarin dan tadi pagi, ia berusaha berjalan dengan perlahan dengan menahan rasa pusing yang masih melandanya menuju jendela kamarnya. Ia melihat dari balik tirai jendela kamarnya sosok adiknya yang sedang mengobrol sebentar dengan penjaga rumahnya dan kemudian kembali lagi menghampiri sebuah mobil hitam dan mengobrol dengan seseorang di dalamnya. Ia tak begitu melihat dengan jelas wajah orang itu. Ia pikir Lea membawa mobil sendiri dan ia mengira jika itu mungkin saja Husna, teman dekat adiknya di kantornya. Tak lama Lea masuk ke dalam diikuti oleh mobil itu. Saat si pemilik mobil membuka pintunya, barulah ia dapat melihat secara jelas siapa teman adiknya itu meski dari lantai atas. Lea pulang diantar oleh lelaki yang ia tahu pernah menjadi mantan pacar adiknya itu. Ia mengepalkan tangannya menahan gejolak itu. Ia melihat lelaki yang merupakan salah satu karyawannya juga di kantor berjalan mengikuti adiknya untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali menuju ranjangnya. Ia membaringkan tubuhnya kembali, mencoba untuk memejamkan matanya sejenak. Hatinya kembali gelisah. Ternyata lelaki itu belum menyerah begitu saja untuk merebut hati adiknya kembali. Ia tak bisa membohongi hati kecilnya jika ia merasa takut kalau-kalau Lea dan lelaki itu kembali menjalin kasih. Ia tahu ini tidak benar, tapi ia tak bisa untuk menghentikan semua ini. Ia mencoba untuk mengabaikannya dan tidur kembali, tapi rasa kantuknya sudah hilang begitu saja saat melihat sang adik dengan teman lelakinya tadi. Sampai ia mendengar suara pintu kamarnya dibuka seseorang dan masuk ke kamarnya. Ia pikir itu adalah mamanya, tapi saat mencium bau parfumnya yang sudah ia hafal, ternyata itu adiknya. Ia pura-pura tertidur dan merasakan tangan halus itu meraba keningnya. Ingin rasanya ia menyentuh tangan yang selalu digenggamnya itu, tapi bayangan Lea dengan Victor tadi di depan rumahnya membuat rasa tak suka dan tak rela itu kembali menganggu benaknya. Ia mencoba membuka matanya secara perlahan dan langsung bersitatap dengan manik hazel milik sang adik. Ia melihat Lea tersenyum dan menanyakan kondisinya. Tapi ia hanya menatap gadis itu datar dan enggan untuk menjawab pertanyaannya. Ia mencoba untuk bangkit saat Lea terlihat bingung dengan sikapnya yang terasa dingin dan kurang bersahabat saat menyambut kedatangannya kemari. Ia menatap wajah cantik gadis itu.
"Kamu datang dengan siapa ke sini?" pertanyaan itulah yang terlontar dari mulutnya. Ia tak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk menanyakan hal itu. Ia masih menatap adiknya yang sedang menghela nafasnya.
"Sama Kak Victor. Kebetulan tadi dia ngajakin pulang bareng, sekalian nengokin Kakak ke sini. Tadi dia buru-buru, jadi cuman bentar mampir ke sininya. Dia juga sempet ngobrol bentar kok sama Mama Siska." ia tahu kalau adiknya berkata jujur, terlihat dari matanya dan raut wajahnya. Tapi gejolak itu nyatanya terlalu mendominasinya saat ini. Meski berkali-kali Lea menjelaskan kalau antara dirinya dan Victor hanya sebatas teman, tapi sebagai sesama lelaki ia tahu kalau Victor mempunyai maksud lain di balik kata pertemanannya dengan adiknya. Dan itu benar-benar membuatnya gelisah. Hatinya begitu panas membayangkan jika mereka berdua kembali bersama dan menunjukkan kemesraan di depannya. Hingga nafsu membutakan akal sehatnya saat ini. Ia tak sadar saat ia menyatukan bibirnya dengan bibir lembut gadis di depannya. Ia lupa kalau status mereka adalah sebagai kakak dan adik. Yang ia rasakan saat ini hanyalah manisnya bibir merah muda yang ranum itu. Ia menikmatinya dengan segenap perasaan yang ia miliki untuk sang gadis yang kini hanya terdiam dan tak menyambut ciumannya. Ia tahu jika Lea terlalu terkejut dengan aksi gilanya ini, tapi ia juga tahu kalau gadis itu juga menikmati rasa bibirnya yang saling bertautan dengan bibir gadis itu. Sampai ia merasakan dirinya hampir terhempas akibat dorongan kasar dari Lea yang melepas penyatuan bibir mereka secara paksa. Ia bisa melihat tatapan tajam sang adik yang mengarah padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
This Love
RomanceCinta itu bagaikan angin, tak pernah bisa diatur ke mana arahnya, ke mana dia ingin berlabuh. Kita tak pernah bisa mengatur hati kita untuk jatuh cinta kepada siapa. Lea tak pernah berpikir dalam hidupnya akan merasakan semua ini, merasakan sebuah p...
