Lana sedang menginginkan nasi padang saat ini. Beberapa hari dirawat di rumah sakit membuatnya tak bebas ingin memakan makanan yang disukainya. Ia hanya memakan nasi lembek yang terasa dingin dan lauk-pauk serta sayur yang terasa hambar di mulutnya selama di sana. Lidahnya yang terasa pahit membuat makanan yang masuk ke mulutnya menjadi tidak enak dan membuatnya mual. Mengapa ia tak mau lama-lama di rumah sakit di antaranya karena terpaksa harus memakan makanan yang membuat mual itu.
Dan sekarang setelah ia agak sehat kembali dan keluar dari rumah sakit, ia menginginkan makanan favoritnya selama ini, persis seperti saat mengidam dulu. Rasanya seperti terbebas dari penjara, tidak dilarang makan ini dan itu lagi. Meski ia belum diperbolehkan untuk memakan makanan yang pedas dan berlemak tinggi, tapi ia tak bisa menahannya. Tak apa untuk hari ini saja ia memakan itu, mumpung tak ada yang melarang. Jika suaminya atau anak-anaknya tahu, pasti ia akan ditegur. Tapi ia meyakinkan diri tak apa-apa, daripada ia tersiksa menahan keinginan untuk menyantap makanan lezat itu.
Ia juga tahu makanan seperti apa yang harus ia konsumsi di saat kondisi tubuhnya masih belum sepenuhnya sembuh. Ia mencari pembantunya yang bekerja paruh waktu di rumahnya sejak anak-anaknya masih kecil. Ia berjalan menuju arah ruang makan dan dapur di mana wanita paruh baya itu selalu berada di sana. Ia ingin menyuruhnya untuk membeli makanan yang diinginkannya.
"Mbok!" serunya saat sudah berada di dapurnya.
Ia tak menemukan sosok wanita itu. Ke mana Mbok Wasih? Lalu ia pergi dari sana saat pembantunya tak ada di sana. Kalau wanita itu tak ada di belakang, berarti mungkin sedang di depan atau sedang keluar. Karena merasa bosan berdiam terus di kamar, hanya terbaring di ranjangnya, ia memutuskan untuk keluar sebentar. Hanya nongkrong di teras rumahnya menghirup udara segar setelah hampir seminggu ini ia terkurung di rumah sakit hingga ia sangat bosan berdiam di sana, ingin cepat-cepat pulang.
Saat ia akan menuju ruang tamu, samar-samar ia mendengar suara pembantunya yang sedang berbincang dengan seseorang seperti lelaki. Penasaran, ia mengintip sedikit dan melihat siluet seorang lelaki yang memakai baju putih yang terhalang pintu sedikit sehingga wajahnya terlihat tidak jelas. Karena takut ada tamu yang mencari keluarganya, ia berjalan menghampiri mereka.
"Siapa, Mbok?" sahutnya yang membuat kedua orang yang masih terlibat perbincangan itu menolehkan wajahnya ke arah sumber suara. Begitu ia melihat wajah tamu yang siang ini datang ke rumahnya, ia langsung terkejut luar biasa. Darahnya seakan berhenti mengalir. Apa ia sedang bermimpi?
"P-Panji...." gumamnya gugup tanpa melepaskan pandangannya dari sosok lelaki itu. Lelaki muda itu juga sama terkejutnya.
"Mama Lana." gumam Panji sambil melangkahkan kakinya ke arah wanita itu. Lana masih terpaku di tempatnya hingga sosok putra tirinya kini sudah berada di hadapannya. Mereka saling bertatapan beberapa jenak.
"Mama, bagaimana kabarmu?"
Sapaan Panji mengawali pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun tak bertemu. Lana masih terkesima dan belum menjawab sapaan sang putra, hingga tangan kanannya diraih untuk disalami. Ia tersentak, sosok lelaki muda di hadapannya ini nyata. Ia mengamati lagi wajah tampan yang mirip dengan suaminya itu, memastikan ini bukanlah mimpi.
"Ini bener kamu, Ji?" tanyanya pada akhirnya setelah diam terpaku sejenak. Panji tersenyum dan mengangguk.
"Iya, Ma. Maafkan aku yang telah membawa Lea pergi darimu dan menjauhkannya." ucapnya sambil meraih kembali kedua tangan wanita itu dan menumpukan wajahnya, mengungkapkan rasa bersalah yang teramat besar kepada istri ayahnya ini. Lana terdiam sejenak, lalu tangannya bergerak untuk mengelus rambut lelaki itu.
"Semuanya sudah terjadi. Tak ada gunanya juga disesali." ucap Lana. Tangannya terasa basah, Panji menangis.
"Maafkan aku yang telah mengecewakan kalian semua." Lana merasa tak tega saat mendengar ungkapan penyesalan dalam nada suara lelaki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
This Love
RomanceCinta itu bagaikan angin, tak pernah bisa diatur ke mana arahnya, ke mana dia ingin berlabuh. Kita tak pernah bisa mengatur hati kita untuk jatuh cinta kepada siapa. Lea tak pernah berpikir dalam hidupnya akan merasakan semua ini, merasakan sebuah p...
