3 tahun kemudian ....
Suara super berisik yang bersumber dari arah ruang tengah menambah ramai rumah mungil nan sederhana milik Lea dan Panji. Lea yang sudah siap dengan baju lengan panjang dan celana legging hitamnya bergegas untuk menuju keluar kamar. Ia sudah menyampirkan tas selempang hitam kecil dan tak lupa tas khusus yang berisi peralatan kedua anaknya. Dilihatnya sang putra yang sedang asyik mengacak-ngacak mainannya yang sudah berserakan di karpet ruang tengah dan sang putri yang tengah menangis dalam gendongan ayahnya. Ia menarik nafasnya sejenak, mencoba untuk tetap selalu bersabar. Ia pun menghampiri mereka.
"Neyna kenapa, Kak?" tanyanya kepada suaminya yang masih berusaha untuk menenangkan sang putri yang masih menangis histeris dalam gendongannya. Panji menolehkan wajahnya.
"Danish mukul kening Neyna pake mobil-mobilan kecilnya waktu Neyna ikutan menyentuh mainannya, jadi dia nangis." jelas lelaki itu membuat Lea menarik nafasnya lagi.
Ia mengalihkan pandangannya pada sang putra yang tetap asyik dengan mainan-mainannya tanpa merasa bersalah sedikit pun meski mendengar tangisan kencang sang adik. Putranya memang benar-benar... Ia pun menghampiri Danish dan berjongkok di dekatnya.
"Sayang...." panggilnya lembut.
Ia mencoba untuk tidak menumpahkan kekesalannya akan ulah putranya yang sudah membuat adiknya menangis. Batita yang sedang asyik dengan dunianya itu menolehkan wajahnya kepada sang ibu yang memanggilnya.
"Mama, Kakak ain obiy-obiyan!" ucapnya antusias sambil menunjukkan sebuah mainan mobil-mobilan kecil di tangan mungilnya. Lea tersenyum dan mengelus rambut hitam tebal sang putra.
"Dedek kenapa, sayang? Kata Ayah kamu udah mukul Dedek. Apa benar itu, sayang?" tanyanya lembut tanpa emosi sedikit pun. Danish menatap wajah ibunya sejenak.
"Dedek akal, uda lebut obiy Kakak." jelasnya tanpa raut bersalah sedikit pun. Lea menghela nafasnya. Ia harus memaklumi jika anak-anaknya masih begitu kecil dan belum paham.
"Tapi Dedek-nya jangan dipukul ya, sayang! Kasihan adeknya nangis. Kakak jangan gitu lagi, ya! Kakak mau kan minta maaf sama Dedek?" bujuknya lembut.
Danish terdiam sejenak, lalu mengangguk. Lea tersenyum, lalu ia menarik lembut tangan mungil putranya untuk berdiri dari duduknya dan menuntunnya untuk menghampiri Panji yang sedang menggendong putrinya yang kini tangisnya sudah tidak sekencang tadi, hanya menyisakan isakan-isakan kecil.
"Sekarang ayo Kakak minta maaf sama Dedek!" pinta Lea sambil menggenggam tangan mungil sang putra. Danish menatap wajah sang adik yang sembab oleh air mata yang membasahi wajahnya.
"Dedek, Kakak inta maf, yaa!" ucapnya dengan suara cemprengnya.
Neyna tidak menjawab dan memilih untuk menyandarkan kepalanya di dada bidang sang ayah masih dengan isakannya. Gadis mungil itu hanya menatap sang kakak yang nakal dengan tatapan datar. Lea dan Panji tersenyum. Ia tahu jika putranya tak akan setega itu dengan saudara kandungnya sendiri. Mereka memaklumi tingkah keduanya karena usia mereka yang masih begitu kecil dan belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sebisa mungkin mereka jangan sampai mengedepankan emosi dalam mendidik mereka.
"Yuk kita berangkat sekarang! Kakak mau jadi kan jalan-jalannya?" tanya Lea kepada putranya yang diangguki oleh bocah mungil itu.
"Yuk!" jawabnya antusias. Mereka tersenyum.
Lalu keluarga kecil itu bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan rumah mereka. Beginilah keseharian Lea dan Panji dengan kedua buah hati mereka. Telinga mereka sudah biasa direcoki dengan keributan-keributan kecil dan kehebohan malaikat-malaikat kecil itu. Meski begitu, mereka tetap senang dan bahagia melihat tumbuh kembang keduanya yang semakin baik setiap waktunya. Kekhawatiran-kekhawatiran itu tidak terbukti dan membuat mereka bisa menarik nafas lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
This Love
RomanceCinta itu bagaikan angin, tak pernah bisa diatur ke mana arahnya, ke mana dia ingin berlabuh. Kita tak pernah bisa mengatur hati kita untuk jatuh cinta kepada siapa. Lea tak pernah berpikir dalam hidupnya akan merasakan semua ini, merasakan sebuah p...
