"Kak...." Panggil Lea kepada suaminya begitu mereka sudah menjauh dari rumah orang tua suaminya dan berada di mobil. Panji menoleh.
"A-apa benar yang dikatakan Mama Siska tadi?" Tanyanya. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi. Apa ia suaminya bukanlah putra kandung wanita itu? Panji mengangguk.
"Benar. Ayah yang menceritakannya, dan Mama membenarkannya. Sudah jelas jika mereka tidak berbohong. Tak ada gunanya juga mereka membohongiku." Lea terdiam sejenak. Jujur saja, ini masih sulit dipercaya.
"Aku kaget banget saat denger berita itu, Kak. Wajah Kakak dan Ayah mirip, tak ada yang menyangka jika kalian ternyata bukanlah ayah dan anak kandung." Panji hanya tersenyum.
"Jangankan kamu, aku juga sama kagetnya. Aku juga masih tak percaya ini, tapi itulah kenyataannya." Ucapnya. Mungkin sudah menjadi takdir hidupnya harus seperti ini. Ia hanya bisa menerima.
"Jadi waktu Ayah manggil Kakak ke ruangannya untuk membicarakan itu?" Tebak Lea yang diangguki oleh Panji.
"Iya. Aku tak menyangka jika Ayah akan menceritakan hal itu. Aku sungguh terkejut luar biasa saat mendengar jati diriku yang sebenarnya." Ucapnya. Lea meneliti sejenak raut wajah suaminya.
"Bagaimana perasaan Kakak saat mendengar hal itu?" Panji menoleh sekilas dan tersenyum tipis.
"Entahlah, campur aduk. Sedih, marah, kecewa, ada bahagia juga. Semuanya tak bisa aku jelaskan. Sedih dan kecewa karena bertahun-tahun mereka menyembunyikan rahasia sebesar ini tentang jati diriku, tak menyangka jika kelahiranku akan membawa tragedi kematian kedua orang tuaku. Aku tak pernah melihat mereka seumur hidupku selain dari foto." Ucapnya sedih dengan mata berkaca-kaca. Lea ikut sedih melihat suaminya, dan ia tak bisa membayangkan jika seandainya ia ada di posisi Panji. Ia mengelus lembut lengan suaminya.
"Kakak jangan menyalahkan diri sendiri. Semuanya sudah takdir Tuhan, Kak. Mereka meninggal bukan karena Kakak, tapi karena sudah waktunya Tuhan mengambil mereka dari sisi kita." Ucapnya menenangkan. Panji hanya terdiam, fokus lurus ke depan.
"Kakak harus berterima kasih kepada ibunya Kakak yang sudah mengorbankan nyawanya demi memberi Kakak kesempatan hidup. Untuk itu, Kakak harus menggunakan kesempatan hidup yang singkat ini dengan sebaik-baiknya. Buat orang tua Kakak bangga, sehingga mereka bisa tenang di atas sana melihat Kakak bahagia dengan hidup Kakak. Jangan sia-siakan pengorbanan ibu Kakak!" Nasihatnya yang membuat Panji tersenyum. Ia meraih sebelah tangan istrinya dan menggenggamnya.
"Iya, sayang. Bersabarlah, sebentar lagi kita akan bebas bersama tanpa ada yang menghalangi lagi. Semuanya sudah jelas, kita bukanlah saudara kandung. Ikatan sepupu masih membuat kita bisa bersama."
Lea tersenyum mendengar ucapan meyakinkan suaminya. Semoga saja setelah ini tidak akan ada lagi rintangan yang menghalangi jalan mereka untuk menemukan kebahagiaan keluarga kecil mereka.
***
Sudah 2 hari ini istrinya mengacuhkannya. Akmal benar-benar frustasi. Lana terus menghindar dan berbicara seperlunya membuatnya kehilangan topik pembicaraan, tak tahu harus memulai dari mana. Ia sudah benar-benar tak tahan lagi. Ia tak bisa jika terus seperti ini dengan istrinya. Malam-malamnya terasa dingin dan hampa tanpa istrinya di sampingnya. Ia membuka pintu kamarnya dan dilihatnya istrinya sedang memakai krim di wajahnya di depan cermin. Dihampirinya istrinya.
"Sayang...." Panggilnya yang membuat Lana menghentikan aktivitas mengoleskan krim ke wajahnya sejenak. Wanita itu menolehkan wajahnya sekilas ke arah suaminya.
"Hmm?" Hanya gumaman yang menjadi jawabannya. Akmal menghela nafasnya. Istrinya masih marah sepertinya.
"Sampai kapan kamu akan terus marah kepadaku, sayang? Aku minta maaf padamu." Ucapnya lelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
This Love
RomanceCinta itu bagaikan angin, tak pernah bisa diatur ke mana arahnya, ke mana dia ingin berlabuh. Kita tak pernah bisa mengatur hati kita untuk jatuh cinta kepada siapa. Lea tak pernah berpikir dalam hidupnya akan merasakan semua ini, merasakan sebuah p...
