Begitu sampai di ruangan tempat favorit mereka menghabiskan waktu, Lana mengerutkan keningnya heran saat melihat suaminya yang tengah duduk termenung sendirian di sofa. Mengingat raut wajah Panji tadi saat berpapasan dengannya, ia yakin bahwa mereka sedang terlibat masalah. Ia berjalan menghampiri suaminya dan meletakkan nampan yang berisi dua gelas sirup yang tadinya sengaja ia buat untuk suami dan putra tirinya di meja, lalu ikut bergabung bersama suaminya di sofa. Ia menatap sejenak raut wajah suaminya.
"Mas, kamu kenapa? Kalian tidak ribut kan tadi?" tanya Lana yang sudah penasaran dengan apa yang terjadi dengan suami dan putra tirinya. Ia hanya menduga dari raut wajah mereka yang kurang bersahabat. Akmal menatap istrinya sekilas, lalu menggeleng.
"Seharusnya aku menceritakan semua ini dari dulu." ucapnya yang membuat Lana mengerutkan keningnya tak mengerti. Ia tak paham maksud ucapan suaminya.
"Maksudnya apa, Mas? Kalian sedang ada masalah apa sebenarnya?" tanyanya.
Akmal menarik nafasnya sejenak, dan ia siap dengan reaksi istrinya setelah ini. Semuanya sudah terlanjur. Ia mengubah posisinya menghadap sang istri yang menatapnya tak sabar. Mungkin setelah ini Lana akan marah, tapi tak apa. Ia tak ingin terus menyimpan rahasia dari orang-orang di sekitarnya dan akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja jika ia terus mempertahankan hal yang seharusnya diketahui dari dulu.
"Aku menyimpan sebuah rahasia sebelum kita menikah dan mempunyai anak, bahkan jauh sebelum kita bertemu. Maafkan aku yang baru berani untuk jujur akan hal ini." ucapnya yang membuat jantung Lana seketika berdegup kencang.
Rahasia? Suaminya menyimpan sebuah rahasia? Rasa gelisah dan takut mulai menyerangnya. Ia berpikir mungkin saja suaminya pernah menjalin sebuah hubungan dengan seorang wanita di masa lalu dan belum tuntas sampai sekarang. Atau suaminya memiliki anak di luar nikah hasil hubungannya dengan wanita masa lalunya? Ia menggelengkan kepalanya, mengusir berbagai pikiran negatif itu. Ia yakin suaminya tak seperti itu.
"Rahasia apa, Mas?" tanyanya dengan hati tak tenang. Pikiran-pikiran itu masih mengganggunya. Ia harap-harap cemas menanti jawaban suaminya. Akmal terlihat menghela nafas.
"Sebenarnya selama ini..., Panji bukanlah putraku dan Siska."
Hening sejenak. Lana membulatkan matanya tak percaya. Ia terkejut bukan main. Apa ia tak salah dengar? Rasa takut dan gelisah yang dirasakannya tadi langsung lenyap berganti rasa ingin tahu. Apakah suaminya tidak sedang bercanda?
"P-Panji bukan anakmu...? Mas gak lagi bercanda, 'kan?" tanyanya memastikan bahwa ia tak salah dengar. Akmal menggeleng dan wajahnya terlihat serius. Lana yakin suaminya tidak sedang bercanda.
"Aku serius. Aku minta maaf baru jujur akan hal ini kepadamu sekarang. Aku juga baru memberitahukan hal ini kepada Panji sekarang, dan sudah aku duga dia pasti sangat syok. Ini memang salahku yang terus memilih untuk menyembunyikan rahasia ini dari semua orang. Aku sudah menduga, cepat atau lambat semuanya pasti akan terbongkar." Lana masih terdiam. Ia masih tak percaya semua ini.
"Rahasia sebesar ini kamu sembunyikan selama bertahun-tahun lamanya. Lamanya kita membangun rumah tangga ternyata tak menjamin aku mengenal semuanya tentang dirimu, Mas. Kamu anggap aku apa selama ini?!" ucap Lana dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
Tak bisa dipungkiri jika ia kecewa dengan suaminya. Ia adalah pasangannya dan mereka sudah saling mempercayakan diri. Tidak ada rahasia apa pun selama ini yang ia sembunyikan dari suaminya, tapi apa yang dilakukan suaminya? Akmal langsung panik dan mencoba untuk meraih bahu istrinya, tapi Lana menghindar.
KAMU SEDANG MEMBACA
This Love
RomantikCinta itu bagaikan angin, tak pernah bisa diatur ke mana arahnya, ke mana dia ingin berlabuh. Kita tak pernah bisa mengatur hati kita untuk jatuh cinta kepada siapa. Lea tak pernah berpikir dalam hidupnya akan merasakan semua ini, merasakan sebuah p...
