"Kamu habis dari mana? Kok baru pulang, di café tidak ada. Aku telpon juga tidak diangkat," tanya Ocha saat aku duduk di sofa depan TV.
Aku menoleh sesaat. "Pantai. Aku lagi suntuk, beban pikiranku sudah menumpuk," sahutku. Aku meluruskan kaki ke atas meja.
"Yakin? Apa ada hubungannya dengan pertanyaanmu semalam?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
"Aku hanya ingin tahu tempat yang bisa membuat pikiran tenang sesaat. Bukankah orang patah hati juga membutuhkan seperti itu? Sama-sama butuh tempat untuk menenangkan pikirannya."
"Yara juga tidak masuk hari ini. Katanya dia tukar jadwal dengan Laras. Karena, dia sedang patah hati. Laras cerita denganku. Apa itu yang kamu liat di cctv? Untuk memastikan keadaan Yara? Ada apa antara kalian berdua?" cecarnya tanpa henti.
"Kebetulan saja. Aku memang melihat mantan Yara itu keluar dari café dengan perempuan lain dan terlihat mesra. Aku melihat cctv hanya untuk memastikan tidak ada keributan yang terjadi. Kamu tahu sendiri bagaimana perempuan kalau melihat pasangannya selingkuh di depan matanya. Tapi, untungnya tidak ada keributan atau setidaknya itu yang aku lihat. Kita tidak menerima laporan ada keributan kan kemarin?" jelasku.
"Iya sih. Aku pernah melihat perempuan yang berantem gara-gara memperebutkan laki-laki yang saat melihatku dia malah tersenyum genit ke arahku. Untung tuh perempuan tidak melihat, bisa-bisa aku kena sasaran amukannya juga," ceritanya sambil bergidik ngeri.
"Untungnya Yara sepertinya tidak termasuk tipe cewek yang begitu," sahutku sembari menguap, "aku ngantuk. Aku tidur duluan, ya," ucapku seraya bangkit dari dudukku dan mencium kening Ocha.
"Ya tidurlah sana."
Setelah selesai mandi aku beranjak ke tempat tidur. Aku lihat banyak missed calls dari Ocha, ada e-mail dengan alamat yang tidak aku kenal. Ah, mungkin email spam tidak jelas. Abaikan sajalah, lebih baik aku segera tidur.
***
"Kalian benar-benar putus?" tanya Mbak Ningsih. Kami duduk di kamarku sepulangku dari cafe sambil ngemil. "Dia benaran selingkuh?"
"Iya. Tidak usah keras-keras ah ngomongnya, nanti terdengar orang lain. Bikin malu saja," sahutku sembari menyandarkan punggungku ke tembok kamar, "dia pacaran dengan Yulia, teman sekelasnya, salah satu dari gerombolan makhluk berisik itu. Dia memang sudah lama sih naksir Dafa," imbuhku.
"Kamu tidak patah hati? Sakit hati, marah, kecewa, sedih, atau apa gitu."
"Ya pastilah. Aku merasakan semua itu, campur aduk semuanya. Tapi, aku yakin akan ada seseorang yang mencintaiku tanpa mudah tergoyahkan dan akupun begitu. Mungkin aku memang tidak pantas untuk berada di sisinya," sahutku sambil tersenyum.
"Dia yang tidak pantas buatmu. Dia sudah sia-siakan orang sebaik kamu."
"Mbak mau jadi pacarku?"
"Heh!" tukasnya seraya menoyor kepalaku, aku tertawa kecil sambil bilang cuma bercanda.
"Aku tidak sebaik itu. Aku tidak bisa kasih dia waktu untuk menjalani hubungan layaknya orang yang pacaran. Aku sibuk dengan kuliah, tugas, kerja. Mbak tahu kan kalau aku harus wisuda tahun depan."
"Ya sudah, mungkin ini jalan yang terbaik buat kalian. Kamu bisa jadi lebih fokus lagi dengan kuliah dan kerjamu."
"Iya. Mbak, kemarin kan aku pergi dengan Rain. Dia mengajakku ke pantai untuk menghiburku yang sedang patah hati ini." Aku ceritakan semua yang terjadi kemarin. Aku merasa bahagia dan lega di saat bersamaan ketika menceritakannya.
"Pantas saja kamu sudah menghilang pagi kemarin padahal kan kamu tidak ada jadwal kuliah. Eh, Rain perhatian sekali, ya, sama kamu. Segala mengajakmu ke pantai cuma untuk menghiburmu yang tak seberapa ini," tukasnya dengan kalimat penutup yang menyebalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Back To You (GxG)
General FictionPeringatan : Tidak disarankan untuk yang emosian 😈 Endingnya takkan seindah khayalan. Ngasih tau aja sih 🤣 Yang penasaran dengan cerita masa SMA dari dua tokoh di cerita ini bisa baca karya berjudul Denial. ➷ 29 Juli 2017 ➹ 1 Februari 2019
