Albi berangkat sekolah duluan, sementara Ibunya akan berangkat nanti jam 9. Dia melihat Cana yang baru sampai di pintu gerbang. Pandangannya terfokus pada sesosok benda mungil yang tergantung ditas punggung gadis itu. Albi tersenyum lalu berjalan melewatinya.
"Pagi Cana," sapa Albi.
"Pa-pagi Kak," sapa Cana balik sedikit gugup.
"Duluan ya," ucap Albi.
"Iya," sahut Cana balik. "Eh Kak Albi!" panggil Cana membuat cowok itu langsung menoleh. "Makasih buat hadiahnya."
"Hadiah yang mana dulu nih?" goda Albi balik.
Cana langsung terkesiap. "D-dua-duanya," sahut Cana.
Albi langsung tersenyum. "Sama-sama. Awas ya jangan sampai hilang," ancam Albi sambil tertawa kecil. Cana hanya mengangguk dan tersenyum, sementara Albi segera berjalan kembali menuju parkir sepedanya.
"Apa'an sih kok aku nggak tahu? Kak Albi kasih apa?" interogasi Naya.
"Rahasia!" sahut Cana.
"Dih, gitu sama temennya," kesal Naya.
Penerimaan rapot pun selesai. Para orang tua tampak keluar dari ruangan, dan para siswa segera menghampiri orang tua mereka dengan penasaran melihat hasil di rapot mereka.
Hanya Bundanya Albi yang masih ada di dalam ruangan, dan sepertinya sedang berbincang dengan guru walinya. Albi terlihat sedikit gelisah.
"Bunda sedang membicarakan apa ya dengan Bu Ratih? Nggak mungkin kan, masa laluku terbongkar terus Bu Ratih menginterogasi Bunda," panik Albi dalam hati.
Tidak berapa lama Bundanya keluar.
"Bunda kok lama keluarnya? Apa ada masalah dengan nilai Albi?" tanya Albi khawatir.
"Nggak kok sayang. Bunda ada sedikit urusan dengan Bu Ratih untuk beasiswamu ke Jerman, makanya Bunda konsultasi dengan beliau. Nanti Bunda ceritakan di rumah ya," ucap Bunda menenangkan. "Selamat ya sayang, kamu dapat juara I lagi," ucap Bunda sambil memberikan rapot pada Albi. Albi hanya mengangguk dan mengambil rapot lalu mengeceknya.
"Lhoh, ada Bu Lina. Bu Lina juga ngambil rapot punya Albi?" ucap Bu Nia yang datang bersama Cana di belakangnya.
"Iya, soalnya Ayahnya ngambil rapot punya Alya. Jadi bagi tugas," sahut Bu Lina. "Oh iya Bu, makasih ya selalu dibonusin kue tiap pesan. Kuenya enak lho."
"Sama-sama Bu. Soalnya Bu Lina kalau pesan juga banyak, selalu langganan lagi, jadi selalu saya tambahkan," ujar Bu Nia.
"Oh ya, pulang bareng saja sekalian bagaimana?" tawar Bu Lina.
"Boleh," jawab Bu Nia.
"Bunda, Albi pulang belakangan ya, soalnya masih pengen di sekolahan," pinta Albi.
"Oh ya sudah. Cana pulang bareng Albi saja sekalian nanti," suruh Bu Lina.
"Iya Tante," sahut Cana.
"Ya sudah, Ibu Pulang ya," pamit Bu Nia. Baik Cana dan Albi hanya mengangguk dan para Ibu itu segera pergi.
"Jadi, mau pulang berdua denganku nih?" goda Albi.
"Ih, apaan sih Kak Albi? Nggak jadi deh kalau gitu," kesal Cana.
"Haha, iya iya. Bercanda doang," tawa Albi lalu mengajak Cana ke taman. "Suka dengan hadiahnya?" tanya Albi.
Cana langsung mengangguk dengan senyum mengembang di wajahnya, dan tanpa sadar Albi menatapnya terus. Dia senang saat melihat gadis itu tersenyum dan tersipu malu. Sangat manis.

KAMU SEDANG MEMBACA
For You [END]
Teen FictionDulu, aku hanya mampu menatapmu dari kejauhan. Kini aku bisa berdiri di sampingmu, tapi aku tidak pernah mampu menyatakan perasaanku. Aku takut menyakitimu. [Albi] Dulu, aku tidak pernah berani mendekatimu. Aku menyukaimu, tapi aku hanya mampu menat...