BUK!!! BRUAK!!!
Kecelakaan itu tidak terhindarkan. Entah apa yang terjadi, tapi ketiganya sudah terkapar dijalan bersama kedua sepeda motornya. Tidak ada siapapun di sana selain mereka bertiga karena Erga dan yang lainnya menunggu di garis finish, tempat mereka memulai start tadi.
Albi membuka matanya pelan-pelan. Samar-samar di kejauhan dia melihat Ray terbaring. Albi segera membuka matanya lebar-lebar setelah berhasil mengambil kesadarannya kembali secara utuh. Dia merasakan sakit di tangan kirinya yang ternyata tertindih sepeda motor, tapi dia tetap memaksa menariknya cepat.
"Ray!" teriak Albi dan segera berlari menghampirinya. "Ray, kamu baik-baik saja?" panik Albi menyadari Ray membuka matanya. Dia sudah tidak mempedulikan tangannya yang berdarah.
"Aku baik-baik saja Bodoh!" sahut Ray lalu berusaha untuk duduk walau badannya terasa lumayan sakit terutama di bagian kakinya. Sementara lawan Albi juga mulai tersadar.
Tidak berapa lama suara sirine mobil polisi terdengar di kejauhan. Semuanya mulai panik, begitupun dengan lawan Albi yang segera berdiri untuk kabur dengan setengah tertatih menuju ke motornya. Albi yang menyadari langsung menghadangnya dan memberinya tendangan tepat di perut. Cowok itu langsung tersungkur kembali.
Ray berusaha bangun, namun usahanya gagal karena sakit yang teramat sangat di kakinya. Dan Albi melihat itu.
"Jangan coba-coba lari! Kamu yang memulai ini duluan! Aku akan membalasmu setelah ini!" marah Albi. Setelah Albi memastikan dia tidak bisa melarikan diri lagi, Albi kembali ke tempat Ray.
"Ray, kakimu sakit?" panik Albi. Ray tidak menyahut.
"Pergilah Al, kamu masih bisa bergerak. Jangan sampai tertangkap polisi," suruh Ray.
"Dan membiarkanmu di sini?!" marah Albi. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. "Ayo sembunyi," Albi langsung memapah Ray menuju ke arah semak pepohonan yang rimbun dan tempatnya sangat strategis untuk bersembunyi.
Lawan Albi masih berusaha mati-matian untuk bangun walaupun masih cukup kesulitan.
Albi segera mendudukkan Ray di bawah pohon itu.
"Kakimu... apa itu sangat sakit Ray?" tanya Albi setengah khawatir.
"Jangan pedulikan aku dasar bodoh! Pikirkan dirimu juga, lengan kiri dan kepalamu berdarah!" kesal Ray.
"Aku baik-baik saja," ucap Albi lalu mengambil ponselnya yang baru saja berbunyi. Dia terlihat sangat terkejut melihat isi sms di dalamnya.
"Ada apa?" tanya Ray. Namun Albi tidak menjawab, dia malah mengambil ponsel Ray dan mengetikkan sesuatu di sana dengan cepat.
"Aku sudah menghubungi Erga. Kalau ada apa-apa telpon dia langsung," ujar Albi sambil menaruh ponsel di pangkuan Ray.
"Tunggu Al! Kamu mau kemana?!" teriak Ray saat menyadari Albi hampir pergi.
"Kakimu sakit kan Ray? Aku tidak yakin kita bisa kabur bersama. Aku memberitahu situasi kita di sini. Erga akan datang menolongmu diam-diam," ujar Ray.
"Kamu ini bodoh atau bagaimana huh?! Kamu bisa tertangkap jika keluar lagi! Bersembunyilah di sini!" marah Ray.
"Motorku masih di sana. Meskipun aku bersembunyi, polisi akan tetap tahu dengan melacak pemilik motornya. Tenang saja, aku akan berusaha melarikan diri dengan motorku sekarang," ucap Albi menenangkan Ray.
"Tapi polisi sudah semakin dekat! Tidak mungkin kamu bisa pergi!" tahan Ray.
"Ray, aku punya satu permintaan. Kalau nanti anak-anak menanyakanku, bilang saja aku kabur. Jangan bilang kalau aku tertangkap," pinta Albi yang lagi-lagi tersenyum lalu benar-benar melangkah pergi.

KAMU SEDANG MEMBACA
For You [END]
Teen FictionDulu, aku hanya mampu menatapmu dari kejauhan. Kini aku bisa berdiri di sampingmu, tapi aku tidak pernah mampu menyatakan perasaanku. Aku takut menyakitimu. [Albi] Dulu, aku tidak pernah berani mendekatimu. Aku menyukaimu, tapi aku hanya mampu menat...