29

400 36 36
                                        

"Mau?" Mion menawarkan segelas kopi indocafe mix yang dibuatnya berlebih. Tadinya dia bikin buat kakak kelasnya yang emang pada mau begadang tapi gak mau mabu, makanya pada minta kopi.

Techi lalu berucap, "Gue gak suka kopi saset, gula semua isinya takut diabetes."

Sementara Kage langsung menerimanya dengan senang hati, begitu ditawarin. Dia punya alasan kuat nerima kopi itu karena enggak mau minuman yang sekarang botolnya lagi di buka.

"Yaudah ini aja." Aayan menyerahkan sebotol minuman bergambar orang tua yang tutupnya udah kebuka.

"Ini diminum semua sekaligus? Dari sini langsung?" Tanya Techi.

"Kagak lah gila." Sahut Kage sebelum benar-benar nyeruput kopi.

Techi kemudian mendekatnya hidungnya ke ujung botol yang terbuka, "Enak sih baunya, bersahabat."

"Gelasnya mana ini?!" Sungut Aayan.

"Sabar kek anjing lagi dibawain!" Balas Rikatii gak kalah ngegas.

Dari arah tangga ada Rei yang bawa tiga gelas bening yang kosong. "Nih." Ucapnya.

"Tuang aja nih?" Kata Techi, "Segimana? Segini?" Tanyanya sambil nuang secara hati-hati cairan berwara keunguan gelap itu.

"Terserah sih lo maunya segimana." Timpal Rikatii.

Semua orang yang disana ngeliatin Techi yang mulai nuang, mereka biarin dia ngisi hampir setegah gelas.

"Minum nih?"

"Sok atuh dicoba." Celetuk Mion.

Pertama kali, Techi cuma nyicip dulu enggak langsung ditegak, dikulumnya sebentar, diecapnya di lidah. "Kaya obat batuk ya, pait gitu tapi ada manisnya."

"Enak gak?" Tanya Aayan.

"Enak kok, tapi agak pait."

"Pait ya kaya hidup. Tapi dengan lo minum ini, lo juga bisa tau kalo hidup itu enggak cuma pait, tapi juga bisa puyeng."

"Duh dia mana ngerti anyeng." Sindir Momorun. "Hidup dia mah dari sperma udah manis banget."

Meskipun Techi gak ngerti, dia akhirnya neguk semua sisa yang ada di gelas, sekaligus. Baru deh tenggorokannya mulai terasa menghangat, dan perlahan-lahan panas. Lamat-lamat keringat pun muncul.

"Ini tuh herbal ya? Badan gue jadi anget gini."

"Iya, makanya kadang kita bisa liat yang kaya gini dijual di toko jamu gitu." Jelas Aayan. "Udah minum lagi aja. Bagus loh buat badan, melancarkan peredaran darah."

Kage ngeliatin sambil megang gelas kopinya yang masih panas. Sebulan yang lalu waktu kumpul-kumpul dimana Techi malah sibuk sendiri misah darinya, dia juga nyicip tapi enggak bilang ke Techi. Gak sampe mabu sih karena ketakutannya lebih dominan waktu itu, jadi cukup nyobain aja.

Sebotol minuman berahkohol itu pelan-pelan mulai habis. Semuanya menikmati, kecuali Kage —karena dia gak mau— dan Rei yang emang bertugas nyetir hari ini, harus sadar dong gaboleh oleng.

Semuanya tenggelam dalam keheningan untuk beberapa saat, menikmati tubuh yang menghangat karena minuman tadi.

"Lo tuh emang sekaya itu ya." Celetuk Mion random. Entah ke Techi entah ke Kage.

"Enggak, kita mah biasa aja ya." Jawab Kage, pandangannya menoleh kw Techi yang mengangguk mengamini.

"Masih ada langit." Racau Techi.

"Kalo kalian bilang biasa aja, kita apaan? Miskin dong anying." Seru Rikatii. "Padahal buat ukuran sekolah biasa kita udah elit, sekolah lu sultan dong?"

YOLO!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang